DPW DKI Jakarta dan Depok

Adab Mendatangi dan Memasuki  Masjid (3) 

65

Adab Mendatangi dan Memasuki  Masjid (3) 

(Lanjutan dari Tulisan Sebelumnya)

Pada tulisan pertama dan kedua    telah  dijelaskan beberapa adab mendatangi dan memasuki masjid diantaranya bergegas ke Masjid saat masuk waktu shalat atau adzan berkumandang, berangkat ke masjid (lebih afdhal) dengan berjalan kaki, berjalan ke masjid dengan khusyuk dan tenang serta tidak tergesa-gesa, mengenakan pakaian terbaik, dan sebagainya. Pada tulisan ini insya llah akan dialnjutkan dengan adab yang berikutnya. Selamat membaca.

 

  1. Berdo’a Ketika Masuk dan Keluar Masjid

Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahihnya dan Imam Abu Daud dalam Sunannya dari Abu Hamid radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلْيُسَلِّمْ عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، ثُمَّ لِيَقُلْ: اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ، وَإِذَا خَرَجَ فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ”

Jika salah seorang diantara kalian masuk masjid hendaknya mengucapkan salam kepada nabi shallallahu alaihi wasallam kemudian hedaknya mengucapkan : Ya allah bukakanlah untukku pintu-pintu rahmatmu. Dan jika ia keluar hendaknya mengucapkan : Ya allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu keutamaan-Mu“. [Shohih muslim nomor 713 dan Abu Daud nomor 465]

Imam Abu Daud juga meriwayatkan dalam sunannya dari Abdullah bin Amr bin ‘ash radhiyallahu anhuma, bahwa ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam masuk masjid berdo’a:

“أَعُوذُ بِاللَّه الْعَظِيمِ، وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيمِ، وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيمِ، مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ…فإذا قال ذلك قال الشيطان: حفظ مني سائر اليوم”

“Aku memohon dengan nama allah yang maha Agung, dan dengan wajahnya yang mulia, dan dengan kerajaannya yang kekal, dari syaitan yang terkutuk. Ketika ia mengucapkan itu maka syaitan membalas : dia telah terjaga dari ku seluruh hari ini“. [Lihat sunan abu daud nomor 466]

  1. Mengikuti dan Menjawab Bacaan Muadzin Saat Adzan

Disunnahkan menjawab dan mengikuti muuadzin saat mengumandagkan adzan. Akan tetapi ketika muadzin mengucapkan hayya ‘alas sholah dan hayya ‘alal falah maka dia mengucapkan Laa haula wala quwwata illaa billah.  Sebagaimana dalam sebuah hadits:

 “فَإِذَا قَالَ الْمُؤَذِّنُ: اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، فَقَالَ أَحَدُكُمُ: اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، قَالَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، ثُمَّ قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، قَالَ: أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، ثُمَّ قَالَ: حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ، قَالَ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، ثُمَّ قَالَ: اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، قَالَ: اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ”

Apabila seorang muadzin mengumandangkan Allaahu akbar, Allaahu akbar’ maka salah seorang dari kalian mengucapkan, Allaahu akbar, allaahu akbar’ lalu muadzin mengumandangkan, Asyhadu Allaa Ilaaha Illallaah’, seseorang mengucapkan, Asyhadu Allaa ilaaha Illallaah’ lalu muadzin mengumandangkan, Asyhadu Anna Muhammadar-Rasulullah’ seseorang mengucakan, Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullah’, kemudian muadzin mengumandang, ‘Hayya Alashalah’ lalu seseorang mengucapkan, ‘Laa haula walaa quwwala illa billaah’, lalu muadzin mengumandangkan, ‘Hayya alal falaah.’ Seseorang mengucapkan, ‘Laa haula walaa quwwata illa billah’ kemudian muadzin mengumandangkan, Allaahu akbar; Allaahu akbar’ seseorang berkata, ‘Allaahu akbar, Allaahu Akbar’ kemudian muadzin mengumandangkan, ‘Laa ilaaha illallaah’ lalu seseorang berkata, Laa Ilaaha Illallaah’ dari hatinya, maka ia pasti masuk surga.” [Shohih muslim nomor 385]

Dan saat mu’adzin mengucapkan syahadatain hendaknya dia mengucapkan Radhitu Billahi Rabba[n], Wa Bimuhammad[in] Rasula[n] Wabil Islami Dina[n], sebagaimana hadits Sa’ad bin Abi waqqash radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahwasanya beliau bersabda:

“مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ بِاللَّه رَبًّا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا، وَبِالإِسْلَامِ دِينًا، غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ”

Barangsiapa yang mengucapkan ketika mendengar muadzin : saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali allah semata dan tidak ada sekutu bagi-nya, dan bahwasanya Muhammad adalah rasulul-Nya, saya telah Ridho allah sebagai rabku dn Muhammad sebagai nabiku dan islam sebagai agamaku maka diampuni dosa-dosanya“. [Shohih muslim nomor 386]

Kemudian berdo’a setelah adzan sebagaimana hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma bahwasannya Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda :

“مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ: اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ، حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ”

Barangsiapa membaca ketika telah mendengar adzan : Ya allah Rab pemilik seruan yang sempurna ini dan sholat yang didirikan pemberi berilah wasilah (derajat disurga) dan keutamaan kepada Nabi Muhammad Dan bangkitkanlah beliau sehingga bisa menempati maqam terpuji yang telah Engkau janjikan. Sesungguhnya Engkau tidak pernah mengingkari janji, maka halal baginya syafa’atku pada hari kiamat.  [Lihat Shohih bukhori nomor 614]

disyariatkan   juga berdo’a antara adzan dan iqamah sebagaimana yang diriwayatkan  oleh Abu Daud yang terdapat dalam Sunan beliau dari Abdullah bin Amr radhiyallahu anhu bahwasanya ada seorang laki-laki yang bertanya :

يا رسول الله، إن المؤذنين يفضلوننا، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “قُلْ كَمَا يَقُولُونَ، فَإِذَا انْتَهَيْتَ فَسَلْ تُعْطَهْ”

Wahai Rasulullah sesungguhnya para muadzin mengungguli kami, maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: katakanlah apa yang dikatakan para muadzin, maka apabila engkau selesai mintalah (kepada Allah) engaku akan diberi“. [Lihat sunan abu daud nomor 524]

  1. Memperbanyak Dzikir

Disunnahkan di dalam masjid memperbanyak dzikir kepada Allah. Baik dengan tasbih, tahlil, tahmid, takbir ataupun  dzikir-dzikir yang lain. Dianjurkan juga memperbanyak membaca al-qur’an. Disunnahkn pula membaca hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam dan mengajarkan fiqih serta ilmu ilmu syar’i yang lainnya. Sebagaimana Firman Allah Ta’ala :

  ﴿ فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ ﴾ [النور: 36

“(Cahaya itu) di rumah-rumah yang di sana telah diperintahkan Allah untuk memuliakan dan menyebut nama-Nya, di sana bertasbih (menyucikan) nama-Nya pada waktu pagi dan petang”. (Q.S. an-nur : 36)

Imam Muslim meriwayatkan dalam shahihnya dari Buraidah radhiyallahu anhu,  bersabda Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda :

“إِنَّمَا بُنِيَتِ الْمَسَاجِدُ لِمَا بُنِيَتْ لَهُ”

Hanyalah (tujuan) dibangun masjid-masjid itu sebagai mana tujuannya (tempat sujud)”.[Lihat hadits nomor 569]

Dan diriwayatkan pada hadits yang lain :

 “إِنَّمَا هِيَ لِذِكْرِ اللَّه عَزَّ وَجَلَّ، وَالصَّلَاةِ، وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ”

“Hanyalah dia (masjid itu) untuk mengingat Allah azza wajalla, sholat dan membaca al-qur’an”. [Lihat shohih muslim nomor 285]

Dan hendakanya ketika didalam masjid menjauhi perkataan yang sia-sia dan melampaui batas, membicarakan manusia, dan banyak ngobrol tentang perkara dunia yang bisa mengeraskan hati dan jauh dari Allah.

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: