DPW DKI Jakarta dan Depok

Bingung Mengenali Tanda Suci dari Haid

0 338

Bingung Mengenali Tanda Suci dari Haid

Bingung Mengenali Tanda Suci dari Haid

Pertanyaan: “Assalamu Alaikum, ust saya seorang mahasiswi, sampai sekarang saya masih belum terlalu mengerti terkait tanda bersihnya seorang wanita dari haid. Mohon penjelasannya. Syukran”.

Jawaban: Wa’alaikum salam. Perlu diketahui, tanda seorang wanita itu telah bersih (suci) dari haid ada pada satu dari dua keadaan.

Pertama: “Al-Qasshah Al-Baidha’”, atau keluarnya cairan putih sebagai tanda berhentinya haid.

Kedua: “Al-Jufuf”, atau terhentinya darah keluar, di mana jika diusap dengan kapas, kain putih, atau sejenisnya ia tetap kering dan tidak meninggalkan bekas apapun.

Umumnya, tanda wanita bersih dari haid adalah keluarnya cairan putih (Al-Qasshah Al-Baidha’). Dan ini merupakan tanda paling meyakinkan. Sebab, setelah keluarnya cairan putih, dipastikan tidak akan keluar darah lagi, berbeda dengan tanda Al-Jufuf. Kecuali jika kebiasaannya tidak keluar cairan putih. Maka yang menjadi acuan adalah Al-Jufuf (kering).

Ini berdasarkan riwayat dari Aisyah Radhiallahu Anha, tatkala beberapa wanita datang kepada beliau bertanya tentang bersihnya wanita dari haid dengan membawa tas kecil berisi kapas yang ada padanya Ash-Shufrah (cairan kekuningan). Maka beliau berkata:

لاَ تَعْجَلْنَ حَتَّى تَرَيْنَ القَصَّةَ البَيْضَاءَ

Jangan kalian terburu-buru, hingga kalian melihat Al-Qasshah Al-Baidha’”. Imam Bukhari mengomentari: “Maksud Aisyah, (jangan buru-buru) merasa suci dari haid.” (Riwayat Imam Bukhari).

Sebagian ulama ada yang memberi perincian terkait masalah ini, yakni:

Pertama: Jika wanita memiliki kebiasaan suci dengan cairan putih lalu mendapati tanda Al-Jufuf, maka dia harus menunggu sampai keluar cairan putih. Masa menunggu itu sampai satu hari, dan ini merupakan pendapat Ibnu Qudamah dan Syaikh Al-Utsaimin.

Kedua: Jika wanita memiliki kebiasaan suci dengan Al-Jufuf lalu mendapati cairan putih, maka tidak perlu menunggu Al-Jufuf. Tapi jika pertama kali yang dilihat olehnya tanda Al-Jufuf, maka tidak perlu menunggu cairan putih.

Ketiga: Jika wanita memiliki kebiasaan suci dengan kedua tanda ini, lalu mendapati tanda Al-Jufuf, maka dia harus menunggu cairan putih sampai batas waktu sehari, sebagaimana pada poin pertama. Namun jika yang nampak pertama kali tanda cairan putih, maka tidak perlu menunggu Al-Jufuf.

Ketahuilah, cairan kekuningan (Ash-Shufrah) itu biasanya keluar sebelum adanya tanda bersihnya wanita dari haid sebagaimana telah dijelaskan. Makanya Aisyah memerintahkan untuk tidak tergesa-gesa menganggap diri telah suci semata dengan melihat cairan kekuningan tersebut.

Terakhir, cairan kekuningan (Ash-Shufrah), atau cairan berwarna keruh (Al-Kudrah), jika keluar sebelum ada tanda suci (masih dalam keadaan haid atau bersambung dengan haid), maka ia dianggap sebagai bagian dari haid. Adapun jika keduanya keluar saat setelah bersih (melalui tanda-tanda suci), maka ia tidak dianggap sebagai bagian dari haid. Hingga atas wanita tersebut kewajiban mendirikan shalat, berpuasa, dan selainnya.

Dalilnya, keterangan dari Ummu Athiyah Radhiallahu Anha, beliau mengatakan:

كُنَّا لَا نَعُدُّ الْكُدْرَةَ، وَالصُّفْرَةَ بَعْدَ الطُّهْرِ شَيْئًا

Kami tidak menganggap cairan keruh (Al-Kudrah) atau kekuningan (Ash-Shufrah) setelah suci sebagai bagian dari haid”. (HR. Abu Daud, Shahih). Wallahu A’lam.

Sumber: Akun facebook Ustadz Rapung Samuddin, Lc, MA

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: