DPW DKI Jakarta dan Depok

ABU JAHAL DAN CEMETI ABUL BAKHTARI (Lanjutan “Insiden Jeroan Unta”) .

0 418

 

ABU JAHAL DAN CEMETI ABUL BAKHTARI
(Lanjutan “Insiden Jeroan Unta”)

Majelis Tadarus Sirah Part 112

Oleh: Ustadz Murtadha Ibawi

.
Soal kejadian ‘insiden jeroan unta’, Imam Al Bazzar menyebutkan riwayat tentang kejadian sesaat setelahnya.
.
Bersama sang putri, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beranjak meninggalkan Masjidil Haram. Apa yang baru saja beliau alami sungguh memilukan hati. Allah utus seorang nabi kepada kaum yang buta aksara, namun seperti ini balasan mereka.
.
Di luar Masjidil Haram, beliau berpapasan dengan Abul Bakhtari. Diamat-amatinya wajah ‘Al Amin’. Sejenak kemudian ia tahu, ada yang berbeda. Ada sesuatu di wajah yang lebih indah dari rembulan itu.
.
Ia menghadang langkah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sambil menelisik wajah Sang Nabi, ia bertanya, “Apa yang terjadi denganmu..?”
.
“Tidak ada apa-apa, biarkanlah aku lewat..”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawabnya dengan tenang. Namun, ‘sesuatu’ di wajah beliau itu tetap terbaca.
.
Abul Bakhtari terus mendesak. Setengah memaksa ia katakan, “Allah Maha Tahu bahwa aku tidak akan bergeser sedikitpun hingga engkau kabarkan apa yang sebenarnya terjadi. Aku tahu, telah terjadi sesuatu pada dirimu..”
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam faham, Abul Bakhtari akan bertahan. Dia tidak akan bergeser sampai beliau beritakan.
.
“Abu Jahal..,” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membuka suara, “..ia menyuruh orang untuk menimpukku dengan kotoran..”

Abul Bakhtari naik pitam. Ia tidak terima. Ini kezhaliman. Di dalam Masjidil Haram, di tanah haram, tempat paling mulia. Terjadi pada diri manusia paling mulia. Ini tidak bisa dibiarkan, pikirnya.
.
Diajaknya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk kembali masuk ke Baitullah, Masjidil Haram.
.
Di hadapan Abu Jahal dan kawan-kawannya, para pemuka Quraisy, Abul Bakhtari menggertak, “Wahai Abul Hakam..!”
Abul Hakam adalah panggilan asli Si Abu Jahal.
.
“Engkau yang menyuruh orang untuk menimpukkan kotoran kepada Muhammad..?!”
.
“Ya,” jawab Abu Jahal.
.
Abul Bakhtari tak berkata apa-apa. Namun dalam hitungan detik, cemeti yang ada di tangannya mendarat di muka Abu Jahal.
Plakkk..
.
Kawan-kawan Abu Jahal hanya bisa saling pandang satu sama lain. Mereka tidak berkutik. Mungkin mereka tidak menduga, ternyata ada orang yang berani menghajar ‘Si Bos’. Di depan umum pula.

Abu Jahal tidak berani membalas pukulan ABul Bakhtari. Ia tahan rasa sakit di wajahnya, lalu berteriak kepada semua yang hadir.
.
“Lihat ini..! Muhammad dan para sahabatnya ingin memecah belah kita, lalu dia yang akan menjadi pemenangnya..!!”
.
Abu Jahal merasa mendapat pembenaran, bahwa apa yang selama ini mereka khawatirkan akhirnya terbukti. Abul Bakhtari yang sama-sama musyrik, justru menghajar dirinya. Ia merasa mendapat bukti bahwa Muhammad ‘alaihis shalatu was salam hanyalah pemecah belah.
.
Bagi mereka yang terlanjur loyal dengan Abu Jahal, memandang alasan Abu Jahal ini benar. Namun, bagi yang masih memiliki hati nurani, mereka tahu bahwa Abu Jahal lah yang zhalim. Abul Bakhtari hanya ingin menampakkan keadilan dengan caranya sendiri.
.
Dari sini tersingkaplah watak asli Abu Jahal, terlihat garang saat bersama kawan-kawannya. Namun melempem saat didatangi Abul Bakhtari.
.
Kehadiran Abul Bakhtari dan gertakannya terhadap Abu Jahal tentu menimbulkan dampak serius. Khalayak ramai akhirnya bisa menilai sendiri ,siapa Abu Jahal dan siapa Muhammad ‘alaihis shalatu was salam.

Bukan kali itu saja Abul Bakhtari bersimpati kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama Bani Hasyim dan Bani Al Muththalib diisolir dan di boikot oleh semua kaum Quraisy, Abul Bakhtari adalah salah satu yang tampil ke depan.
.
Ia bersama Al Muth’im bin Adi dan beberapa teman lainnya menentang kesepakatan zhalim itu secara terbuka. Mereka mengumumkannya di depan Ka’bah.
.
Terhadap orang-orang seperti Abul Bakhtari dan Al Muth’im bin Adi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah lupa balas budi. Abul Bakhtari, beliau melarang para shahabat untuk membunuhnya saat Perang Badar.
.
Sedangkan tentang Al Muth’im bin Adi, beliau sebut di hadapan putranya tatkala hendak menebus tawanan Perang Badar, “Seandainya Al Muth’im masih hidup dan ia yang memintaku, tentu aku akan lepaskan semua tawanan ini”.

Begitulah, dalam hitam pekatnya kezhaliman dan kejahiliyahan, disana tetap ada mutiara-mutiara yang bersinar. Orang seperti Abul Bakhtari dan Al Muth’im ibarat mutiara yang terbenam dalam lumpur jahiliyah. Namun ditimbun lumpur seperti apapun, mutiara tetaplah mutiara.
.
Kadang Allah kirim pertolongan-Nya melalui orang-orang seperti itu. Pertolongan datang melalui jalan yang sama sekali tak terduga. Ada tangan-tangan dan kaki yang Allah gerakkan.
.
Allahu a’lam.
.
Referensi:
– Ar Rahiqul Makhtum
– Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Fii Makkah
.
.
✍🏼
Murtadha Ibawi
Majelis Tadarus Sirah

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: