DPW DKI Jakarta dan Depok

Aneh, Kok Tuhan Cuma Satu?

0 351

ANEH, KOK TUHAN CUMA SATU?

(Majelis Tadarus Sirah Part:100)

Oleh: Ustadz Murtadha Ibawi

Apa sebetulnya yang yang diingkari oleh orang-orang Makkah sehingga mereka tidak mau beriman? Ada banyak. Di antaranya, mereka merasa aneh, “Kok tuhan cuma satu?”

 

Nenek moyang mereka adalah seorang nabi, Nabi Isma’il. Ayahnya juga seorang nabi, Nabi Ibrahim. Beliau berdua ‘alaihimas salam yang membangun Ka’bah. Mereka juga hafal jalur nasab itu. Lalu bagaimana bisa mereka menjadi musyrik?

 

Bagaimana bisa di Ka’bah ada ratusan berhala?

Bagaimana bisa mereka beralih menyembah berhala, justru di tempat yang dibangun oleh nenek moyangnya untuk mentauhidkan Allah?

 

Itulah salah satu dampak vakumnya bumi dari wahyu selama ratusan tahun.

 

 

Awalnya menyimpang sedikit, dibiarkan. Tidak ada yang amar ma’ruf nahi munkar. Lalu penyimpangan dianggap biasa.

 

Setelah diangap biasa, lama-lama jadi budaya, mengakar. Lama-lama jadi standar baru, dianggap sebagai kebenaran.

 

Mungkin Amru bin Luhay tidak pernah membayangkan, kesyirikan yang ia ‘impor’ itu bisa berdampak separah itu. Dialah yang pertama mengajak orang untuk menyembah berhala sepulangya dari Syam.

 

 

Bukan mereka tidak bahwa Allah itu ada. Bukan mereka tidak meyakini bahwa yang Maha Pencipta hanyalah Allah. Bukan mereka tidak meyakini Yang Maha Pemberi Rizki adalah Allah.

 

Allah berfirman (yang artinya):

“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, siapa yang menciptakan langit dan bumi? Mereka akan menjawab, ‘Allah’. Ucapkanlah, ‘Segala puji hanya bagi Allah’. Tetapi sebagian besar mereka tidak berilmu.” (QS. Luqman: 25)

 

Mereka meyakini itu semua. Mereka masih bersumpah dengan kalimat “Demi Allah”. Mereka masih memakai nama “Abdullah” yang bermakna hamba Allah.

 

Hanya saja..

Mereka merasa tidak ‘sreg’ jika yang disembah hanya satu saja, Allah Yang Maha Besar. Rasanya aneh bagi mereka.

 

 

Sebetulnya, kasus yang sama juga dahulu dialami juga oleh Nabi Ibrahim. Beliau yang dulu berusaha membuka mata kaumnya, menyadarkan dengan logika.

.

Dengan cara yang unik, beliau ajak kaumnya menggunakan akal sehat. Beliau hancurkan berhala-berhala kecil, lalu disisakan yang terbesar.

 

Seolah beliau mengatakan , “Itu, tanyakan saja kepadanya. ‘Kan sejak kemarin dia disini. ‘Tuh.. dia yang bawa kapak. Dia yang paling besar pula. Mungkin dia sedang marah, lalu dia pukuli anak buahnya..”

 

Seharusnya kaumnya sadar, berhala itu tuli, bisu, tidak bisa berbuat apa-apa. Mengapa disembah?

 

 

Sejarah berulang, kaum Quraisy jatuh pada kesalahan yang sama. Mereka menyembah sesuatu yang tidak bisa bicara, tidak bisa mendengar, tidak bisa berbuat apa-apa.

 

Bahkan seandainya ada lalat menempel di hidungnyapun, berhala itu tidak berkutik. Lalu apa alasan mereka?

 

“..tidaklah kami menyembah berhala-berhala itu melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya..” (Terj. QS. Az Zumar: 3)

 

Rupanya mereka ingin agar berhala-berhala itu mendekatkan kepada Allah sedekat-dekatnya.

 

 

Mereka merasa aneh ketika Nabi mengajak kepada Islam.

Kok cuma satu yang disembah..?

.

“Dan mereka terheran-heran ketika ada seorang pemberi peringatan (rasul) berasal dari kaum mereka sendiri. Orang-orang yang kafir itu berkata, ‘Ini adalah tukang sihir yang banyak berdusta. Mengapa dia ubah penyembahan kepada tuhan-tuhan itu menjadi penyembahan kepada satu tuhan saja? Sungguh ini benar-benar mengherankan..” (Terj. QS. Shad: 4-5)

 

Dan beranjaklah para pemuka-pemuka itu sambil berkata, ‘Lanjutkanlah oleh kalian penyembahan terhadap tuhan-tuhan itu, pertahankan keyakinan kalian. Sesungguhnya ini (ajaran tauhid yang dibawa Nabi itu) benar-benar sesuatu yang dikehendaki (olehnya supaya kita melakukan itu). Kami belum pernah mendengar ajaran ini (tauhid) dalam agama yang terakhir. Tidak lain ini hanyalah (dusta) yang diada-adakan..” (Terj. QS. Shad: 6-7)

 

 

Terputusnya mereka dari sentuhan wahyu, membuat mereka berimajinasi sendiri. Mereka berkhayal tentang ketuhanan.

 

Mereka bayangkan tuhan itu punya istri dan anak-anak. Istrinya dari kalangan jin, lalu punya putra-putri. Mereka mengarang sendiri, malaikat adalah putri-putri tuhan.

 

“Dan mereka menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah lah yang menciptakan jin-jin itu. Mereka berdusta (dengan mengatakan), ‘’Allah mempunyai anak, laki-laki dan perempuan’’ tanpa dasar ilmu. Maha Suci Allah lagi Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka tuduhkan.” (QS. Al An’am: 100)

 

“Dia adalah pencipta langit dan bumi. Bagaimana mungkin Dia mempunyai anak, padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia yang menciptakan segala sesuatu; dan Dia Maha Mengetahui atas segala sesuatu itu.” (QS. Al An’am: 101)

Subhaanallah..

 

 

“Laa ilaaha illallah..”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hanya mengajak kepada kalimat ini. Tidak ada yang berhak disembah melainkan hanya Allah semata.

Pendek dan ringan sepertinya.

 

Namun berawal dari kalimat pendek inilah mereka akhirnya memusuhi, mengusir, dan memerangi.

 

Di atas kalimat pendek ini pula kita azzamkan untuk hidup dan mati.

 

Disarikan dari:

  • As Sirah An Nabawiyyah Jami’ah Al Madinah Al ‘Alamiyyah
  • As Sirah An Nabawiyah Ash Shallabi

Penulis: Ustadz Murtadha Ibawi (Pengajar Sekolah Sirah Jakarta dan Pendiri Majelis Tadarus Sirah)

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: