DPW DKI Jakarta dan Depok

Bersolidaritas di Tengah Kondisi Tiarap

0 20

Bersolidaritas di Tengah Kondisi Tiarap

“Sepenggal Kisah dan Kiprah Muslimah Wahdah di Tengah Pandemi”

 

Ilmu adalah yang bermanfaat, bukan hanya dihafalkan.” (Imam Syafi’i)

Bagi yang mengenal Imam Syafi’i, mungkin familiar dengan kalimat di atas. Sepintas saya merasa kalimat tersebut dekat dengan apa yang saya dengar dari penuturan Ustadzah Harisa Tipa Abidin, Ketua Muslimah Wahdah Islamiyah Pusat, mengenai aktivitas sosial Muslimah Wahdah Islamiyah.

 

Hanya sekitar setengah jam mengobrol lewat sambungan telepon dengan Ustadzah Harisa, atau biasa juga disapa Ummu Khalid, saya mendapat banyak penggalan-penggalan cerita pengalaman bersolidaritas yang kaya akan kebermanfaatan. Ustadzah Harisa menaungi organisasi Muslimah Wahdah Islamiyah yang aktif dalam kegiatan sosial dan pendidikan. Namun, kerja-kerja sosial organisasi ini menjadi tidak mudah ketika pagebluk Corona melanda dunia.

 

Hadir di Tengah Kondisi “Tiarap”

Kepada saya, Ummu Khalid menggambarkan keadaan dua tahun belakangan sebagai kondisi “tiarap”. Pasalnya, pandemi berimbas ke banyak aspek kehidupan, utamanya sosial dan ekonomi. Namun, alih-alih mundur, atau sekadar rehat sejenak di tengah situasi yang sulit ini, para relawan kemanusiaan Muslimah Wahdah Islamiyah justru tancap gas dalam membantu sesama.

 

Ribuan relawan tak mau ketinggalan mengambil perannya di tengah masyarakat yang menghadapi masa-masa gawat ini, dengan terjun ke lapangan selang tiga pekan pasca-pengumuman pembatasan sosial besar-besaran, untuk menahan laju penyebaran Covid-19, pada 15 Maret 2020 lalu. Mulai dari berbagi vitamin, masker, hingga sembako bagi mereka yang terdampak pandemi. Mereka bergerak ke lapisan masyarakat paling terdampak, antara lain sopir becak motor, buruh bangunan, dan pedagang kecil.

 

Tidak hanya itu, tenaga kesehatan yang menjadi garda terdepan penanganan Covid-19 juga tak luput menjadi perhatian utama. Salah satunya, Ummu Khalid mengatakan bahwa Muslimah Wahdah Islamiyah menyiapkan bantuan kemanusiaan bagi para tenaga kesehatan dengan menyiapkan makan sahur, makanan berbuka (iftor), hingga makan malam.

 

Atas izin Allah, semangat kemanusiaan ini nampaknya berbuah berkah, berupa terus mengalirnya bantuan hingga mencapai nilai miliaran rupiah, baik dalam bentuk uang maupun barang.

 

“Dana sosial kita untuk tahun kemarin itu saja, mulai dari Maret, April, Mei, Ahamdulillahnya bisa mengolah dana umat sampai 1,2 Miliar Rupiah, dalam waktu 2,5 bulan se-Indonesia”, terang Ummu Khalid.

 

Bagi saya, yang bersama teman-teman pernah mengikuti kegiatan penggalangan donasi kemanusiaan, nilai bantuan tersebut yang didapat dalam waktu begitu singkat adalah pencapaian luar biasa, dan tentunya hanya bisa lahir dari kerja-kerja yang konsisten.

 

Menjaga Kehormatan saat Membantu di Wilayah Bencana

Tim relawan Muslimah Wahdah Islamiyah dengan nama Relawan Muslimah Peduli juga hampir tidak pernah absen bergerak membantu masyarakat yang terdampak bencana. Tak terkecuali ke Palu, ketika gempa mengguncang kota di Sulawesi Tengah itu. Dengan menumpangi pesawat militer Hercules, Ummu Khalid bersama tim relawan Wahdah Islamiyah bergerak menuju lokasi bencana gempa. Meski khawatir gempa susulan, tapi misi kemanusiaan sudah kepalang di depan mata.

Sesampainya di Palu, situasi semakin sulit, mengingat gempa susulan yang rupanya masih sering terjadi.

“Teman-teman langsung mengingatkan, ‘ummu kalau istirahat nanti tetap berpakaian lengkap ya’ dalam artian tidak menanggalkan jilbab, saya tanya, ‘kenapa?’, ‘di sini kita masih sering sekali ada gempa-gempa susulan’. Dan benar, sehingga posisi kita waktu tidur itu meskipun kita di dalam kelas, itu tidak berada di tengah-tengah ruangan, rata-rata kita ambil posisi di pinggir dekat pintu, karena ketika ada tanda gempa susulan yang cukup besar, itu kita diminta untuk sesegera mungkin lari”, kata Ummu Khalid.

 

Menariknya, menurut Ummu Khalid, meski bertugas di wilayah bencana, tim Relawan Muslimah Peduli tetap konsisten menjaga prinsip syariat, seperti menjaga aurat, dan menjaga batasan sosial dengan para relawan pria.

 

Saya jadi teringat dengan relawan kemanusiaan di Gaza, Palestina, bernama Razan Al-Najjar. Paramedis berusia 21 tahun itu bertugas di garis depan demonstrasi warga Palestina yang menentang penjajahan Israel pada 2018 silam. Dengan tetap menjaga auratnya dan bersikap profesional, Razan terus berjuang menolong para demonstran yang terluka, baik laki-laki maupun perempuan. Atas takdir Allah, hingga akhir hayatnya ketika tertembak timah panas tentara Israel, Razan meninggal dunia dalam kondisi berhijab. Kaum perempuan di Gaza pada umumnya bahkan memilih tidur dengan hijab lengkap, karena Israel terus membombardir wilayah Gaza, dan mereka tak ingin auratnya tersingkap seandainya meninggal dunia dalam serangan-serangan itu. Warga Gaza bernama Abeer Z Barakat, yang diwawancarai Republika.co.id mengatakan, “Kami berdoa kepada Allah, jika ada apa-apa terjadi, misalnya harus meninggal tiba-tiba, kami tetap dalam keadaan satr (tertutupi)”.

 

Semua Muslimah Bisa Bergerak

Para Relawan Muslimah Peduli memiliki beragam latar dan profesi. Mereka adalah ibu rumah tangga dengan segala tanggung jawab dan perannya sebagai ibu dan istri, mereka adalah mahasiswa-mahasiswa yang harus berbagi waktu dengan tugas-tugas kuliah yang tak jarang menumpuk, mereka juga adalah para pegawai negeri, guru-guru yang tak kalah sibuknya, termasuk tenaga kesehatan dengan kesibukannya menangani pasien.

 

Meski memiliki kesibukan dan tanggung jawab masing-masing, sekitar dua ribu Relawan Muslimah Peduli menyempatkan sepersekian waktunya untuk diisi dengan bersolidaritas menolong sesama. Untuk menyemangati kaum muslimah dalam bergerak meski harus berbagi peran, Ummu Khalid berpesan, “Janji dan firman Allah SWT, ‘in tansurul laaha yansurkum’ (QS Muhammad ayat 7), kapan kita menolong agama Allah, yang masuk di dalamnya adalah umat-umat, manusia, sesama kaum muslimin, maka yakin bahwa kita juga akan ditolong oleh Allah SWT”.

 

Ummu khalid menambahkan, kontribusi tak harus selalu dalam porsi yang besar, setidaknya kita meyakinkan diri bahwa ketika seseorang mendapat musibah, ibarat ada seseorang hanyut maka dia pasti butuh pertolongan, sekecil apapun. Sebab meski seumpama ada padang ilalang yang rapuh di pinggir kali, maka orang yang hanyut itu akan meraihnya sebagai pegangan. Lebih lanjut Ummu Khalid mengatakan, Muslimah Wahdah Islamiyah membuka peluang bagi yang ingin menjadi relawan bukan hanya untuk turun langsung pasca-bencana terjadi, tetapi juga ada hal lain yang bisa dilakukan, misalnya, program healing atau pemulihan trauma bagi para korban bencana, terutama untuk perempuan dan anak-anak. Dengan begitu, semestinya tak ada yang bisa menjadi belenggu yang menghalangi gerak membantu sesama, sebab masih banyak ruang-ruang yang bisa diisi untuk berkontribusi.

 

Kembali ke penggalan kalimat Imam Syafi’i di awal tulisan ini, rasanya segudang ilmu yang kita kuasai selama ini memang belum paripurna tanpa kita turut menjadi penerang jalan bagi sesama. Tak perlu berpikir untuk harus menjadi bak Messiah atau Sang Juru Selamat yang kehadirannya dinanti banyak umat yang membutuhkan pertolongan. Setidaknya adanya kita di dunia ini bisa menjadi manfaat bagi sesama, meski hanya dimulai dengan mengambil langkah terkecil. Semoga terus bermunculan aktivis kemanusiaan muslimah, yang tak lelah memanusiakan manusia, yang tak segan berkiprah membidani perubahan dengan bekal ilmu dan kemampuan yang dimiliki, dan tentunya menjadi harapan masyarakat, terutama bagi mereka kaum mustadh’afin, mereka yang mengalami penindasan dan hidup dalam keadaan serba terbatas.

 

Hafiyah Yahya (Jurnalis Metro TV, Dua setengah tahun bekerja sebagai reporter berita indepth, Peminat isu sosial)

 

Artikel ini telah terbit di website muslimahwahdah.or.id dengan judul ”Kala Muslimah Bersolidaritas“.

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: