DPW DKI Jakarta dan Depok

Duduk Sama Rendah Berdiri Sama Tinggi

0 378

DUDUK SAMA RENDAH BERDIRI SAMA TINGGI

(Majelis Tadarus Sirah Part 99)
Oleh: Ustadz Murtadha Ibawi

Hari itu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam duduk bersama beberapa shahabat. Beliau semajelis bersama Bilal bin Rabah, Khabbab bin Arat, Ammar bin Yasir, Shuhaib, Ibnu Mas’ud, dll – radhiyallahu ‘anhum ajma’in.

Bagi para priyayi Quraisy, duduk semajelis bersama mereka adalah aib. Para budak itu adalah masyarakat ‘kelas bawah’. Sudah statusnya budak, secara etnis ‘Non Quraisy’ pula. Ditambah lagi secara pekerjaan, mereka hanya pekerja kasar. Mereka adalah pandai besi, penggembala, dan lain sebagainya. Mereka bukan ‘kerah putih’.

Memang disana ada juga putra-putra ‘priyayi’. Namun mereka adalah orang-orang terusir seperti Sa’ad bin Abi Waqqash.

Sejarah berulang.

Dahulu Nabi Nuh juga pernah direndahkan, hanya karena para pengikut beliau bukan kalangan ‘borjuis’. Para priyayi dari umat nabi Nuh itu menolak kebenaran dengan angkuhnya.
.
Mereka berkata, “Bagaimana mungkin kami beriman kepadamu, sedangkan pengikutmu adalah orang-orang rendahan?” (QS Asy Syu’ara’: 111)

Hari itupun para priyayi Quraisy mendatangi Sang Nabi ‘alaihis shalatu was salam, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ath Thabari dengan sanadnya. Dari shahabat mulia Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.

“Wahai Muhammad, engkau nyaman dengan orang-orang rendahan ini? Seperti ini orang-orang yang ‘Allah karuniai anugerah’? Lalu kami harus ikuti mereka-mereka ini?”
.
Itulah sebentuk protes mereka. Seolah mereka mengatakan, mana bisa kami duduk bersama orang-orang ini? Kami tidak selevel. Kami tidak sudi.
.
Tidak cukup sampai disitu. Para ‘priyayi’ ini ingin mendengarkan ‘taushiyah’ dari Sang Nabi secara ekslusif. Satu syaratnya, “Suruh pergi dulu orang-orang ini”.

Bagai petir manyambar, seketika turun Jibril ‘alaihis salam membacakan firman Rabb-nya. Detik itu terjadi ‘kasus’, detik itu pula turun pengajaran. Inilah ‘kurikulum langit’.
Pengajaran ini seolah mendobrak pintu jahiliyah yang telah lama terkunci.

“Dan janganlah engkau mengusir mereka, yang senantiasa menghadap Rabb-nya di pagi dan petang hari, yang hanya berharap akan wajah-Nya. Engkau tidak memikul tanggung jawab sedikutpun atas perbuatan mereka. Dan merekapun tidak pula memikul tanggung jawab sedikitpun atas perbuatanmu, yang menyebabkan engkau (berhak) mengusir mereka. Engkau termasuk orang yang zhalim (jika tetap mengusirnya)”
(QS. Al An’am: 52).

“Demikianlah, telah Kami uji sebagian mereka (orang-orang kaya) dengan sebagian yang lain (orang-orang miskin). Sampai-sampai terucap dari lidah mereka, ‘Orang-orang semacam inikah di antar kita yang Allah berikan anugerah?’. (Allah berfirman), “Bukankah Allah lebih mengetahui tentang siapa yang bersyukur (kepada-Nya?)”
(QS. Al An’am: 53).

“Dan apabila orang-orang yang beriman terhadap ayat-ayat Kami mendatangimu, ucapkanlah ‘Salaamun ‘alaikum..’ Rabb kalian telah menetapkan sifat ‘rahmah’ pada diri-Nya, (yaitu) barang siapa di antara kalian berbuat kejahatan karena ketidak tahuan kemudian ia bertaubat, lalu memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”
(QS. Al An’am: 54)

Soal ayat ini, Khabbab bin Arat juga menuturkan kisahnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memanggil para shahabat yang duduk di sudut seberang. Lalu beliau bacakan “Salaamun ‘alaikum.. Rabb kalian telah menetapkan sifat ‘rahmah’ pada diri-Nya..”

Khabbab dan kawan-kawanpun melingkar di sisi beliau hingga mejelis berakhir. Saat Rasulullah shallallhu’alaihi wasallam ingin meninggalkan majelis, beliau berdiri lalu beranjak.

Rupanya kembali turun pengajaran dari langit,
“Dan sabarkanlah dirimu (wahai Muhammad) bersama orang-orang yang senantiasa menyeru Tuhannya di waktu pagi dan petang hari hanya mengharapkan wajah-Nya. Janganlah engkau palingkan pandanganmu dari mereka hanya karena mengharap perhiasan dunia ini.” (QS. Al Kahfi: 28)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun kembali duduk.

Setelah kejadian itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak beranjak dari majelis sampai para shahabat beranjak terlebih dahulu. Dan jika bertemu, beliau juga yang mendahului mengucapkan salam.

Sampai beliau katakan di suatu kesempatan, “Segala puji bagi Allah yang telah memilih dari umatku, ada orang-orang yang menyebabkan aku diperintahkan oleh Rabb-ku untuk memulai terlebih dahulu mengucapkan salam”

Subhaanallah..

Kita pernah menyaksikan dalam sejarah, orang-orang Perancis melakukan revolusi hanya karena mereka bosan dengan ketidak adilan dan kesewenang-wenangan.

Mereka muak dengan feodalisme. Mereka bosan dengan kesenjangan “borjuis-proletar”.

Mereka memimpikan ‘liberte-egalite-fraternite’. Mereka mengangankan kebebasan dan kemerdekaan, kesetaraan, lalu persaudaraan. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul.

Sejurus kemudian Amerika juga merdeka, lalu berguru kepadanya.

Apakah mereka berhasil? Tidak.

Bagi mereka itu semua masih utopia. Baru kemarin siang kita masih mendengar, Amerika bergolak karena urusan warna kulit.

Mungkin dunia lupa, hanya Islam yang pernah mewujudkan.

Disarikan dari:
At Tarbiyyah Al Qiyadiyyah
Fii Zhilalil Qur’an

Penulis: Murtadha Ibawi (Pengajar Sekolah Sirah Jakarta dan Pendiri Majelis Tadarus Sirah)

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: