DPW DKI Jakarta dan Depok

Hanya Karena Rabbku Adalah Allah?

Oleh : Ustadz Murtadha Ibawi

0 342

Majelis Tadarus Sirah Part 115

Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari. Awalnya ‘Urwah bin Zubair, cucu Abu Bakar yang bertanya kepada putra Amr bin ‘Ash.

“Ceritakanlah kepadaku tentang perlakuan berat yang dilakukan oleh orang-orang musyrik terhadap baginda Nabi..,” ‘Urwah bertanya kepada sang guru.

‘Abdullah bin Amr pun mulai bertutur. Diputarnya kembali ingatan tentang hari-hari itu. Tentang baginda Nabi. Dan tentang kakek si penanya, ‘Urwah bin Zubair cucu Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.

“Rasulullah shalallalahu ‘alaihi wasallam sedang shalat di ‘hijir’ Ka’bah waktu itu. Lalu mendekatlah ‘Uqbah bin Abi Mu’aith. Ia lepaskan salah satu kain yang dikenakannya, lalu dijeratkannya ke leher Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia lilitkan, lalu ditariknya dengan kencang..,” tutur Abdullah bin Amr mengenang hari-hari paling berat itu.

“Lalu,” kata Abdullah bin Amr melanjutkan, “..datanglah Abu Bakar. Ia tarik pundak Uqbah. Ia lindungi baginda Nabi..”

Abu Bakar mengatakan, “Apakah kalian ingin membunuh seseorang hanya karena ia mengatakan Rabbku adalah Allah?”

Dalam riwayat yang lain, Ibunda Urwah sendiri, Asma’ binti Abu Bakar pun juga pernah bertutur tentang kejadian ini. Kisah tentang ayahnya, yang juga kakek ‘Urwah.

Kisah di atas dituturkan oleh putra Amr bin Ash. Adapun Imam An Nasa’i beliau riwayatkan kisah serupa. Bukan dari sang anak, namun dari sang ayah, Amr bin Ash sendiri_radhiyallahu ‘anhu.

Semua tahu, di hari-hari itu Amr bin Ash berada dalam barisan Abu Jahal. Beliau baru masuk Islam belasan tahun kemudian setelah kejadian itu.

Menurut kesaksian Amr bin Ash, saat itu para elit Quraisy sedang berembug di sisi Ka’bah. Ketika di saat yang sama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri shalat di Maqam Ibrahim, dekat Ka’bah.

Ketika Uqbah menjerat lalu menarik kain yang melilit itu sampai-sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berlutut menahan diri.

Semua yang menyaksikan kejadian itu histeris. Semua mengira Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan meninggal. Bagaimana tidak, jika dicekik dan ditarik sekencang itu?

Hanya Abu Bakar yang berani mendekat. Direngkuhnya sisi pundak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sambil berbalik kepada Uqbah ia berkata, “Apakah kalian hendak membunuh seseorang, hanya karena ia mengatakan Rabbku adalah Allah?” Mereka pun mundur.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih tetap khusyu’ dalam shalatnya. Beliau tidak membatalkan shalat, tidak bergeming sedikitpun.

Usai shalat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghampiri mereka yang sedang duduk-duduk di dekat Ka’bah.

“Wahai sekalian kaum Quraisy.., demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggamannya, ketahuilah.. Aku diutus kepada kalian disertai dengan perintah penyembelihan”.
Kata-kata beliau tenang, tapi jelas. Sambil beliau isyaratkan gerakan tangan di leher.

Gentar juga rupanya Abu Jahal. Dia tahu siapa yang dihadapinya. Dia tahu pula, dimana mereka sedang berada. Di hadapan seorang nabi. Di tempat paling suci. Dia benar-benar tahu, kata-kata itu pasti bukan ‘pepesan kosong’.

“Wahai Muhammad, engkau ini bukanlah orang bodoh..”, kata Abu Jahal melunak.

Mendengar itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam justru menegaskan, “Engkau termasuk di dalamnya”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan, jika waktunya tiba, Abu Jahal termasuk dalam daftar nama orang-orang yang akan dipenggal itu.

Kelak akan terbukti. Mereka betul-betul terbnuh di medan Badar.

Adapun kalimat yang terucap dari lisan Abu Bakar Ash Shiddiq itu, bukanlah kalimat biasa. Kalimat ini terabadikan di dalam Al Qur’an. Kalimat yang sama, oleh orang yang berbeda.

Entah siapa namanya, tapi orang ini adalah seorang mu’min pengikut Nabi Musa. Orang dalam istana. Keluarga Fir’aun. ‘Rajulun mu’minun’ ini menyembunyikan keimanannya.

Allah abadikan ucapannya di dalam Al Qur’an,
“Dan seorang lelaki yang beriman dari keluarga Fir’aun yang menyembunyikan keimanannya berkata, ‘Apakah kalian akan membunuh seseorang hanya karena ia menyatakan: Rabbku adalah Allah?’..” (QS. Al Mu’min: 28)

Tentang ini, Ali bin Abi Thalib pernah berkhutbah di hadapan kaum muslimin. Lalu beliau bertanya, “Menurut kalian, siapakah manusia yang paling pemberani?”

“Engkaulah orangnya wahai Amirul Mu’minin..,” jawab hadirin.

Kemudian Ali bin Abi Thalib menceritakan, orang yang paling pemberani adalah Abu Bakar. Beliau kisahkan bagaimana Abu Bakar menjadi yang terdepan membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika beliau disakiti dengan perlakuan yang bermacam ragam.

Hanya Abu Bakar yang berani pasang badan sambil memperingatkan, “Kalian akan bunuh seseorang hanya karena ia menyatakan Rabbku adalah Allah?”

Ali bin Abi Thalib tersedu-sedu.
Jenggot dan pipinya basah.
Genangan di pelupuknya tumpah, tak kuasa mengenang masa-masa itu.

Sambil menyibak burdahnya, beliau kembali bertanya, “Aku bertanya kepada kalian atas nama Allah, siapa yang lebih utama, Abu Bakar ataukah seorang mu’min dari keluarga Fir’aun yang menyembunyikan keimanannya?”

Dalam keharuan itu mereka hanya bisa terpaku.

“Demi Allah..!” suaranya memecah keheningan. “Sedetik saja yang dilalui oleh Abu Bakar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, itu lebih baik dibandingkan siapapun yang semisal dengan keluarga Fir’aun yang mu’min itu..”

“Karena..” beliau melanjutkan, “..keluarga Fir’aun itu menyembunyikan keimanannya, sedangkan Abu Bakar terang-terangan menampakkannya”

Disarikan dari:
– Ar Rahiqul Makhtum
– Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Fii Makkah, Dr. Yahya Al Yahya

✍🏼
Murtadha Ibawi
Majelis Tadarus Sirah

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: