DPW DKI Jakarta dan Depok

Begini Cara Ustadz Zaitun Semangati Pengungsi Korban Bencana Sulteng

0 167

Begini Ustadz Zaitun Menyemangati Pengungsi Korban Bencana Sulteng

(PALU), wahdahjakarta.com– Ketua Umum DPP Wahdah Islamiyah Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin mengunjungi pengungsi  korban Gempa Bumi, Tsunami dan Likuifaksi Sulawesi Tengah di Kompleks Pengungsian Bukit Suharto, Kelurahana Petobo, Palu, Kamis (1/11/2018).

Kunjungan ini dalam rangka silaturrahim dan dimulai sejak Kamis pagi  dengan rangkaian kegiatan, antara lain Taushiyah, Pembagian Paket Logistik, Pembagian Paket Ceria, dan Makan Siang Bersama.

Di hadapan ratusan warga yang hadir ia berpesan, sebagai orang beriman, musibah apapun yang terjadi, walaupun membuat kita sedih, namun kita harus mengakui bahwa musibah itu tidak terlepas dari ketentuan Allah Ta’ala.

“Dalam menghadapi kejadian seperti itu, kita harus semakin memperkuat keimanan terhadap takdir Allah Taala, bahwa apapun yang terjadi, semuanya adalah kehendak Allah. Kita harus meyakini ketika Allah berkehendak, maka ada kebaikan yang diharapkan untuk kita,” tuturnya.

Untuk semakin menguatkan keyakinan warga, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat ini mengangkat kisah tentang keutamaan berprasangka baik terhadap takdir Allah.

“Ada cerita yang menarik, dan kisah ini telah masyhur diangkat oleh para Ulama sebagai peneguh keimanan”, kata Ustadz Zaitun memulai kisahnya.

“Suatu ketika, tersebutlah seorang Sultan yang berkuasa dalam suatu negeri. Hingga terjadi dalam suatu waktu, ibu jari tangan sang Sultan terputus akibat insiden kecil. Maka peristiwa ini tersebar di kalangan petinggi Kesultanan. Seorang Menteri yang terkenal setia dan selalu mendampingi Sultan khususnya ketika berburu, tiba-tiba menasehatkan kepada sang Sultan dengan berkata ‘Fihi Khayr’ yang artinya ‘itu adalah kebaikan’ . Sang Sultan tiba-tiba marah dan memenjarakan si Menteri tersebut akibat perkataannya. Selang beberapa hari kemudian, Sang Sultan keluar istana untuk menekuni hobinya yakni berburu. Hingga sampai pada suatu ketika, sang Raja diculik oleh sebuah Suku Jahiliyah di tengah padang pasir. Salah satu kepercayaan Suku ini adalah jika ada orang pertama yang mereka jumpai dalam pengembaraan maka harus dikorbankan dengan cara disembelih. Namun beruntung, suku tersebut kemudian melepaskan sang Sultan karena menjumpai adanya kecacatan pada dirinya, yakni ibu jari yang telah terputus. Ketika kembali ke Istana, Sultan sangat bergembira dengan kebebasannya dan membebaskan Menteri yang pernah djpenjarakannya. Saat keluar, sang Sultan bertanya kepada sang Menteri perihal perkataannya ‘Fiihi Khayr’ saat dijebloskan ke penjara. Sang Menteri menjawab, jika ia tidak dipenjaran maka ia lah yang akan menemani Sultan berburu, dan ketika tertangkap oleh Suku Jahiliyah, maka Suku itu akan menyembelih sang Menteri karena berbadan sempurna dibanding sang Raja yang cacat, ” kisahnya.

Perkataan sang Menteri ‘Fiih Khayra’ menurut Ustad Zaitun, adalah perkataan yang terlontar karena keimanan, karena meyakini bahwa segala sesuatu adalah kebaikan.

“Maka kisah ini memberikan pelajaran besar bagi kita untuk berprasangka baik kepada segala sesuatu yang terjadi pada kita. Insya Allah rumah kita yang hancur akibat Gempa akan diganti oleh Allah dengan rumah yang lebih baik. Keluarga kita yang hilang akan diganti dengan kebaikan, dan keadaan lainnya, ” pungkas Ketua Ikatan Ulama dan Dai Asia Tenggara ini.

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: