DPW DKI Jakarta dan Depok

Adab dan Etika Puasa

0 365

 

Orang yang berpuasa hendaknya tidak hanya meninggalkan makan dan minum serta pembatal puasa lainnya. Hendaknya puasa disempurnakan dengan menjaga dan memperhatiakan adab serta etika berpuasa.

Berikut ini beberapa adab yang hendaknya diperhatikan oleh orang yang berpuasa.

1. Berniat Sejak Malam

Orang yang berpuasa hendaknya berniat puasa sejak malam. Paling lambat niat puasa sebelum terbit fajar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ

“Siapa yang tidak berniat puasa sejak malam sebelum terbit fajar maka tidak sah puasa baginya”. (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Majah).

Ketentun ini berlaku bagi puasa wajib seperti puasa Ramadhan atau puasa qadha. Adapun puasa Sunnah boleh berniat setelah terbit fajar atau terbit mata hari, dengan syarat belum makan dan minum atau melakukan pembatal puasa.

2. Makan Sahur

Dianjurkan makan sahur. Hal ini merupakan anjuran Nabi Muhammad shallalhu ‘alaihi wa sallam;

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُوْرِ بَرَكَةً.

“Makan sahurlah kalian karena sesungguhnya pada sahur itu terdapat berkah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dianjurkan pula bersahur dengan kurma (tamr). Karena kurma merupakan menu sahur terbaik, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam;

نعم سحور المؤمن التمر

“Sebaik-baik (menu) makan sahur seorang Mu’min adalah tamr (kurma).” (HR. Abu Dawud: ).

Jika tidak ada kurma, maka dapat bersahur dengan makan apa saja yang halal. Paling minimal bersahur dengan meminum air putih, sebagaimana anjuran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam;

تسحروا ولو بجرعة من ماء

Bersahurlah!meski hanya dengan –meminum-seteguk air”. (HR. Ibnu Hibban).

Makan sahur lebih utama diakhirkan sebagaimana kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan, Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu berkata :

Kami pernah makan sahur bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu melaksanakan shalat’’. Anas bertanya kepada Zaid: “Berapa jarak antara adzan dan sahur ?”. Dia menjawab : ‘seperti lama membaca 50 ayat’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan disunnahkannya mengakhirkan makan sahur hingga dekat dengan waktu Shubuh.

  1. Menyegerakan Berbuka dan Berbuka dengan Kurma 

Dianjurkan menyegerakan berbuka jika waktu maghrib telah masuk. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَزَالُ النّاَسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ.

“Umat manusia senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa. (Muttafaq ‘alaih).

Dianjurkan berbuka dengan ruthab (kurma segar), jika tidak ada maka dengan tamr (krma masak), dan jika tidak maka berbuka dengan apa saja, namun hendaknya diawali dengan air putih.

Anas bin Malik menceritakan tentang buka puasa Nabi. Dia berkata, “Nabi biasa berbuka dengan ruthab (kurma segar) sebelum mengerjakan shalat. Jika beliau tidak mendapatkan ruthab, maka beliau berbuka dengan beberapa buah tamr (kurma masak yang sudah lama dipetik) dan jika tidak mendapatkan tamr, maka beliau meminum air.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

  1. Berdo’a Ketika Berbuka Puasa

Disunnahkan berdo’a ketika berbuka puasa dengan do’a yang dicontohkan oleh Nabi.

Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma meriwayatkan, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika berbuka puasa selalu membaca:

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ وَثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ.

Telah hilang rasa haus dan telah basah urat-urat, serta  pahala telah telah ditetapkan, insya Allah.” (HR. Abu Daud).

  1. Menghindari Rafats, Kata-kata Kotor dan Dusta

Orang yang berpuasa hendaknya meninggalkan kata-kata kotor, rafats, dan dusta. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan tentang hal ini dalam sabdanya,

إِذَا كَانَ يَوْمَ صَوْمَ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ

 “.. Apabila pada hari seseorang di antara kamu berpuasa, maka janganlah ia berbuat rafats …” (HR. Bukhari)

Rafats adalah  kata-kata kotor/jorok yang menjurus pada perbuatan maksiat.

Nabi Shallallahualaihi wasallam juga memperingatkan bahaya dusta bagi orang yang berpuasa. Beliau bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan tetap melakukannya, maka Allah tidak akan menghiraukan orang itu meskipun  meninggalkan makanan dan minumannya (berpuasa).” (Bukhari)]

Dan hendaknya orang yang berpuasa meninggalkan semua perbuatan haram, seperti ghibah (menggunjing), perkataan jorok dan dusta. Karena  perbuatan haram tersebut dapat mengurangi bahkan menghapus pahala puasanya. (sym)

 

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: