DPW DKI Jakarta dan Depok

Gelar Rapat Pleno 32, Wantim MUI Tegaskan 10 Kaidah Berukhuwah 

0 185

 

Gelar Rapat Pleno 32, Wantim MUI Tegaskan 10 Kaidah Berukhuwah 
Rapat Pleno Ke.32 Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI), Kamis 15 Rajab 1440 H

(Jakarta) wahdahjakarta.com – Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI)  menggelar rapat pleno ke-32 dengan tema “Bencana Dusta dan benci, Apa Solusinya?” di Kantor MUI, Jakarta pada hari Rabu, 24 Oktober 2018.

Rapat ini  dihadiri  oleh Anggota Pleno Dewan Pertimbangan MUI yang merupakan utusan  berbagai unsur pimpinan dan perwakilan ormas-ormas Islam.

MUI memandang bahwa sesungguhnya Islam adalah dasar kesatuan dan penyatuan bagi seluruh umat Islam dari latar belakang ras, bangsa, suku, dan bahasa yang terikat dalam persaudaraan keimanan (Ukhuwah Imaniyah atau Ukhuwah Islamiyah)”.

Persaudaraan ini seyogyanya membawa umat Islam kepada solidaritas dan kerjasama untuk membangun peradaban utama guna menampilkan umat Islam sebagai umat berkemajuan dan ber-keunggulan (Khaira Ummah). (ibawi).

Untuk membentengi umat sehingga kokoh dalam ber-ukhuwah, Wantim MUI menyampaikan 10 kaidah (ethical code of conduct ) dalam berukhuwah sebagai berikut:

Pertama, setiap Muslim memandang sesama Muslim sebagai saudara seiman,  karenanya dia memperlakukan saudara seimannya dengan penuh kasihsayang, kejujuran, empati dan solidaritas bukan dengan rasa benci, antipati dan cenderung melukainya.

Kedua, setiap Muslim merasa wajib mengambangkan persaudaraan keimanan, kearah sikap dan budaya saling membantu dan melindungi.

Ketiga, setiap Muslim mengutamakan kehidupan berjamaah dan dapat mendayagunakan organisasi sebagai alat dakwah dan perjuanagn. Dalam hal ini, organsasi hanyalah alat bukan tujuan.

Keempat, setiap organisasi/lembaga Islam memandang organisasi/lembaga Islam lain sebagai mitra perjuangan, karenanya hendaknya dikembangkan budaya kerjasama dan perlombaan meraih kebaikan bukan budaya pertentangan, permusuhan, dan persaingan tidak sehat.

Kelima, dalam kehidupan politik, seperti pada pemilihan untuk jabatan politis, setiap muslim dan organisasi/lembaga Islam mengedepankan kebersamaan dan kepentingan bersama umat Islam dan meletakannya diatas kepentingan kelompok/organisasi.

Keenam, sesama pemimpin dan tokoh umat Islam wajib menghidupkan silaturrahim tanpa memandang perbedaan suku, etnik, organisasi, kelompok atau aliran politik.

Ketujuh, setiap pemimpin dan tokoh umat Islam perlu menahan diri untuk tidak mempertajam dan mempertentangkan masalah-masalah khilafiyah, keragaman ijtihad dan perbedaan madzhab di dalam forum khutbah, pengajian dan sebagainya, apalagi dengan mengklaim pendapat atau kelompok tertentu yang paling benar dan menyalahkan pendapat atau kelompok lain.

Kedelapan, hubungan antara sesama organisasi Islam haruslah dilandasi pandangan positif (husnudzon) dan selalu mengedepankan sikap saling menghargai peran dan kontribusi masing-masing dalam pembangunan umat.

Kesembilan, setiap amal dan prestasi suatu organisasi Islam haruslah dipandang sebagai bagian dari karya dan prestasi umat Islam secara keseluruhan, dalam arti organisasi Islam yang lain wajib menghormati, menjaga serta melindunginya.

Kesepuluh, setiap kaum muslimin harus memandang sesama muslim lain di berbagai negara dan belahan dunia, sebagai bagian dari dirinya dan berkewajiban untuk membangun solidaritas dan tolong menolong dalam berbagai bidang kehidupan. [ibw]

 

 

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: