DPW DKI Jakarta dan Depok

Harusnya Aku, Bukan Dia

0 292

HARUSNYA AKU, BUKAN DIA
(Majelis Tadarus Sirah Part 103)
Oleh: Ustadz Murtadha Ibawi

Mengapa Thalut? Mengapa bukan kami? Thalut itu ‘kan tidak banyak hartanya? Bagaimana bisa dia menjadi pemimpin?
.
Mereka memandang Thalut sebagai rival. Thalut bisa menggeser pengaruh para elit itu. Mereka bisa ‘lengser keprabon’.
.
Allah sudah jelaskan melalui lisan Sang Nabi itu. Allah telah memberikan kelebihan kepada Thalut dari sisi fisik maupun ilmu, kecerdasan, intelektualitas. Thalut memang pantas memimpin. Ini pilihan Allah.
.
Dikuatkan lagi dengan turunnya malaikat pembawa ‘tabut’, warisan Nabi Musa dan Harun. Jelas, ini bukti-bukti ysng tak terbantahkan lagi.
.
Para elit (al mala’) itu minta agar dipiihkan pemimpin. Namun setelah Allah kabulkan, mereka justru protes. Mengapa? Karena mereka ‘merasa’lebih berhak. ‘Merasa’ lebih baik. ‘Merasa’ lebih pantas. ‘Merasa’ lebih berpengalaman. ‘Merasa’ lebih banyak hartanya.
.
“Harusnya aku, bukan dia”
“Harusnya kami, bukan Thalut”
Itu menurut mereka.
.
Kisah tentang Thalut itu Allah abadikan dalam Kitab-Nya. Tersisip abadi hingga kini dalam Surat Al Baqarah ayat 246-248.

Lagi-lagi sejarah berulang.
Apa yang Allah kisahkan dalam Kitab-Nya itu, rupa-rupanya dialami pula oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
.
Imam At Thabari meriwayatkan dalam kitab tafsir beliau tentang ayat ke-31 Surat Az Zukhruf, yang artinya:
“Mereka berkata, ‘Mengapa Al Qur’an itu tidak diturunkan kepada ‘orang besar’ dari kedua kota ini?”
.
“Dua kota” yang dimaksud dalam ayat itu adalah Makkah dan Tha’if. Dua kota besar paling berpengaruh di eranya.
.
Adapun “dua orang besar” yang dimaksud adalah Al Walid bin Mughirah dari Makkah. Orang-orang menggelarinya ‘Raihanah dari Quraisy’. Adapun yang dari Tha’if, mereka memandang orang seperti Abu Mas’ud, atau ‘Urwah bin Mas’ud Ats Tsaqafi dan yang semisalnya yang pantas menjadi nabi.
.
Terlontar dari lisan Al Walid bin Mughirah dengan sombongnya:
“Diturunkan kepada Muhammad dan bukan aku? Bagaimana bisa? Aku ini orang terbesarnya kaum Quraisy. Bagaimana pula mengapa bukan kepada Abu Mas’ud? Padahal kami-kami ini adalah orang-orang besar dari dua kota ini.”

Dia tidak terima. Para pembesar Quraisy itu juga tidak terima jika yang menjadi nabi adalah Si Yatim asuhan Abu Thalib itu.
.
“Harusnya aku, bukan dia”
“Harusnya kami, bukan Muhammad”
-’alaihis shalatu was salam-
.
Mereka sebatas ‘merasa’ lebih baik dan lebih pantas. Padahal ‘merasa’ baik itu belum tentu memang baik. Sekedar ‘merasa’ lebik baik, itulah kesalahan terbesar Iblis yang kemudian melahirkan dengki dan kesombongan. Dia ‘merasa’ lebih baik dibandingkan Adam ‘alaihis salam.
.
Tidak cukup ‘merasa’ pantas. Menjadi nabi itu murni pilihan Allah. Dialah yang Maha Tahu kepada siapa risalah itu harus diembankan.
.
“..Allah Maha Tahu kepada siapa mengamanahkan tugas kerasulan..”
(QS. Al An’am: 124)
.
.
Referensi:
– As Sirah An Nabawiyyah Ash Shallabi
– Al Ghuraba’ Al Awwalun
– https://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=376309
.
.
✍🏼
Murtadha Ibawi
Majelis Tadarus Sirah

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: