DPW DKI Jakarta dan Depok

Hadits Puasa [4]: Niat Puasa

Niat puasa wajib sebelum terbit fajar
0 230
Niat puasa wajib sebelum terbit fajar

Kitab Shiyam Bulughul Maram Min Adillatil Ahkam
Hadits ke-6 [624] 
Niat Puasa

 624- وعن حَفْصةَ أُمِّ المُؤمنين – رضي الله عنها – أَنَّ النّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – قال: “منْ لَمْ يُبَيّت الصِّيامَ قَبْلَ الفجر فلا صِيامَ لـهُ” رواهُ الخمْسةُ ومَالَ التِّرمذيُّ والنسائي إلى ترجيح وَقْفِهِ، وصحَّحَهُ مرفوعاً ابنُ خزيمةَ وابنُ حِبَّانَ.

وللدارقطني: “لا صِيامَ لمن لَم يَفْرِضْهُ منَ الليل”

 

Dari Hafshah Ummul Mu’minn radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi Muhammad shallalllahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Siapa yang tidak berniat puasa sejak malam sebelum terbit fajar maka tidak sah puasa baginya”. (Diriwayatkan oleh lima perawi hadits, Imam Tirmidzi dan Imam Nasai cenderung pada pendapat bahwa hadits ini mauquf, sementara Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban menhsahihkannya sebagai hadits marfu’).

Dalam riwayat Imam Daruquthni lafadznya berbunyi, “Tidak ada puasa (tidak sah) bagi orang yang tidak berniat sejak malam”.

Pelajaran Hadits

Hadits ini merupakan dalil bahwa puasa tidak sah tanpa didahului niat sejak malam. Batas akhir berniat adalah sebelum terbit fajar. Niat puasa dapat dilakukan sejak terbenam mata hari meskipun setelahnya melakukan hal-hal yang membatalkan puasa, seperti makan, minum, berhubungan intim dan sebagainya.

Hal tersebut (niat puasa sejak malam) wajib dilakukan dalam puasa wajib dan puasa qadha. Adapun puasa sunnah boleh berniat setelah terbit fajar sebagaimana dijelaskan dalam hadits berikutnya di bawah ini.

Hadits ke-7 [625]

625- وعنْ عائشة – رضي الله عنها – قالت: دخل عليَّ النبيُّ – صلى الله عليه وسلم – ذات يومٍ فقال: “هلْ عندكمْ شيءٌ؟” قُلنا: لا، قال: “فإني إذا صائمٌ” ثمَّ أَتانا يوْماً آخر، فقلنا أُهديَ لنا حَيْسٌ، فقال: “أرِينِيهِ فَلَقد أَصبحْتُ صائماً” فَأَكل، رواهُ مسلمٌ.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Beliau berkata, Suatu hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke kamarku, “Apakah kalian memiliki sesuatu (yang dapat disantap)“? “Tidak”,Kalau begitu saya puasa“. Kemudian beliau datang lagi pada hari yang lain, saya kataan kepada beliau, “Dihadiahkan kepada kita hiss“. Maka Belia berkata, “Perlihatkan padaku, (meskipun) sebenarnya hari ini saya puasa”, lalu Beliau makan“. (HR. Muslim)

Hadits ini merupakan dalil tentang sahnya puasa sunnah tanpa didahului niat sejak malam, artinya boleh berniat puasa sunnah setelah terbit fajar, bahkan setelah terbit mata hari sekalipun, selama seseorang belum makan dan minum atau melakukan pembatal puasa lainnya.

Hadits ini juga menjadi dalil bahwa puasa sunnah boleh dibatalkan atau tidak dilanjutkan. Ibnu Umar mengatakan, “Hal itu tidak mengapa selama puasa yang dilakukan bukan puasa nazar atau qadha puasa Ramadhan”. Wallahu a’lam. [sym/wahdahjakarta.c0m].

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: