DPW DKI Jakarta dan Depok

Fiqih I’tikaf Bagian 3

Fiqh I'tikaf
0 110

I’TIKAF (Bagian 3)

Masjid yang Sah, Pembatal, Adab, dan Hal yang Dibolehkan sewaktu I’tikaf

 

Masjid yang Sah Dipakai I’tikaf

Para ‘ulama telah berikhtilaf tentang syarat masjid yang sah untuk digunakan i’tikaf namun di antara pendapat-pendapat yang ada maka pendapat yang pertengahan dan paling dekat dengan kebenaran adalah i’tikaf harus dilaksanakan di masjid yang dilaksanakan shalat berjama’ah padanya karena shalat berjama’ah bagi laki-laki hukumnya wajib. Hal ini berdasarkan atsar ‘Aisyah yaitu:

لاَ اعْتِكافَ إِلاَّ فِى مَسْجِدٍ تُقَامُ فِيهِ الصَّلاَةُ.

“Tidak ada i’tikaf kecuali di masjid yang dilaksanakan shalat berjama’ah.” (HR. Al-Baihaqi (IV/519 no: 8572. Syaikh Al-Albani menshahihkan hadits ini dalam Qiyam Ramadhan hal. 26)

Pendapat ini juga dipegangi oleh Ibnu Qudamah. Ibnu Qudamah menjelaskan:

“Disyaratkannya i’tikaf di masjid yang dilaksanakan shalat jama’ah, karena shalat jama’ah itu wajib, dan ketika seseorang beri’tikaf di masjid yang tidak dilaksanakan shalat jama’ah akan mengakibatkan salah satu dari dua hal: meninggalkan shalat jama’ah yang merupakan kewajiban, yang kedua keluar untuk shalat di masjid yang dilaksanakan shalat berjama’ah dan hal ini akan sering berulang padahal masih mungkin untuk menghindarinya, dan sering keluar dari tempat i’tikaf itu bertentangan dengan maksud/tujuan i’tikaf …” (Al-Mughni IV/461)

Jika seseorang i’tikaf di masjid yang di dalamnya dilaksanakan shalat berjama’ah namun tidak dilaksanakan shalat Jum’at, maka pada hari Jum’at wajib atasnya untuk keluar shalat Jum’at dan i’tikafnya tidak batal karena dia keluar disebabkan udzur yang dibenarkan syariat. (Al Mughni IV/466)

Hal-Hal yang Membatalkan I’tikaf

  1. Jima’ (bersetubuh/bersenggama).

وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ.

“Dan janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid.” (QS. Al-Baqarah: 187)

  1. Hilang akal.
  2. Haidh dan nifas.
  3. Keluar dari masjid tanpa hajat yang dibolehkan, walaupun hanya sebentar. Keluar dari masjid membatalkan i’tikaf karena tinggal di masjid adalah rukun i’tikaf.

Adab-Adab I’tikaf

Ada beberapa adab yang hendaknya seseorang yang beri’tikaf memperhatikannya dan berusaha untuk melaksanakannya. Diantara adab-adab tersebut adalah:

  1. Memperbanyak ibadah-ibadah sunnah yang mendekatkan dirinya kepada Allah I.
  2. Membuat bilik-bilik di masjid untuk digunakan berkhalwat sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi r, terutama jika ada wanita yang ikut beri’tikaf, maka wajib atas wanita untuk membuat bilik-bilik tersebut agar terhindar dari ikhtilat (bercampur) dan saling pandang-memandang dengan lawan jenis.
  3. Meninggalkan perdebatan dan pertengkaran walaupun dia berada di pihak yang benar.
  4. Juga hendaknya menghindari dari mengumpat, berghibah, dan berkata-kata yang kotor, karena hal-hal tersebut terlarang di luar i’tikaf maka pelarangannya bertambah pada saat i’tikaf.
  5. Dan secara umum seluruh perbuatan dan perkataan yang tidak bermanfaat hendaknya ditinggalkan, karena semua hal itu akan mengurangi pahala beri’tikaf.

Hal-Hal yang Dibolehkan sewaktu I’tikaf

  1. Keluar untuk suatu keperluan yang tidak dapat dielakkan. Dalilnya hadits ‘Aisyah ia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – لَيُدْخِلُ عَلَىَّ رَأْسَهُ وَهْوَ فِى الْمَسْجِدِ فَأُرَجِّلُهُ، وَكَانَ لاَ يَدْخُلُ الْبَيْتَ إِلاَّ لِحَاجَةٍ، إِذَا كَانَ مُعْتَكِفًا.

“Dan adalah Rasulullah r jika sedang beri’tikaf di masjid, kadang beliau memasukkan kepalanya maka saya menyisirnya dan adalah beliau tidak masuk ke rumah kecuali karena kebutuhan yang manusiawi.” (HR. Al-Bukhari II/66 no: 2029 dan Muslim I/244 no: 297)

Imam Az-Zuhri menafsiri yang dimaksud kebutuhan yang manusiawi seperti buang air besar dan kencing. ‘Aisyah berpendapat bagi orang yang sedang beri’tikaf supaya meninggalkan dari menjenguk orang sakit dan menghadiri jenazah serta hal lainnya, kecuali memang sangat diperlukan. (Fathul Bari IV/321)

  1. Menyisir rambut, mencukurnya, memotong kuku dan membersihkan badan dari berbagai kotoran.
  2. Membawa kasur dan perlengkapan lainnya ke masjid.
  3. Menerima tamu dan mengantarkannya hingga ke pintu masjid. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah r ketika beliau diziarahi oleh istri beliau Sha (HR. Al-Bukhari II/ 67 no: 2035)
  4. Makan dan minum di dalam masjid dengan tetap memelihara dan menjaga kebersihan dan kemuliaan masjid.

Seseorang yang berniat untuk beri’tikaf hendaknya mempertimbangkan maslahat dan mudharat. Jika dia adalah seorang pemuda yang sangat dibutuhkan oleh orang tuanya maka hendaknya dia mendahulukan hak orang tuanya karena hal tersebut wajib, namun jika dia diizinkan untuk beri’tikaf maka itulah yang utama. Demikian pula dengan orang yang bekerja di bidang jasa dan kepentingan masyarakat umum hendaknya mendahulukan kepentingan umum dari kepentingan pribadi dan sungguh Allah I Maha Mengetahui apa yang diniatkan oleh hamba-hamba-Nya.

Adapun bagi mereka yang Allah I muliakan dengan memberikan kesempatan untuk beri’tikaf di tahun ini hendaknya memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, raihlah hikmah dan faidah i’tikaf, perhatikanlah adab-adabnya serta jauhkanlah dari hal-hal yang terlarang dan janganlah menjadi orang yang i’tikafnya tidak ubahnya dari sekedar berpindah tempat tidur saja. Mudah-mudahan dengan i’tikaf ini anda bisa mendapatkan malam yang lebih mulia dari seribu bulan (Lailatul Qadar).

.

Sumber: Buku Panduan Praktis Ramadhan, Penerbit Pustaka Belajar Islam

Didukung oleh Rumah Qur’an (RQ) Wahdah Jogja

IG: https://www.instagram.com/rumahquranwahdahjogja/

 

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: