DPW DKI Jakarta dan Depok

Banjir Cicurug Terdashyat Dari 30 Tahun Terakhir

Dalam wawancara bersama Tim WIZ Care (Senin, 22/09/2020) Setia Budi mengaku sudah tinggal di kampung Cibuntu, Desa Pasawahan, Cicurug, Sukabumi selama kurang lebih 30 tahun dan baru kali ini menemui banjir dahsyat yang menerjang kampungnya

Tim WIZ Care Mengunjungi Banjir Cicurug Sukabumi
0 229

Banjir Bandang di Cicurug Capai Ketinggian 4 Meter

SUKABUMI – Berada di lokasi sungai tempat banjir bandang, Relawan WIZ Care berhasil mewawancarai salah seorang warga bernama Setia Budi yang menjadi saksi hidup melihat bagaimana banjir bandang terjadi.

Air sungai yang tadinya berkedalaman sekitar 4 meter, kini hanya sejengkal karena dibanjiri pasir berbatu halus dan lumpur dari aliran banjir bandang yang menghantam puluhan rumah, menghanyutkan beberapa mobil, dan mengakibatkan ratusan orang mengungsi di sekitar rumah Setia Budi.

Banjir Cicurug Ini Paling Dashyat Dibandingkan 30 Tahun Terakhir

Dalam wawancara bersama Tim WIZ Care (Senin, 22/09/2020) Setia Budi mengaku sudah tinggal di kampung Cibuntu, Desa Pasawahan, Cicurug, Sukabumi selama kurang lebih 30 tahun dan baru kali ini menemui banjir dahsyat yang menerjang kampungnya. “Ini selama saya tinggal disini, baru pertama kali kejadian banjir dahsyat seperti ini. Kejadian disini luar biasa gitu yah, sampai ini rumah saya kena semua, rumah saya kena, naik air semua kedalam. begitulah kronologinya”, katanya.

Banjir bermula dari hujan deras pada senin malamnya tanggal 21 September 2020. Pak Setia Budi waktu itu melihat ada kayu besar dari gunung yang dibawa oleh longsor yang terdorog ke jembatan sehingga jembatan tertutup maka air meluap kemana-mana. ” Kayu-kayu besar ini kan didorong dari gunung. Jadi mungkin diatas longsor. Jadi kayu itu mendorong jembatan, jembatan itu ketutup. Jadi airnya melebar kemana mana”, ucapnya.

Dampak Banjir Cicurug

Dampak dari banjir cicurug ini menurut Pak Setia Budi ada kurang lebih 10 rumah yang hanyut. Adapun lokasi yang terdampak banjir tersebar di 3 lokasi, Cibuntu, Koek, dan Setia Budi. Ditemukan korban jiwa sebanyak 2 orang yang merupakan warga pendatang asal Tasik. Sementara yang luka-luka ada 2 – 3 orang.

“Atas izin Allah rumah saya tidak terlalu kebanjiran air, karena mesin cuci menghalangi pintu masuk rumah yang menghalangi air masuk. Sehingga bagian rumah saya tidak terlali berlumpur”, lanjut Budi.

Setia Budi berpesan untuk ke depannya agar masyarakat lebih peduli terhadap lingkungannya dengan tetap menjaganya dan menghindari penebangan liar dan membuang sampah sembarangan.

“Mungkin lebih hati-hati menjaga lingkungan terutama lingkungan penghijauan dan penebangan liar dan teruntuk warga yang di sekitar jangan buang sampah sembarangan”, pesan Setia Budi

“Kebutuhan yang mendesak bagi masyarakat sekitar untuk sementara paling bahan pokok seperti makanan, pakaian soalnya sebagian warga banyak yang pakaiannya pada hanyut dan yang lainnya seperti kesehatan alhamdulillah udah ada yang menangani dari PMI, dll”, pungkasnya. [yd/rsp]

**

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: