DPW DKI Jakarta dan Depok

Adakah Shalat Sunnah Sebelum Maghrib (Qabliyah Maghrib)?

0 213

Adakah Shalat Sunnah Sebelum Maghrib (Qabliyah Maghrib)?

Pertanyaan :

Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

Sebelumnya saya ingin menyampaikan syukur alhamdulillah dengan keberadaan rubrik konsultasi syari’ah di web ini. Adapun yang mau saya tanyakan adalah :

  1. Adakah shalat sunnah qabliyah sebelum magrib?
  2. Apa sesungguhnya hukum shalat berjamaah? Wajib ataukah Sunnah? Adakah perbedaan antara pria dan wanita dalam hal shalat berjamaah di masjid?

terimaksih atas jawabannya.

(Udin Mas K, Makassar, HP 085 255 578 xxx)

Jawaban:

Bismillah, alhamdulillah washalaatu wassalamu ‘alaa Rasulillah , ammaa ba’d.

Para ‘Ulama rahimahumullaha membagi shalat sunnah  rawatib menjadi dua:

  1. Ar Rawaatib Al Muakkadah. Yang terdiri atas 12 raka’at selama sehari semalam. Inilah yang dijelaskan keutamaanya dalam satu hadits tersendiri, yaitu hadits Ummul Mu’miniin Ummu Habibah radhiyallaahu ‘anha beliau berkata bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah seorang hamba yang muslim shalat sunnah setiap hari dua belas raka’at selain shalat wajib, maka Allah akan membangunkan untuknya rumah di surga” (HR. Muslim).

Perinciannya adalah sebagai berikut: Empat rakaat sebelum dzuhur dan dua rakaat setelahnya, dua rakaat setelah maghrib, dua rakaat setelah ‘isya, dan dua rakaat sebelum shubuh.

  1. Ar Rawaatib Ghairu Muakkadah,Yaitu:
  2. Shalat sunnah antara adzan dan iqamat berdasarkan hadits Bukhariy “Antara dua adzan (adzan & iqamat) terdapat shalat (sunnah) (HR. Bukhari).
  3. Empat Rakaat sebelum ‘Ashar, berdasarkan hadits Ibnu, Umar radhiyallaahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Semoga Allah merahmati seseorang yang shalat (sunnah) empat rakaat sebelum ‘ashar”. (HR Abu Daud dan Tirmidziy dan dishahihkan oleh Syaikh al-AlBaani).
  4. Dua rakaat sebelum Maghrib berdasarkan hadits ‘Abdullah bin Mughaffal radhiyallaahu ‘anhu dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda: “Shalatlah sebelum maghrib dua rakaat,shalatlah sebelum maghrib dua rakaat,shalatlah sebelum maghrib dua rakaat  (beliau berkata pada kali yang ketiga) Bagi siapa yang mau “.(HR Bukhari).

Dari penjelasan diatas dapat dipahami bahwa shalat sunnah qabliyah maghrib disunnahkan (termasuk Rawatib ghairu muakkadah). Berikut ini kami akan rincikan dan tambahkan beberapa dalil lain yang menunjukkan  disunnahkannya shalat sunnah dua rakaat sebelum maghrib:

  1. Hadits Bukhari di atas bahwa “Antara dua adzan (adzan & iqamat) terdapat shalat (sunnah) (HR Bukhari).
  2. Hadits ‘Abdullah bin Mughaffal di atas: Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Shalatlah sebelum maghrib dua rakaat,shalatlah sebelum maghrib dua rakaat, shalatlah sebelum maghrib dua rakaat (beliau berkata pada kali yang ketiga) Bagi siapa yang mau”. (HR Bukhari).

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi shallalaahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kepada para shahabat untuk shalat sunnah dua rakaat sebelum maghrib. Bahkan beliau sampai mengulangi perintahnya sebanyak tiga kalai, hanya saja pada kali yang ketiga beliau memberikan pilihan bagi yang mau.Sebagian perawi menambahkan di ujung hadits tersebut “Beliau tidak suka kalau manusia menganggap  hal itu (shalat dua rakaat sebelum maghrib) sunnah (“karaahiyata an yattakhidzahaannaasu sunnah”).

Menurut al-Muhib ath-Thabari,(tambahan)  sabda Nabi dengan lafadz: “karaa hiyata an yattakhidzahaannaasu sunnah” tidaklah berarti bahwa dua rakaat sebelum maghrib itu tidak sunnah hukumnya. Hal ini karena Nabi tidak mungkin memerintahkan sesuatu yang beliau sendiri tidak menyukainya. Bahkan hadits inilah yang menunjukan sunnahnya  dua rakaat sebelum maghrib. Sedangkan makna dari ucapan Nabi diatas adalah: “Beliau tidak mau kalau nanti dia dijadikan sebagai “syarii’atan wa thariqatan laazimatan” yakni syari’at dan jalan yang wajib hukumnya”. Ucapan beliau itu bisa juga menunjukan bahwa derajat shalat maghrib lebih rendah dibanding sunnat-sunnat rawatib lainnya. Karena itulah maka mayoritas ulama syafi’iyah tidak memasukannya ke dalam shalat-shalat sunat rawatib”. Demikian keterangan Imam Syaukani dalam Nailul authar jilid II halaman 8.

  1. Hadist Riwayat Imam Muslim.

Dari Mukhtar bin Fulful  radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata:

“Aku bertanya kepada Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu  tentang tathawwu’ (shalat sunnah) setelah ‘ashar? Beliau berkata; Dahulu ‘Umar memukul tangan orang yang shalat setelah shalat ‘ashar. Dan kami shalat di zaman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dua rakaat setelah terbenam matahari sebelum shalat maghrib, Aku tanyakan kepadanya; apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melakukannya? Anas menjawab; Beliau melihat kami melakukannya, namun beliau tidak menyuruh kami dan tidak pula melarang kami  (HR Muslim No. 836).

Hadist ini  menunjukan taqrir (persetujuan) Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Ketika beliau melihat para shahabat melakukannya, beliau membiarkan dan tidak melarang.

Dari dalil-dalil diatas dapat disimpulkan bahwa disunnahkan shalat 2 dua rakaat sebelum (qabliyah) maghrib, wallaahu a’lam.

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: