DPW DKI Jakarta dan Depok

Abu Dzar Masuk Islam [2] ASSALAMU’ALAIKA YAA RASULALLAH

Oleh : Ust. Murtadha Ibawi

192

 

Majelis Tadarus Sirah Part 120

Cukup lama ia menghitung hari. Tidak sabar ingin mendengar kabar dari Unais yang dimintanya mencari tahu tentang Sang Nabi ‘alaihis shalatu wassalam.

“Berita apa yang engkau bawa?” itu pertanyaannya ketika pertama bertemu dengan Unais, saudaranya yang baru kembali dari Makkah.

“Lelaki yang kutemui itu, ia beragama seperti caramu beragama. Dia mendaku bahwa Allah mengutusnya sebagai rasul.”

“Apa kata orang-orang di disana?”

“Mereka menyebutnya penyair. Ada juga yang menuduhnya dukun. Ada juga yang mengatakan ia tukang sihir..”

Unais, saudara Abu Dzar adalah seorang penyair. Bisa dibilang, para penyair di masa itu adalah kalangan intelektual. Mereka adalah orang-orang cerdas. Sangat faham tentang apa dan bagaimana sastra Arab. Maka ketika orang-orang Makkah menyebut Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam adalah penyair, Unais memiliki penilaiannya sendiri.

“Mereka bilang dukun. Kita tahu lah bagaimana para dukun itu. Itu bukan kata-kata dukun. Mereka bilang sya’ir. Itu juga bukan sya’ir. Demi Allah..! Dia berada di atas kebenaran dan orang-orang Makkah itulah yang berdusta.”

Itu penilaian Unais. Penyair, mana bisa dibohongi soal sya’ir? Dari pertama kali mendengar saja ia langsung tahu, mana sya’ir dan mana bukan sya’ir. Ibarat penjual emas, lihat sekilas saja langsung tahu mana emas asli mana yang imitasi.

Sama halnya para penyihir Fir’aun dulu. Mereka paling tahu ‘dapur’-nya sihir. Maka mereka juga langsung tahu, yang dibawa oleh Nabi Musa itu jelas bukan sihir.

“Kalau begitu, aku akan berangkat. Aku ingin bertemu sendiri dengannya,” Itu tekad Abu Dzar.

“Hati-hatilah disana. Orang-orang Makkah membenci dan memusuhinya,”

Hanya membawa kantong air, bekal seadanya, dan tongkat di tangan berangkatlah Abu Dzar. Cermin bening di hatinya sudah tidak sabar ingin memindai cahaya hidayah dari Sang Nabi.

Ia pegang betul kata-kata Unais: hati-hati. Maka setiba di Makkah Abu Dzar tidak langsung bertanya-tanya mana Sang Nabi.

Sudah bukan rahasia lagi, bahwa orang-orang Makah memusuhi bukan hanya Sang Nabi tapi siapapun yang menjadi pengikutnya.

Ia masuk ke Masjidil Haram, berdiam, dan mengamat-amati. Mana orang yang disebut-sebut sebagai nabi itu? Sesekali ia meminum zamzam. Dalam sebagian riwayat disebutkan, Abu Dzar tidak makan apapun selain zamzam saja. Air penuh berkah, yang menghilangkan haus dan laparnya sekaligus.

Seorang pemuda tampan menghampirinya ketika malam menjelang. Ali bin Abi Thalib rupanya.

Bagi Ali, tidak sulit untuk mengenali bahwa yang ada di hadapannya adalah orang asing. Ini pasti musafir. Kalau orang Makkah, hampir bisa dipastikan Ali bin Abi Thalib mengenalnya.

Bagi orang Makkah, terutama yang tinggal di sekitar Masjidil Haram, melihat orang asing adalah pemandangan biasa. Memberi tumpangan menginap bagi tamu-tamu Allah juga sepertinya biasa mereka lakukan.

Setelah bertanya sekedarnya, Ali bin Abi Thalib memepersilahkan Abu Dzar menumpang malam itu.
“Tuan, silahkan menginap di rumah saya, mari..”

Ali bin Abi Thalib tidak banyak bertanya, apa keperluan musafir ini datang ke Makkah. Sudah mafhum, biasanya orang datang ke Makkah kalau tidak berdagang ya mau beribadah ke Baitullah.

Keesokan harinya, Abu Dzar berdiam lagi di Baitullah. Seharian, dari pagi hingga menjelang malam.

Ali bin Abi Thalib yang rumahnya tak jauh dari Ka’bah, menghampirinya lagi. Kembali dipersilahkannya musafir itu menginap untuk kali kedua. Sama, keduanya tidak banyak bertanya.

Keesokan harinya, lagi-lagi sama. Abu Dzar berdiam di Masjidil Haram. Hingga sore. Hingga malam tiba.

Lagi-lagi Ali bin Abi Thalib menghampirinya. Lagi, dipersilahkannya sang musafir menginap untuk malam yang ketiga.

Tiga hari berturut-turut, tidak kemana-mana, hanya berdiam di Masjidil Haram. Apa sebetulnya maksud kedatangan orang ini ke Makkah? Ali bin Abi Thalib malam itu tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.

“Wahai tuan, bolehkah aku tahu apa sebetulnya keperluan tuan datang kesini?”

“Kalau engkau berjanji siap merahasiakannya, aku akan beritahukan kepadamu.”

“Baiklah.”

“Aku mendengar kabar bahwa ada seorang laki-laki di Makkah ini, yang mendakwakan dirinya adalah nabi. Aku telah mengutus saudaraku beberapa waktu yang lalu untuk mencari tahu. Sekarang aku ingin memastikannya sendiri.”

Wajah Ali berbinar-binar, “Benar, engkau benar.. Dia benar-benar utusan Allah. Dia adalah seorang yang.. Dia…” Ali bin Abi Thalib menceritakan tentang Nabi yang dimaksud oleh Abu Dzar.

“Besok, ikutilah aku, berjalanlah di belakangku. Jika ada sesuatu yang mencurigakan, aku akan memberi tanda. Aku akan berhenti dan berpura-pura menuangkan air. Kalau aku jalan lagi, ikuti aku lagi. Jika aku memasuki sebuah rumah, nanti ikut masuk saja.”

Abu Dzar melewati malam itu dengan penuh kerinduan. Semakin tidak sabar, esok akan bertemu Nabi yang selama ini dicari.

Esoknya, Abu Dzar mengikuti Ali bin Abi Thalib, seperti rencana semalam sambil menjaga jarak. Hingga betul-betul tiba di rumah itu.

Abu Dzar masuk, lalu mengucapkan salam penghormatan pertama yang dikenal dalam Islam, “Assalaamu’alaika yaa Rasuulallah…”

“Wa’alaika salaamullahi warahmatuhu wa barakaatuh..,” jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Perjumpaan yang membahagiakan. Setelah panantian panjang. Setelah perjalanan dan perjuangan yang meletihkan.

Abu Dzar adalah orang pertama yang mengucapkan salam. Salam khas Islam. Yang hingga kini kita kenal. Bahkan kelak juga menjadi salam penghormatan penduduk surga.

(bersambung)

✍🏼
Murtadha Ibawi
Majelis Tadarus Sirah

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: