DPW DKI Jakarta dan Depok

Fiqih I’tikaf Bagian 2

Fiqh I'tikaf
0 111

I’TIKAF (Bagian 2)

Fadhilah, Waktu, Syarat, dam Rukun I’tikaf

 

Fadhilah I’tikaf

Adapun fadhilahnya maka i’tikaf mempunyai beberapa keutamaan yang tidak terdapat pada ibadah lainnya, antara lain:

  1. I’tikaf merupakan wasilah (cara) yang digunakan oleh Nabi r untuk mendapatkan Lailatul Qadr.
  2. Orang yang melakukan i’tikaf akan dengan mudah mendirikan shalat fardhu secara kontinu dan berjama’ah bahkan dengan i’tikaf seseorang selalu beruntung atau paling tidak berpeluang besar mendapatkan shaf pertama pada shalat berjama’ah.
  3. I’tikaf juga membiasakan jiwa untuk senang berlama-lama tinggal dalam masjid, dan menjadikan hatinya terpaut pada masjid.
  4. I’tikaf akan menjaga puasa seseorang dari perbuatan-perbuatan dosa. Dia juga merupakan sarana untuk menjaga mata dan telinga dari hal-hal yang diharamkan.
  5. Dengan i’tikaf, orang membiasakan hidup sederhana, zuhud dan tidak tamak terhadap dunia yang sering membuat kebanyakan manusia tenggelam dalam kenikmatannya.

Waktu I’tikaf

I’tikaf boleh dikerjakan kapan saja, namun lebih ditekankan pada bulan Ramadhan, karena itulah yang sering dilakukan oleh Rasulullah r. I’tikaf lebih utama dikerjakan pada sepuluh akhir Ramadhan untuk mendapatkan Lailatul Qadr sebagaimana hadits dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudriy (HR. Al-Bukhari II/65 no: 2027)

I’tikaf yang wajib harus dikerjakan sesuai jumlah hari yang telah dinazarkan, sedangkan i’tikaf yang sunnah tidak ada batasan maksimalnya dan hal ini disepakati oleh keempat ‘ulama madzhab, dan jumhur ‘ulama berpendapat bahwa tidak ada batasan minimal ketika beri’tikaf. Hal ini berdasarkan atsar dari ‘Umar dimana beliau mengabarkan kepada Nabi r tentang nazar beliau untuk beri’tikaf satu malam di Masjid Haram, lalu Rasulullah r memerintahkan kepadanya untuk menunaikan nazarnya.

‘Ulama berbeda pendapat tentang kapan awal masuknya seseorang yang mau beri’tikaf ke dalam masjid. Jumhur ‘ulama berpendapat bahwa orang yang memulai i’tikaf hendaknya memasuki masjid sebelum matahari terbenam. Pendapat yang kedua mengatakan, bahwa i’tikaf baru dimulai sesudah shalat Shubuh, berdasarkan hadits ‘Aisyah:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا أَرَادَ أَنْ يَعْتَكِفَ صَلَّى الْفَجْرَ ثُمَّ دَخَلَ مُعْتَكَفَهُ.

“Adalah Nabi r jika hendak beri’tikaf, beliau shalat Shubuh kemudian masuk ke (mu’takaf) tempat i’tikafnya.” (HR. Al-Bukhari II/69 no: 2040 dan Muslim II/831 no: 1173)

Pendapat ini dipegang oleh Al-Auza’i, Ats-Tsauri dan Al-Laits (Syarah Shahih Muslim XIII/68) serta Lajnah Daimah X/411. Dari dua pendapat yang ada maka yang paling dekat dengan dalil adalah pendapat yang kedua, yaitu masuk sesudah shalat shubuh, namun pendapat yang pertama lebih berhati-hati. Wallahu a’lam.

Syarat-Syarat I’tikaf

Orang yang beri’tikaf memiliki beberapa syarat yang harus dipenuhinya, yaitu: Seorang Muslim, mumayyiz (sudah mampu membedakan yang baik dan buruk), berakal, dan suci dari janabat, haidh, serta nifas.

Rukun-Rukun I’tikaf

  1. Niat, karena tidak sah suatu amalan melainkan dengan niat.
  2. Tempatnya harus di masjid. Dalilnya firman Allah I:

وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ.

“Dan janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid.” (QS. Al-Baqarah: 187)

Keharusan beri’tikaf di masjid ini berlaku pula untuk wanita, dalam hal ini merupakan pendapat jumhur ‘ulama bahwa wanita tidak sah beri’tikaf di masjid rumahnya karena tempat itu tidaklah dikatakan masjid, lagi pula keterangan yang shahih menerangkan bahwa istri-istri Nabi melakukan i’tikaf di Masjid Nabawi.

Dan berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar tentang i’tikafnya istri-istri Nabi r di masjid:

“Hal ini menunjukkan bahwa di antara syarat i’tikaf, harus dilakukan di masjid, karena kaum wanita diperintahkan untuk berlindung atau berdiam di rumah. Seandainya masjid bukan menjadi syarat, maka tentulah tidak perlu disebutkan perlunya mereka meminta ijin dari suami mereka dan suaminya berhak melarang jika tidak memberikan ijin, dan mereka cukup beriktikaf dirumah-rumah mereka.” (Fathul Bari IV/325)

 

Sumber: Buku Panduan Praktis Ramadhan, Penerbit Pustaka Belajar Islam

Di dukung oleh Wahdah Inspirasi Zakat (WIZ) Jogja

FB: https://www.facebook.com/wahdahinspirasizakatjogja/

IG: https://instagram.com/wizjogja?igshid=12o265etywkwd

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: