DPW DKI Jakarta dan Depok

Hukum Shalat Berjama’ah

0 187
Hukum Shalat Berjama’ah
Shalat Berjama’ah di Masjid Anas bin Malik Kampus STIBA Makassar

Hukum Shalat Berjama’ah

Shalat berjama’ah  merupakan salah satu syi’ar yang agung di dalam Islam. Kaum Muslimin telah bersepakat bahwa, shalat berjamaah termasuk ketaatan yang sangat ditekankan dan taqarrub yang paling agung bahkan merupkan syi’ar islam yang paling Nampak. Ia juga termasuk dari sunnah Rasulullah dan para shahabatnya. Rasulullah dan para shahabatnya selalu melaksanakannya, tidak pernah meninggalkannya kecuali jika ada ‘udzur yang syar’i. Bahkan  dalam kondisi takut (perang) pun  mereka tetap melaksanakan shalat berjama’ah. Dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sendiri  ketika sakit parah, beliau tetap menghadiri shalat berjamaah di masjid dan ketika sakitnya semakin parah beliau memerintahkan Abu Bakar  ash Shiddiyq radhiyallaahu ‘anhu  untuk mengimami para shahabatnya.  Diantara para sahabat pun bahkan ada yang dipapah oleh dua orang (karena sakit) untuk melaksanakan shalat berjama’ah di masjid.

Kalau kita membaca dan memperhatikan dengan seksama dalil-dali dari al-Qur`an, as-Sunnah serta pendapat dan amalan para salafush shalih maka kita akan sampai pada kesimpulan  bahwa dalil-dalil tersebut menunjukkan kepada kita bahwa  shalat berjama’ah di masjid hukumnya  wajib. Di antara dalil-dalil tersebut adalah:

  1. Dalil–dalil dari al-Quranul Karim.

Firman Allah Ta’ala:

Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat serta ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.” (al-Baqarah:43).

Dalam ayat yang mulia ini Allah memerintahkan tiga hal:  Mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan Ruku’ bersama orang-orang yang ruku’. Dan yang dimaksudkan dengan ruku bersama orang-orang yang ruku’ dalam ayat ini adalah shalat berjamaah, sebagaimana penjelasan para ahli tafsir.

Al Imam Al Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Dan kebanyakan ‘ulama telah berdalil dengan ayat ini untuk (menunjukkan) wajibnya shalat berjamaah”. (Al Mishbaahul Muniir Fii Tahdziibi tafsiir Ibni Katsiir, hal: 58).

Syaikh As Sa’diy rahimahullah berkata: (Dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’) maksudnya shalatlah bersama orang-orang yang shalat. Di dalam ayat ini terdapat perintah dan kewajiban (shalat) berjama’ah… (Taisirul kariimirrahman Fii Tafsiiril Kalaamil Mannaan,1/84).

Al Qaadhi Al baidhawiy menafsirkan  kalimat“Ruku’lah bersama orang-orang yang ruku” maksudnya fiy jamaa’atihim (dalam jamaah mereka).

Al-Imam Abu Bakr Al-Kasaniy Al-Hanafiy ketika menjelaskan wajibnya melaksanakan shalat berjama’ah mengatakan:

 “Adapun (dalil) dari al-Kitab adalah firman-Nya (yang artinya): “Dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.” (al-Baqarah:43), Allah Ta’ala memerintahkan ruku’ bersama-sama orang-orang yang ruku’, yang demikian itu dengan bergabung dalam ruku’ maka ini merupakan perintah menegakkan shalat berjama’ah. Muthlaqnya perintah menunjukkan wajibnya mengamalkannya.” (Bada`i’ush-shana`i’ fi Tartibisy-Syara`i’ 1/155 dan Kitabush-Shalah hal. 66).

  1. Firman Allah Ta’ala dalam surah an-Nisaa ayat 102

Artinya: “dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, Maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat), Maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit; dan siap siagalah kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu. (QS An Nisa: 102).

Ayat yang mulia ini menjelaskan tatacara shalat khauf yang dilaksanakan secara berjamaa’ah. Hal ini menunjukkan bahwa Shalat berjamaa’ah itu hukumnya wajib. Wajhul istidlaal (sisi pendalilan) yang menegaskan bahwa ayat ini menunjukkan wajibnya shalat berjamaa’ah ada dua:

  1. Apabila Allah Ta’ala telah memerintahkan untuk melaksanakan shalat berjama’ah dalalam keadaan takut maka dalam keadaan aman lebih ditekankan lagi (kewajibannya). Dalam masalah ini berkata al-Imam Ibnul Mundzir: “Ketika Allah memerintahkan shalat berjama’ah dalam keadaan takut menunjukkan dalam keadaan aman lebih wajib lagi.” (Al-Ausath fis Sunan Wal Ijma’ Wal Ikhtilaf 4/135; Ma’alimus Sunan karya Al-Khithabiy 1/160 dan Al-Mughniy 3/5).
  2. Shalat khauf yang dikerjakan secara berjama’ah menyelisihi aturan dan tata cara shalat berjamaah. Dalam shalat berjamaah wajib mengikuti imam. Namun demikian dalam shalat khauf  mutaaba’atul Imam ditinggalkan (ketika Imam ruku’ sebagian jamaah ada yang tetap berdiri dan tidak ruku’). Meninggalkan Mutaaba’atul Imam (yang hukumnya wajib) sekedar untuk mendapatkan pahala amalan sunnah tidak mungkin. Sehingga jelaslah bahwa hal ini menunjukkan wajibnya shalat berjamaah.
  1. Firman Allah Ta’ala :

Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud maka mereka tidak mampu (untuk sujud). (Dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud dan mereka dalam keadaan sejahtera.” (al-Qalam: 42-43).

Menurut para Ahli Tafsir bahwa yang dimaksudkan dengan “diseru untuk bersujud” adalah  shalat berjamaah. Berkata Al-Imam Ibnul Qayyim al Jauziyah rahimahullah: “Dan telah berkata lebih dari satu dari salafush shalih tentang firman Allah Ta’ala: “Dan sungguh mereka pada waktu di dunia telah diseru untuk sujud sedang mereka dalam keadaan sejahtera.” (al-Qalam:43), yaitu ucapan mu`adzdzin: “hayya ‘alash-shalaah hayya ‘alal-falaah”.

Berkata Turjumanul Qur`an ‘Abdullah bin ‘Abbas  radhiyallaahu ‘anhuma dalam menafsirkan ayat  di atas: “Mereka mendengar adzan dan panggilan untuk shalat tetapi mereka tidak menjawabnya” (Ruhul Ma’ani 29/36).

Berkata Ka’ab Al-Ahbar rahimahullah: “Demi Allah tidaklah ayat ini diturunkan kecuali terhadap orang-orang yang menyelisihi dari (shalat) berjama’ah.” (Tafsir Al-Baghawiy 4/283, Zadul Masir 8/342 dan Tafsir Al-Qurthubiy 18/251).

  1. Dalil-Dali dari Hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam

Kewajiban Shalat berjamaah juga telah ditunjukkan oleh hadits-hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam diantaranya:

  1. Hadits Pertama:

Al-Imam Muslim telah meriwayatkan dari Abu Hurairah ia berkata: Seorang laki-laki buta (‘Abdullah bin Ummi Maktum) mendatangi Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam  lalu berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku  tidak memiliki  seorang penuntun yang mengantarkanku ke masjid”. Lalu beliau meminta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  agar memberi keringanan kepadanya untuk shalat di rumahnya. Maka  Rasulullah memberikannya keringanan. Namun ketika Ibnu Ummi Maktum hendak kembali, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam memanggilnya serakaya berkata: “Apakah Engkau mendengar panggilan (adzan) untuk shalat?” ia menjawab “benar”, maka Rasulullah bersabda: “Penuhilah panggilan tersebut.

Dalam hadits ini  Nabi yang mulia tidak memberikan keringanan kepada ‘Abdullah Ibnu Ummi Maktum untuk meninggalkan shalat berjama’ah dan melaksanakannya di rumah, padahal Ibnu Ummi Maktum mempunyai beberapa ‘udzur  diantaranya:

  1. Matanya Buta,
  2. Tidak memiliki penuntun yang mengantarkannya ke masjid,
  3. Rumahnya jauh dari masjid,
  4. Umurnya yang sudah tua dan tulang-tulangnya sudah rapuh.
  5. Adanya pohon kurma dan pohon-pohon lainnya yang menghalanginya antara rumahnya dan masjid,
  6. Adanya binatang buas yang banyak di Madinah .
  1. Hadits kedua

Al-Imam Al-Bukhari telah meriwayatkan dari Malik bin Al-Huwairits: Saya mendatangi Nabi dalam suatu rombongan dari kaumku, maka kami tinggal bersamanya selama 20 hari, dan Nabi adalah seorang yang penyayang dan lemah lembut terhadap sahabatnya, maka ketika beliau melihat kerinduan kami kepada keluarga kami, beliau bersabda (yang artinya):

Kembalilah kalian dan tinggallah bersama mereka serta ajarilah mereka dan shalatlah kalian, apabila telah datang waktu shalat hendaklah salah seorang di antara kalian adzan dan hendaklah orang yang paling tua (berilmu tentang al-Kitab & as-Sunnah dan paling banyak hafalan al-Qur`annya) di antara kalian mengimami kalian.” (Hadits Riwayat Al-Bukhari no. 628, 2/110 dan Muslim semakna dengannya no. 674, 1/465-466).

Berdasakan dalil -dalil di atas disimpulkan bahwa shalat berjamaa’ah  di masjid hukumnya wajib bagi laki-laki .

Shalat Berjamaah Bagi Wanita

Adapun bagi wanita maka  mereka tidak diwajibkan untuk shalat berjama’ah di masjid, rumah mereka lebih afdhal.Namun jika mereka hendak melaksanakan shalat berjamaah di masjid tidak boleh dilarang. Mereka boleh keluar ke masjid untuk shalat berjamaah   dengan beberapa syarat.

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: