DPW DKI Jakarta dan Depok

Abu Dzar Masuk Islam [1] AL HUNAFA’

Oleh Ust. Murtadha Ibawi

0 355

 

Majelis Tadarus Sirah Part 119

Para pemimpin Quraisy melakukan segala daya upaya untuk membendung dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka berusaha menutup rapat-rapat, jangan sampai ada celah. Jangan sampai berita tentang Islam dan kenabian itu di dengar oleh orang di luar Makkah.

Kepada jama’ah haji yang berdatangan, mereka berusaha membelokkan informasi. Mereka sebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu tukang sihir, itu orang gila, itu hanya penyair, dan seterusnya.

Masih ingat dengan apa yang dilakukan Abu Lahab ‘kan?

Namun, wanginya Islam tetap saja tercium. Oleh orang dekat, orang jauh, orang Makkah, luar Makkah, semuanya. Sebusuk apapun Islam dicitrakan, bagi mereka yang fitrahnya masih suci akan mampu mencium aroma itu.

Orang-orang ‘hanif’, para pencari kebenaran seperti ini disebut ‘al hunafa’. Jumlah mereka tidak banyak. Bisa dihitung jari mungkin. Di Makkah ada empat nama diantaranya, Waraqah bin Naufal, Zaid bin Amru bin Nufail, ‘Utsman bin Al Huwairits, dan Ubaidullah bin Jahsy.

Waraqah bin Naufal sepupu Khadijah adalah salah satunya. Waraqah memilih masuk agama Nasrani. Ia bukan sekedar tekun belajar, bahkan bisa dibilang ia adalah salah satu ulamanya. Waraqah bahkan menyalin Injil dan menulis buku-buku Nasrani. Ia tulis bukan dengan bahasanya sendiri, tapi dengan bahasa Ibrani.

Waraqah sempat beriman ketika ia didatangi Khadijah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bebrapa saat setelah turunnya wahyu. Tidak lama setelah itu ia meninggal.

Tidak sebagaimana Waraqah, Zaid bin Amru bin Nufail tidak memilih Nasrani, tidak pula Yahudi. Namun ia memilih tetap hanif berpegang pada tauhid. Zaid bin Amru wafat sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diangkat menjadi Nabi.

Zaid bin Amru berdo’a kepada Allah agar kelak anaknya menjadi pengikut Nabi yang telah dikabarkan para Ahlul Kitab. Allah pun kabulkan do’anya. Putranya, Sa’id bin Zaid radhiyallahu ‘anhu bahkan menjadi salah satu dari sepuluh shahabat yang dijamin masuk surga.

‘Utsman bin Al Huwairits, ia mengembara ke negeri Romawi lalu menjadi pengikut agama Nasrani. Kabarnya disana ia diberi jabatan yang bagus oleh penguasa Romawi.

Satu lagi, ‘Ubaidullah bin Jahsy. Ia sempat beriman. Bukan sekedar masuk Islam, bahkan ia turut hijrah ke Habasyah. Namun setelah tinggal beberapa lama di negeri orang, ia murtad. Ia beralih menjadi Nasrani.

Istrinya, Ummu Habibah yang tak lain adalah putri dari Abu Sufyan, kemudian dinikahi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau menikahinya ketika masih di Habasyah. Najasyi yang menjadi walinya. Ummu Habibah yang ditinggal murtad oleh suaminya justru sejak saat itu dimuliakan dengan status baru sebagai ‘Ummul Mu’minin’.

Jundub bin Junadah namanya. Orang memanggilnya Abu Dzar. Pemuda dari perkampungan Bani Ghifar. Perkampungan yang tidak asing di telinga kafilah-kafilah dagang para saudagar Quraisy.

Abu Dzar Al Ghifari nun jauh disana mendengar pula berita sayup-sayup. Tentang seorang ‘sayyid’ keturunan Quraisy yang mengaku dirinya nabi. Benarkah? Konon, ajarannya sama dengan apa yang selama ini ia yakini.

Abu Dzar bukan Nasrani. Bukan pula Yahudi. Dia sama sekali tidak pernah bersentuhan dengan kitab suci. Namun, fitrahnya itu yang tetap suci. Abu Dzar adalah salah satu hunafa’ yang tinggal di luar Makkah.

Saat kebanyakan bangsa Arab tenggelam dalam kemusyrikan, dia tidak. Saat kebanyakan orang menuhankan kayu dan batu, ia menuhankan pencipta kayu dan batu-batu itu. Ia hanya menyembah Rabbul ‘Alamin, pencipta alam semesta.

Bahkan Abu Dzar telah mengerjakan shalat. Jauh sebelum bertemu dengan baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sudah tiga tahun lamanya.

Bagaimana tata cara shalatnya? Kemana menghadapnya? Ia hanya mengikuti apa Allah ilhamkan untuk ia kerjakan. Imam Muslim mengabadikan kenangannya itu di dalam kitab Shahih-nya.

“Wahai putra saudaraku, aku ini telah mengerjakan shalat selama tiga tahun sebelum aku bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam..”

“Shalat menyembah siapa?”

“Allah..”

“Kemana engkau menghadap waktu itu?”

“Aku hadapkan wajahku kemana saja Rabbku menghadapkannya. Aku memulai shalatku di waktu isya’ hingga malam berakhir. Lalu aku terkulai seperti pakaian, hingga matahari meninggi..”

Itu awal ketika Abu Dzar menceritakan tentang keyakinanya kepada saudaranya, Unais.

Tak puas hanya mendengarkan kabar angin. Ia ingin memastikannya sendiri. Ia titip pesan kepada Unais, saudaranya yang hendak datang ke Makkah.

“Tolong engkau cari tahu lah siapa itu yang mengaku menjadi Nabi. Temui dia. Aku menanti kabar darimu..”

[bersambung]

✍🏼
Murtadha Ibawi
Majelis Tadarus Sirah

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: