DPW DKI Jakarta dan Depok

Adian Husaini: Lawan Pemurtadan dengan Data dan Strategi Hukum

0 131

(Jakarta) wahdahjakarta.com-, Cendekiawan Muslim Dr Adian Husaini menyerukan, sudah saatnya kaum Muslimin berdakwah berdasarkan penelitian dalam melawan pemurtadan. Sejak ia menjadi pengurus Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) dan Muhammadiyah sampai sekarang, pemetaan tersebut belum berhasil dibuat.

“Coba kita buat pemetaan kristenisasi itu apa? Kita harus punya data yang jelas,” ujar mantan Wakil Ketua Komisi Kerukunan Umat Beragama MUI ini dalam acara seminar nasional “Mengungkap Fakta Upaya Pemurtadan Pasca Bencana dan Solusinya” di lantai empat kantor pusat MUI, Jakarta, Senin (19/11/2018).

Ia bercerita, temannya yang bekerja di satu lembaga riset pernah menunjukkan kepadanya data-data yang dipesan oleh sebuah lembaga misi Kristen di Singapura. Data itu berisi data penduduk, tokoh, orang-orang berpengaruh di situ dan lain-lain. Mereka, kata Adian, melakukan survei terlebih dahulu sebelum masuk ke daerah.

“Jadi kita (juga) mesti bergerak dengan pemetaan,” kata doktor bidang peradaban Islam di International Institute of Islamic Thought and Civilization – International Islamic University Malaysia (ISTAC-IIUM), Ini.

Sebenarnya, kata Adian, lembaga yang paling senior menangani pemurtadan adalah Dewan Dakwah dan Muhammadiyah.

“Saya pernah dengar almarhum Maftuh Basyuni, ‘Andaikan tidak ada Muhammadiyah, entah apa jadinya Indonesia ini.’ Beliau orang NU, tapi mengakui dalam soal kristenisasi, Muhammadiyah punya track record (rekam jejak) yang panjang,” katanya.

Ketua Program Studi Doktor Pendidikan Islam Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor ini mengusulkan Komite Dakwah Khusus MUI mengundang beberapa anggota dua ormas tersebut untuk konsolidasi dan mematangkan lagi konsepnya supaya lebih profesional dalam melawan pemurtadan.

Selain itu, menurutnya, umat perlu juga memikirkan pemberitaan media.

“Di era sekarang ini, yang paling penting adalah strategi opini. Jadi mohon hati-hati semua yang bergerak di lapangan itu harus menghitung. Kalau kita melangkah begini, yang keluar di media itu apa? Dan jangan terlalu cepat nge-share (informasi) sekarang (di media sosial). Ini semua kan ada masalah hukum,” ujar mantan wartawan Republika ini.

Seperti kasus Dewi di Lombok, NTB, yang diperiksa kepolisian, kata Adian mencontohkan. Karena ketulusan dan kepolosannya, ia merekam dan menyebarluaskan video kasus dugaan bantuan berkedok misi agama tertentu di sana. Dewi tidak tahu bisa dijerat hukum, walaupun ia sebenarnya tidak salah.

“Dibutuhkan bekal khusus memang bagaimana memainkan medsos (media sosial),” katanya.

Oleh karena itu mantan Wakil Ketua Komisi Kerukunan Umat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI), ini mengingatkan agar umat Islam yang melawan pemurtadan di lapangan memakai strategi hukum juga.

Adian juga mengusulkan, harus dibentuk satu lembaga profesional yang menangani pemurtadan. Di dalamnya ada tim yang menulis, mengedit film, bertindak sebagai lawyer, dan jurnalis senior yang bisa memainkan opini. (Andi/sym).

Sumber: Hidayatullah.com

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: