DPW DKI Jakarta dan Depok

Belalainya, Kami Akan Tandai

0 245

BELALAINYA, KAMI AKAN TANDAI
(Majelis Tadarus Sirah Part 104)
Oleh: Ustadz Murtadha Ibawi (Pendiri Majelis Tadarus Sirah)

“Jika dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia mengatakan, ‘Ini hanyalah kumpulan dongeng orang-orang terdahulu” (QS Al Qalam: 15)

“Kelak dia akan Kami beri tanda pada ‘belalai’-nya” (QS Al Qalam: 16)

Siapakah gerangan orang tersebut? Belalainya akan ditandai?

Adalah An Nadhr bin Harits, salah satu pembesar Quraisy. Keindahan, kejelasan, dan kedalaman makna Al Qur’an, tak bisa dipungkirinya.

Mau dibilang syai’r, bukan. Mau diilang jampi-jampi sihir juga bukan. Orang gila? Bukan juga. Mau dibilang apa lagi?

“Wahai sekalian kaum Quraisy..!” ucapnya di hadapan para pemuka kaum itu. “Demi Allah. Sekarang kalian sedang dihadapkan pada satu urusan besar, yang belum pernah kalian hadapi sebelumnya.”

“Kemarin-kemarin kita masih melihat Muhammad ini pemuda lugu yang sangat kalian sangat cintai. Paling jujur kata-katanya, paling kuat sifat amanahnya.”

“Namun sekarang..,” lanjutnya, “..saat kalian lihat ada sedikit uban di kepalanya, dan dia membawa perkara yang kalian hadapi ini, tiba-tiba kalian tuduh dia tukang sihir? Bagaimana mungkin?”

“Tidak! Dia bukan penyihir. Kita sama-sama tahu seperti apa tukang sihir itu. Kita sama-sama pernah melihat tali temali dan buhul-buhul santet mereka. Kita sama-sama tahu bagaimana para tukang sihir itu komat-kamit dan menyembur-nyembur..”

“Dukun? Juga bukan! Kita sama-sama tahu bagaimana mereka komat-kamit membaca mantera-mantera..”

“Penyair? Bukan. Kita sama-sama mengenal syair dan macam ragamnya. Baik yang ‘hajaz’ maupun ‘rajaz’…”

“Kalian tuduh gila? Demi Allah, mana mungkin? Dia tidak meranung-raung, tidak pula menceracau.. Dia tidak gila..”

“Wahai sekalian kaum Quraisy.. Kalian benar-benar dihadapkan pada perkara besar..”

An Nadhr memutar otak.
Dia tahu, Al Qur’an memang banyak berkisah. Tentang perjalanan hidup manusia-manusia. Yang shalih maupun yang ‘thalih’. Bagaimana kesudahan ahlul haq dan kesudahan ahlul bathil.

Indah bahasanya, mendalam maknanya.

Berangkatlah An Nadhr ke Hirah, negeri Persia.

Sepulang dari sana, dia bawa serta mitos dan epos-epos Persia. Kisah Rustum, Isfandiyar, dan dongengan raja-raja.

Setiba di Makkah, An Nadhr membuka majelis tandingan.

Dia mulai berani menuduh Al Qur’an sama-sama dongengan.
“Ini hanyalah ‘asaathiirul awwaliin’. Yang dibacakan Muhammad itu hanya dongeng belaka..”

“Wahai orang-orang Quraisy.. Demi Allah! Aku punya yang lebih indah dari apa yang dimiliki Muhammad. Marilah kemari. Dengarkan, aku akan berkisah…”

Bertuturlah ia..
Tentang mitos dan epos raja-raja.
Tentang manusia-manusia yang dianggap setengah dewa.

“Bagaimana..? Dari sisi apa Muhammad bisa menandingi kisah-kisahku..?”

Al Qur’an berkisah, An Nadhr pun berkisah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam bermajelis, An Nadhr pun bermajelis.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkisah, bertabur ibrah. Tutur katanya adalah lautan hikmah.

Adapun An Nadhr, majelisnya adalah majelis dongeng. Dia buat ‘opini pembanding’. Lalu agitasi, hasutan penuh kedengkian, “Jangan kalian dengarkan Muhammad..”

Bagaimana mungkin dia bisa menandingi Al Qur’an, kalam Rabbul ‘Alamin?

Mutiara tetaplah mutiara, meskipun dikubur dalam serpihan kaca.

“Kelak dia akan Kami beri tanda pada ‘belalai’-nya” (QS Al Qalam: 16)

Bertahun-tahun kemudian, benarlah terjadi..
Ia terbunuh di Perang Badar, sebagaimana yang diriwayatkan oleh shahabat mulia Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

Hidungnya terpancung. Itulah cara ia ditandai.
Tanda yang membuatnya mudah dikenali. Tanda abadi, dalam siksa yang abadi.

Referensi:
– Tahdzib Sirah Ibnu Hisyam
– Ar Rahiqul Makhtum
– Nihaayatus Sul fii Khasha’isir Rasul_shallallahu ‘alaihi wasallam
– Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam fii Makkah

Penulis: Murtadha Ibawi (Pendiri Majelis Tadarus Sirah)

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: