DPW DKI Jakarta dan Depok

Abu Jahal, Apa Haknya Melarang?

0 416

 

ABU JAHAL, APA HAKNYA MELARANG?
(Majelis Tadarus Sirah Part 113)
Oleh: Ustadz Murtadha Ibawi

Di Surat Al ‘Alaq, Allah turunkan beberapa ayat yang mengisahkan bagaimana Abu Jahal bertindak sewenang-wenang. Dia melarang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat di depan Ka’bah. Abu Jahal telah ‘melampaui batas’.
.
Menariknya, sebelum rangkaian ayat-ayat berkenaan dengan Abu Jahal itu, Allah ingatkan bahwa semua manusia berpotensi ‘melampaui batas’. Ya, semua manusia. Termasuk kita semua.
.
“Kallaa innal insaana layathgha..”
“Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas” (QS. Al ‘Alaq: 6)
.
Dalam bahasa Arab, melampaui batas disebut ‘yathgha’ atau ‘thagha’. Masih satu akar kata dengan ‘thughyaan’ dan ‘thaghut’.
.
‘Melampaui batas’ adalah sifat yang sama, yang terjadi pada diri Fir’aun la’natullahi ‘alaih. Allah perintahkan Nabi Musa mendatangi Fir’aun dan Allah sebut, “Idzhab ilaa Fir’auna innahu thaghaa..”. Pergilah engkau kepada Fir’aun, sesungguhnya ia telah ‘melampaui batas’. (QS. An Naazi’at: 17)
.
Berarti ada kesamaan antara Abu Jahal dengan Fir’aun? Ya. Dan perlu menjadi catatan sekali lagi, potensi itu bisa menjangkiti setiap manusia. Bukan hanya Fir’aun dan Abu Jahal saja, tapi “innal insaana..” Semua manusia, termasuk kita.
.
Lalu, apa akar masalahnya? Apa penyebabnya?
Di ayat setelahnya Allah sebutkan, “An ra’aahustaghnaa..”
Karena ia melihat dirinya serba cukup. (QS. Al ‘Alaq: 7)
.
Bila seseorang telah ‘merasa cukup’. Cukup apa saja. Merasa cukup kaya, sangat kaya, atau bahkan paling kaya. Merasa cukup kuat, atau bahkan paling kuat. Merasa cukup pengikut, cukup pintar, dan seterusnya.
.
Ini yang terjadi pada diri Abu Jahal sampai ia berani melarang-larang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia sampai berani merampas kemerdekaan paling asasi. Hak seorang hamba untuk menyembah Rabb-nya.
.
Abu Jahal merasa cukup kaya dan cukup berkuasa. Ia merasa memiliki banyak loyalis dari kalangan elit Quraisy. Namun sekali lagi ia hanya ‘merasa’. Padahal, ‘merasa berkuasa’ itu belum tentu memang betul-betul berkuasa. Kekuasaannya hanya sedikit dan sangat terbatas, namun ini sudah cukup membuatnya besar kepala.
.
Ini juga disebabkan oleh ‘para pembisik’ di sekitarnya. Para loyalis itu yang mengkondisikan ia ‘merasa’ seperti itu. Sebagaimana para tukang sihir Fir’aun, Haman, dan para pembesar istananya yang mengkondisikan ia semakin merasa paling berkuasa. Sampai ia berani mendeklarasikan diri, “Ana rabbukum al a’la..”. Aku adalah tuhan kalian yang paling tinggi. (QS. An Nazi’at: 24)

“Hai Muhammad! Bukankah aku telah melarangmu? Bukankah aku telah melarangmu mengerjakan ini..?!”
Abu Jahal menghardik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika beliau akan mengerjakan shalat. Di Maqam Ibrahim, di dalam Baitullah, di Masjidil Haram.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sempat membalas ucapan Abu Jahal. Namun dasar Abu Jahal. Dengan ke-’jahl’-annya, mana bisa dia diajak bicara? Alih-alih berdiskusi, ia justru menyombongkan diri.
.
“Siapa engkau? Berani-beraninya engkau membantah ucapanku? Tidakkah engkau tahu, di lembah ini akulah orang yang paling banyak pengikutnya..?!!”
Congkaknya..
Merasa paling berkuasa dan paling ditaati di lembah Makkah.

Soal keangkuhan Abu Jahal itu, Allah menurunkan firman-Nya (yang artinya),
“Bagaimana pendapatmu terhadap orang yang melarang,” (QS. Al ‘Alaq: 9)
“Seorang hamba ketika ia hendak mengerjakan shalat?” (QS. Al ‘Alaq: 10)
“Bagaimana pendapatmu jika yang dilarangnya itu berada di atas ‘al huda’..?” (QS. Al ‘Alaq: 11)
“Atau seorang yang memerintahkan untuk bertaqwa?” (QS. Al ‘Alaq: 12)
“Bagaiman pula pendapatmu, jika orang yang melarang-larang itu adalah seorang yang ingkar dan berpaling?” (QS. Al ‘Alaq: 13)
.
Dalam kelima ayat di atas, Allah perbandingkan siapa yang dilarang dan siapa yang melarang. Bagaimana bisa seorang Abu Jahal melarang orang yang jelas-jelas lurus dan memerintahkan kepada kebaikan dan ketakwaan? Seharusnya Abu Jahal berkaca. Siapa dia dan siapa yang dia larang-larang?
.
Lalu di ayat berikutnya (yang artinya),
“Tidakkah ia tahu bahwa Allah Maha Melihat?” (QS. Al ‘Alaq: 14)
“Ketahuilah, jika ia tidak berhenti dari perbuatannya melarang-larang itu, niscaya akan Kami tarik ubun-ubunnya” (QS. Al ‘Alaq: 15)
“Yaitu ubun-ubun seorang pendusta lagi durhaka” (QS. Al ‘Alaq: 16)

Allah menenangkan Rasul-Nya,
“Maka biarkanlah ia memanggil golongannya (untuk menolongnya). Kelak Kami akan memanggil Malaikat Zabaniyah.” (QS. Al ‘Alaq: 18).
.
Abu Jahal boleh merasa sok berkuasa, sok kaya, sok kuat, dan sok paling banyak pengikutnya. Tapi ada Allah Maha Kuasa. Allah tidak tidur. Allah Maha Menyaksikan semua tingkah polahnya.
.
Meskipun saat itu pengikut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hanya sedikit, ‘golongan lemah’ pula, Allah janjikan pertolongan dan perlindungan. Allah siapkan malaikat yang siap dikirim kapan saja.

Kemudian Allah perintahkan Rasul-Nya untuk tetap teguh. Ancaman dan gertakan Abu Jahal tidak perlu dipedulikan.
.
Allah berfirman (yang artinya),
“Sekali-kali jangan! Janganlah engkau patuh kepadanya. Tetaplah bersujud serta mendekatkan diri kepada-Nya” (QS. Al ‘Alaq: 19)
.
Maka setelah itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tetap shalat di Baitullah, meskipun ancaman dan intimidasi dari Abu Jahal dan kawan-kawannya juga tidak pernah berhenti, bahkan semakin menjadi-jadi.
.
.
Referensi:
– Ar Rahiqul Makhtum
– Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir
– Fii Zhilalil Qur’an
– Bukan Hanya Salah Fir’aun
.
.
✍🏼
Murtadha Ibawi
Majelis Tadarus Sirah

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: