DPW DKI Jakarta dan Depok

Hammalatal Hathab (Pembawa Kayu Bakar)

0 311

HAMMAALATAL HATHAB
“Pembawa Kayu Bakar” (Majelis Tadarus Sirah Part 109)

Oleh: Ustadz Murtadha Ibawi

Sedekat apakah Abu Lahab dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?
Bukan hanya paman kandung, namun juga besan, sekaligus tetangga dekat.
.
Dalam Islam kita diajarkan, bahwa tetangga itu memiliki hak-hak khusus meskipun bukan muslim. Ditambah lagi jika tetangga itu adalah kerabat, maka dia punya dua hak terhadap diri kita. Hak sebagai tetangga, dan sebagai kerabat. Terlebih lagi jika kerabat dekat.
.
Jika ditambah lagi dia beragama Islam, maka dia punya tiga hak. Hak sebagai kerabat, sebagai tetangga, dan sebagai seorang muslim.
.
Namun yang kita saksikan pada sikap Abu Lahab, sungguh berbeda. Berkebalikan seratus delapan puluh derajat.

Selaku paman, sangat jelas pernyataannya di hadapan Abu Thalib. Dia lebih memilih bergabung dengan aliansi Quraisy dari pada bergabung bersama Bani Hasyim dan Bani Al Muththalib.
.
Sebagai seorang tetangga? Tak terkira jahatnya.
.
A’isyah radhiyallahu ‘anha mengisahkan hari-hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertetangga dengan Abu Lahab. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bercerita, “Aku pernah hidup bertetangga di antara dua tetangga yang paling jahat. Yaitu Abu Lahab dan ‘Uqbah bin Abi Mu’aith..”
.
Kadang mereka mengirimkan kotoran. Kadang jeroan kambing. Ada yang dilempar, ada yang diletakkan di depan pintu, ada yang dimasukkan ke periuk, dst.
.
Sampai terucap dari bibir baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
“Ayyu jiwaarin hadza..? Wahai Bani Abdi Manaf.., tetangga macam apakah ini..?”
.
Laa haula walaa quwwata illaa billah..

Selain sebagai paman, Abu Lahab juga besanan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dua putri Rasulullah, Sayyidah Ruqayyah dan Sayyidah Ummu Kultsum radhiyallau ‘anhuma, dinikahi oleh dua putra Abu Lahab. Kakak beradik itu bernama ‘Utbah dan ‘Utaibah.
.
Setali tiga uang. Tidak bapaknya, tidak anaknya, tidak ibunya, keluarga ini kompak memusuhi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
.
Dua putra Abu Lahab itu akhirnya menceraikan dua putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Bukan sekedar menceraikan, si anak lancang itu juga berlaku buruk kepada sang mertua. Sungguh kelancangan di luar batas.

Bagaimana dengan emaknya?
.
Ummu Jamil panggilannya. Namun akhlaknya tidak se-‘jamil’ sebagaimana orang memanggilnya. Lisannya tajam. Kata-katanya menyakitkan. Profokatif, bagai ‘kompor’, atau ‘kayu bakar’ di masanya.
.
Ketika turun ayat ‘Tabbat yadaa Abi Lahab.., dst’, dia melabrak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dia datangi manusia paling mulia akhlaknya yang tidak lain adalah besannya, sekaligus keponakan, tetangga dekat pula.
.
Asma’ binti Abu Bakar yang mengisahkan. Bapaknya adalah saksi hidup dan pelaku sejarah yang mengalami sendiri kejadian itu. Waktu itu Abu Bakar membersamai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di Baitullah, di Masjidil Haram.
.
Di tangannya ada segenggam batu. Suaranya melengking. Ia bersya’ir sambil mencela dan menyebut “Si Mudzammam”. Nama ‘Muhammad’ ia plesetkan menjadi ‘mudzammam’, artinya ‘yang tercela’.
.
Abu Bakar berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah_shalallahu ‘alaihi wasallam, dia datang. Aku khawatir dia melihat engkau..”.
.
“Tidak akan, wahai Abu Bakar.., dia tidak akan bisa melihatku,” kata Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam. Lalu beliau lantunkan ayat-ayat Al Qur’an, seketika terhijablah Ummu Jamil. Ia tak bisa melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
.
Kata Asma’ binti Abu bakar, ini sebagaimana firman Allah (yang artinya), “..dan jika engkau membaca Al Qur’an maka Kami akan buatkan ‘hijab’ yang menutupi pandangan antara engkau dan orang-orang yang tidak beriman kepada hari akhirat..” (QS. Al Isra’: 45).
.
Berdirilah Ummu Jamil di muka Abu Bakar, “Aku beritahukan kepadamu! Sahabatmu itu telah menyindir kami..!”
.
“Oh tidak.. demi Rabb pemilik Baitullah ini,” kata Abu Bakar. “Beliau tidak menyindirmu..”.
.
“Dasar engkau ini orang yang suka membenarkan,” ia balik menghardik. Kemudian berlalu melenggang sambil bersumpah serapah, “Semua orang Quraisy tahu, aku ini anak siapa! Aku ini anak tuan mereka!”

Menarik, Syaikh Muhammad Al Ghazali dalam kitab beliau Fiqhus Sirah, menilai Abu Lahab bersikap sedemikian kerasnya itu, sedikit banyak karena pengaruh sang istri. Itu penilaian beliau.
.
Memang Ummu Jamil adalah saudari dari Abu Sufyan bin Harb. Sementara Abu Sufyan adalah suami dari Hindun binti Utbah. Nah, Utbah bin Rabi’ah ini adalah salah satu tokoh besar Quraisy yang paling keras permusuhannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
.
Utbah tidak sendiri, namun beserta keluarga besarnya. Saudarnya, anaknya, menantunya, semua tahu bagaimana keluarga ini memusuhi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka semua berasal dari kabilah yang sama, Bani Umayyah.
.
Ummu Jamil dan Abu Sufyan, kakak beradik ini pun masih keponakan Utbah. Mereka memang bagian tak terpisahkan dari keluarga besar ini. Lalu nampaknya hal ini berimbas kepada suami Ummu Jamil, Abu Lahab.
.
Sebetulnya Bani Umayyah dan Bani Hasyim adalah dua keluarga besar yang sama-sama berada dalam lingkar besar keluarga Bani Abdi Manaf. Mereka masih satu trah, namun justru berseberangan dengan Bani Hasyim.
.
Abu Lahab memang lemah. Ia terpengaruh oleh Ummu Jamil dan keluarga besarnya. Meskipun sama-sama kafir, sikapnya jauh berbeda dengan Abu Thalib. Bagi Abu Thalib, ada prinsip yang ia harus pegang. Ada harga diri yang ia pertahankan. Ia tidak bisa disetir oleh siapapun, meskipun harus dimusuhi oleh segenap kabilah dalam suku Quraisy.

Di dalam Al Qur’an ada beberapa permisalan jenis pasangan. Ada yang suaminya nabi, tapi isterinya yang menentang. Inilah isteri Nabi Nuh dan Nabi Luth alaihimas salam.
.
Sebaliknya, ada yang suaminya penentang agama Allah, sedangkan isterinya yang beriman. Inilah Fir’aun. Asiyah, isterinya, bahkan dinobatkan sebagai salah satu wanita terbaik yang pernah ada di muka bumi.
.
Sedangkan Abu Lahab dan Ummu Jamil, Allah abadikan di dalam Al Qur’an sebagai dua sejoli ikon penentang agama Allah. Dua-duanya disebut dalam satu surat pendek, yang bahkan anak-anak kita pun menghafalnya.
.
Allahu ta’ala a’lam.
.
.
Referensi:
– Ar Rahiqul Makhtum
– Fiqhus Sirah, Dr. Muhammad Al Ghazali
– Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Fii Makkah, Dr. Yahya Al Yahya
.
.
✍🏼
Murtadha Ibawi
Majelis Tadarus Sirah

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: