DPW DKI Jakarta dan Depok

Akan Kujatuhkan Batu di Kepalanya

Oleh Ustadz Murtadha Ibawi

0 274

 

Majelis Tadarus Sirah Part 117

Imam Ibnu Ishaq menyebutkan kisah ini, ketika Abu Jahal berniat membunuh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia ingin menimpakan batu, nanti ketika Nabi sedang sujud.

Jika ditinjau dari sisi sanad, kisah ini tidak shahih. Namun kisah bagaimana Abu Jahal dan para elit Quraisy menggangu dan menyakiti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah banyak disebutkan dalam hadits-hadits shahih. Adapun riwayat dari Imam Ibnu Ishaq yang seperti ini, bisa dijadikan pelengkap informasi.

“Wahai kaum Quraisy sekalian, Muhammad benar-benar tidak mau berhentii. Dia terus-menerus sesat-sesatkan nenek moyang dan mencela tuhan-tuhan kita..” kata Abu Jahal malam itu, sebagaimana yang sudah sering mereka ulang.

“Aku berjanji kepada Allah, besok aku akan cari batu sekuat yang aku bisa panggul. Aku akan timpakan ke kepalanya sewaktu dia sujud..” itu janjinya. Di hadapan para pemuka Quraisy.

“Kalian boleh menyerahkanku kepada Bani Abdi Manaf. Atau jika kalian bersedia melindungiku, itu juga silahkan..”

Abu Jahal siap menjadi ‘martir’ untuk membunuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan sok pahlawan juga ia berikan pilihan kepada perwakilan kabilah-kabilah itu. Mau diserahkan silahkan, mau dibela juga silahkan.

“Tidak.. Demi Allah, kami tidak akan menyerahkanmu. Kami akan membelamu jika Bani Abdi Manaf menuntut balas. Lakukanlah apa yang telah engkau rencanakan itu..” itu pula janji para pemuka.

Keesokan harinya, Abu Jahal sudah bersiap-siap. Di tangannya sudah ada batu, sebagaimana yang ia katakan semalam. Ia tunggu kedatangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang seperti biasa shalat di depan ka’bah.

Betul, datanglah baginda nabi yang ditunggunya. Beliau berdiri di antara dua rukun, Rukun Yamani dan Hajar Aswad. Wajahnya menghadap Ka’bah, sambil berkiblat ke Baitul Maqdis di Palestina.

Abu Jahal berjalan mendekat. Sambil ia tunggu, nanti ketika sujud akan ditimpakannya batu itu.

Semua, kawan-kawannya itu juga menunggu. Mereka ingin melihat Abu Jahal menimpakan batu di tangannya itu.

Namun..
Semua heran. Langkahnya mundur. Kulitnya pucat pasi. Dia gemetar ketakutan.
Ada apa? Padahal semalam ia berapi-api. Bagaimana bisa dia bergetar sampai batu itu jatuh dari tangannya?

“Ada apa denganmu wahai Abul Hakam?”, tanya mereka.

“Tiba-tiba aku melihat unta jantan. Aku belum pernah melihat yang kepala, leher, dan taringnya seperti itu. Dia akan memangsaku hidup-hidup..” sambil masih terngiang jelas di pelupuknya, Abu Jahal menjelaskan alasannya itu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, “Itu adalah Jibril. Andai dia mendekat lagi, Jibril akan menyambarnya..”

Subhaanallah..
Entah sudah berapa kali tanda-tanda kenabian seperti ini disaksikan oleh Abu Jahal.

Memang benar apa yang difirmankan oleh Allah ta’ala (yang artinya):
“Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang ada di dalam dada.” (QS. Al Hajj: 46)

Referensi:
– Tahdzib Sirah Ibnu Hisyam
– Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Fii Makkah, Dr. Yahya Al Yahya

✍🏼
Murtadha Ibawi
Majelis Tadarus Sirah

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: