DPW DKI Jakarta dan Depok

Akan Kuinjak Tengkuknya

0 343

Akan Kuinjak Tengkuknya

(Majelis Tadarus Sirah Part 114)

Oleh: Ustadz Murtadha Ibawi

 

Muhammad masih berani menyungkurkan mukanya di tengah-tengah kalian?” Itu pertanyaan Abu Jahal kepada kawan-kawannya.

Seolah ia marah kepada kawan-kawanya itu. Kenapa kalian masih biarkan ia berdiri dan bersujud disitu? Kenapa kalian diam saja? Kalian tidak berani?

Dia sesumbar ia mengatakan.

Demi Lata dan Uzza!” sumpahnya, “Nanti jika aku sendiri yang melihatnya, akan kuinjak tengkuknya. Atau kalau tidak, aku akan benamkan wajahnya ke tanah!”

Dengan sok gagah, Abu Jahal mendatangi Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang tengah khusyu’ dalam munajatnya.

Semua kawannya yang menyaksikan, menduga Abu Jahal akan benar-benar melakukan apa yang baru saja ia ucapkan.

Namun tetiba semua heran. Langkah Abu Jahal terhenti. Setelah itu berjalan mundur, sambil berlindung dengan kedua tangannya. Ada sesuatukah di hadapannya?

Atau, tidak beranikah ia menginjak leher Sang Nabi?_’alaihis shalatu was salam.

Ada apa denganmu?” tanya mereka.

Aku.. Tiba-tiba aku melihat parit. Apinya menyala-nyala. Terbentang antara aku dan dia! Dan anehnya, aku juga melihat ada sayap-sayap..” Abu Jahal menceritakan apa yang dilhatnya. Sesuatu yang ia juga heran, entah apa itu.

Parit?

Api?

Sayap?

Ini di tengah Masjidil Haram. Di Maqam Ibrahim. Di dekat Ka’bah.

Mana ada parit? Apa lagi api? Sayap? Sayap apakah itu?

Apa sebenarnya yang disaksikan oleh Abu Jahal itu?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam menceritakan kepada para shahabat, tentang apa yang dilihat oleh Abu Jahal itu. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari maupun Imam Muslim rahimahumallah.

“Sekiranya ia memaksakan diri mendekatiku..” kata Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam, “..pasti para Malaikat akan menyambarnya sepotong demi sepotong..”

Allah Ta’ala perlihatkan tanda kekuasaan-Nya secara khusus kepada Abu Jahal. Namun, apakah ia kemudian merasa takut? Mengakui kenabian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wsallam? Tidak.

Justru ia semakin tak terhentikan. Semakin keras hatinya. Semakin keras pula menentang kebenaran, padahal hati kecilnya mengakui. []

 

Referensi:

  • Ar Rahiqul Makhtum
  • Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Fii Makkah

Penulis: Murtadha Ibawi (Pendiri Majelis Tadarus Sirah)

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: