DPW DKI Jakarta dan Depok

Abu Dzar Masuk Islam [3] ABU DZAR DIPERSEKUSI

0 303

 

Majelis Tadarus Sirah Part 121

Setelah lika-liku yang panjang dan cara yang unik, akhirnya Allah pertemukan Abu Dzar dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Di rumah Al Arqam bin Abil Arqam, markas pembinaan para shahabat Nabi. Sejauh ini, tergambar jelas kegigihan Abu Dzar.

Dakwah memang sudah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam secara terang-terangan. Namun, tidak semua informasi dibuka. Masih ada hal-hal yang beliau rahasiakan dari orang-orang musyrik. Termasuk siapa saja yang telah masuk Islam dan dimana markas dakwahnya.

Abu Dzar menetap di Makkah untuk sementara waktu. Ia manfaatkan kesempatan sebaik-baiknya untuk menimba ilmu dari sumbernya. Ia siram qalbunya, sebanyak-banyaknya dengan siraman wahyu. Ia timba langsung dari sumbernya yang paling jernih.

Hingga hari itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memintanya untuk kembali ke kampung.
“Wahai Abu Dzar..,” sapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “..rahasiakanlah keislamanmu di Makkah ini. Pulanglah. Kelak datanglah kembali. Jika engkau telah mendengar tentang kemenangan kami..”

Bukan Abu Dzar namanya kalau takut menyuarakan kebenaran. Dialah yang kelak dijuluki “ashdaqu lahjatan” oleh Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam. Selama dia anggap benar, dia akan sampaikan ‘tanpa tedeng aling-aling’.

“Demi Allah yang telah mengutus engkau dengan kebenaran..,” sumpahnya, “..aku akan mengumumkan kepada semua orang.” Itu tekadnya.

Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam tidak mencegah Abu Dzar. Arahan untuk merahasiakan keislaman itu demi menjaga keselamatannya. Adapun jika ia memilih untuk mengumumkan, ia juga tahu resikonya.

“Wahai orang-orang Quraisy..!!” teriaknya di tengah-tengah Masjidil Haram.

“Aku telah bersaksi, laa ilaaha illallah..! Tidak ada yang berhak disembah selain Allah..! Dan aku juga bersaksi, Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya..!”

Semua tersentak. Berani-beraninya orang ini?
Sontak semua mengeroyoknya. Target mereka satu, hajar sampai mati.

Abu Dzar terhuyung. Terkapar babak belur.

Al ‘Abbas, paman Nabi yang berada tidak jauh dari situ langsung menghampirinya. Dirangkul, lalu diciumnya kening Abu Dzar.

“Kalian mau membunuh orang dari Bani Ghifar? Ingat, kampung mereka adalah jalur perdagangan kalian. Kalian mau, perdagangan kalian dikacaukan oleh mereka?” itu peringatan Al ‘Abbas.

Mereka surut ke belakang. Abu Dzar selamat.

Setahu mereka, Al ‘Abbas juga masih musyrik, bukan pengikut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka mereka mendengarkan alasannya.

Ini juga cerdiknya Al ‘Abbas. Ia tahu jika sudah menyangkut harta, mereka tidak lagi berfikir soal agama. Mereka tidak peduli soal ideologi. Bagi musyrikin itu, urusan perdagangan jauh lebih penting.

Namun, Abu Dzar juga tidak kapok. Keesokan harinya ia datang lagi ke Ka’bah. Ia berseru lagi, bersyahadat lagi. Dipukuli lagi. Beruntunglah, Al ‘Abbas kembali menyelamatkannya.

Setelah itu Abu Dzar kembali ke kampungnya sesuai arahan Nabi. Ke perkampungan Bani Ghifar.

Setiba di kampung Bani Ghifar, ia ajak saudaranya, Unais. Unaispun masuk Islam. Allah melapangkan dadanya.

Abu Dzar ajak ibunya, ibunya juga masuk Islam. Satu demi satu, hingga setengah warga Bani Ghifar masuk Islam.

Maa syaa Allah..
Nampaknya Abu Dzar memang punya pesona tersendiri. Kejujuran, kesederhanaan, keberanian, dan sifat-sifat mulia yang melekat pada dirinya itu membuat Bani Ghifar tidak punya alasan untuk tidak mencintainya.

Maka ketika ia kabarkan telah menjadi pengikut nabi baru, mereka ikut beriman.

Kelak ketika Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam telah hijrah ke Madinah, ia menyusul. Kemudian menetap di Madinah. Lekat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Seolah ia ingin menebus perpisahannya selama ini. Ketika terpaksa harus kembali ke kampung Bani Ghifar. Telah terlewat olehnya hari-hari bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Telah terlewat medan jihad Badar, Uhud, dan Khandaq.

Maka sejakdi Madinah, Abu Dzar menghabiskan sisa usianya untuk berkhidmat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Banyak hadits yang mengisahkan momen-momen khusus Abu Dzar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Terkadang beliau wejang secara khusus. Terkadang ada informasi khusus. Bahkan pernah juga ‘dimarahi’ secara khusus.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Semoga Allah merahmati Abu Dzar. Ia datang berjalan sendiri. Meniggal sendiri. Dan akan dibangkitkan sendiri.” (HR Al Hakim)_[1]

Referensi:
– As Sirah An Nabawiyyah Ash Shallabi
– Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Fii Makkah
– At Tarbiyyah Al Qiyadiyyah
– Shuwar min Hayatis Shahabah
– [1] tentang hadits ini bisa dilihat disini: https://www.islamweb.net/ar/fatwa/58912/

✍🏼
Murtadha Ibawi
Majelis Tadarus Sirah

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: