DPW DKI Jakarta dan Depok

Abu Lahab di Musim Haji

0 261

ABU LAHAB DI MUSIM HAJI

(Majelis Tadarus Sirah Part 108)

Oleh: Ustadz Murtadha Ibawi

Menjelang musim haji, memasuki bulan-bulan haram, Makkah sudah sangat ramai. Orang-orang dari berbagai penjuru jazirah Arab tumpah ruah. Mereka sudah mulai berdatangan.

Pasar musiman yang hanya berlangsung di musim-musim haji itupun berjubel. Pasar Ukazh yang paling tersohor, Majannah, dan Dzil Majaz. Kalau kita mengenal “Islamic Book Fair” atau “Ramadhan Fair”, mungkin bolehlah ini kita sebut semacam “Haji Fair”.

Di pasar-pasar itu mereka bukan hanya jual beli. Disitu juga digelar event-event tahunan yang cukup bergengsi. Perlombaan sya’ir contohnya. Disini mereka saling mempertaruhkan nama baik kabilah masing-masing.

Para pemuka Quraisy tahu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak akan melewatkan momentum ini. Karenanya mereka menyepakati satu cara untuk meng-counter atau minimal mengalihkan perhatian para ‘tamu’ Quraisy itu.

Tujuannya satu, agar dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak keluar dari Makkah. Jangan sampai ada orang dari luar Makkah yang tertarik masuk Islam.

 

Caranya?

Mari kita simak penuturan Thariq bin Abdillah Al Muharibi radhiyallahu ‘anhu ketika mengenangnya.

Riwayat dari Thariq bin Abdillah Al Muharibi ini terekam dalam salah satu hadits yang diriwayatkan oleh beberapa imam ahlul hadits. Antara lain Imam Ibnu Abi Syaibah, Imam Ibnu Khuzaimah, dan Imam Al Baihaqi. Imam Al Hakim menyatakannya ‘shahih’ dan disepakati pula oleh Imam Adz Dzahabi.

Dua kali aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,” kenangnya. “Waktu itu aku sedang berada di Pasar Dzil Majaz. Ada yang harus aku harus beli disana.”

Saat itulah aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berjalan melintas. Beliau mengenakan pakaian berwarna merah. Sambil berjalan aku mendengar beliau mengatakan: ‘Wahai sekalian manusia.., ikrarkanlah Laa Ilaaha Illlallah.., maka kalian akan selamat..”

.

“Di belakang beliau ada satu orang yang terus mengikuti, orang itu melemparinya dengan batu hingga kedua mata kaki beliau berdarah-darah..”

“Orang yang melempari batu itu berseru, ‘Wahai sekalian manusia.., jangan kalian ikuti orang ini! Orang ini pendusta..,” kata Thariq.

“Akupun bertanya kepada orang-orang: ‘Siapakah itu?’. Mereka pun menjelaskan, ‘Itu adalah putra dari keluarga Bani Abdul Muththalib.”

“Kalau yang melempari batu itu, siapa?” tanyanya kemudian.

“Itu Abdul Uzza, Abu Lahab bin Abdul Muththalib, pamannya sendiri..”

Laa haula walaa quwwata illaa billaah..

Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam menempuh berbagai cara rupanya. Tidak peduli orang-orang itu sibuk dengan perniagaan dan pagelaran-pagelarannya, beliau tetap datangi. Disampaikannya kalam ilahi, dibacakan firman Tuhannya.

Yang beliau tawarkan singkat saja, ucapkanlah “Laa Ilaaha Illallah”, maka kalian akan “tuflihuu”, kalian akan berjaya.

Aduhai kiranya mereka tahu..

Kalimat singkat itulah yang akan mengubah mereka dari bangsa yang buta aksara, menjadi pemimpin dunia. Mereka akan berjaya, di dunia dan alam baka.

Hari itu mereka yang dari luar Makkah mungkin berfikir, kaumnya saja menolaknya maka bagaimana lagi dengan kami yang ‘orang jauh’?

Bahkan kaumnya sendiri, Quraisy, hanya beberapa gelintir yang beriman. Bahkan kabilahnya sendiri, Bani Hasyim. Bahkan ini adalah paman kandungnya, Abu Lahab, yang melemparinya dengan batu.

Para ‘tetamu’ dari luar Makkah itu hanya bisa menyimpan nama ‘Muhammad’ dalam memori mereka. Mereka bawa pulang nama itu ke kampung masing-masing lalu menjadi ‘tutur tinular’.

Belasan tahun kelak barulah mereka mendengar perkara besar di Madinah. Belasan tahun setelahnya mereka saksikan Makkah bertekuk lutut di hadapannya. Akan tiba saatnya “Waraaitan naasa yadkhuluuna fii diinillahi afwaajaa..”. Mereka akan masuk Islam secara berbondong-bondong.

Adapun hari itu, Sang Nabi hanya bisa sabar dan berteguh hati.

Pertolongan itu akan tiba saatnya nanti.

Referensi:

  • Ar Rahiqul Makhtum, Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfuri
  • Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Fii Makkah, Dr. Yahya Al Yahya

 

Penulis : Murtadha Ibawi (Pendiri Majelis tadarus Sirah)

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: