DPW DKI Jakarta dan Depok

Ibnu Mas’ud -radhiyallahu ‘anhu- dan Ayat-Ayat Ar-Rahman

0 267

 

Majelis Tadarus Sirah Part 118

Abdullah namanya. Terkadang orang memanggilnya Ibnu Mas’ud. Ada juga yang memanggilnya Ibnu Ummi ‘Abdin. Sehari-hari ia mengembala domba milik ‘Uqbah bin Abi Mu’aith. Ya, dialah ‘Uqbah yang melemparkan jeroan unta di pundak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

‘Anak gembala’ ini kelak, masuk dalam 4 nama istimewa yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka adalah rujukan bagi yang ingin bertanya dan belajar perihal Kitabullah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Pelajarilah Al Qur’an dari empat orang: Ibnu Mas’ud, Ubay bin Ka’ab, Mu’adz bin Jabal, dan Salim mantan budak Abu Hudzaifah.” (HR. Ahmad)

‘Anak gembala’ ini pula yang kemudian beliau sabdakan, “Jika kalian ingin mendengarkan Al Qur’an sebagaimana ia diturunkan, dengarkanlah dari tilawahnya Ibnu Ummi ‘Abdin”. (HR Ahmad dan Ibnu Majah)

Islam telah mengubah hidupnya. Sejak bersyahadat, ia menjadi salah satu asisten Nabi. Ia sering ‘melekat’ kemanapun Nabi pergi. Urusan siwak, air wudhu, sandal, dan berbagai keperluan Nabi selalu ia layani.

Kedekatanya itu membawa berkah. Bak ulat bulu, ia bertransformasi menjadi kupu-kupu. Dari ‘anak gembala’ yang dipandang sebelah mata, menjadi ‘guru besar’ yang dikenang sepanjang masa.

Kedekatan itu, membuatnya lekat dengan ayat-ayat Al Qur’an. Ayat-ayat Ar Rahman itu, ia tahu turun dimana, tentang peristiwa apa, atau terkait siapa.

Hari itu sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hisyam, Abdullah bin Mas’ud berkumpul bersama para shahabat yang lain.
“Kita belum pernah memperdengarkan Al Qur’an ini di hadapan orang banyak..,” ia lontarkan idenya yang tampak mustahil.

Ia ingin ayat-ayat Ar Rahman ini juga sampai ke telinga semua orang. Tak terkecuali para pemuka Quraisy itu. Ia tahu, kemu’jizatan Al Qur’an itu benar-benar ‘ajaib’.

Ayat-ayat Ar Rahman itu, jika ditangkap oleh telinga, ia merdu. Jika merasuk ke relung hati, ia akan bercahaya. Hati yang bening akan membuat cahayanya berpendar ke relung-relung jiwa. Lalu jiwa-jiwa itu akan di penuhi cahaya hingga ke sudut-sudutnya.

Cahaya itu jika bertemu dengan fitrah yang suci, ia akan terpancar keluar. Ia akan membentang di hadapan langkahnya. Jalannya menjadi terang. Cahaya itu akan menuntunnya menuju kebahagiaan, di alam keabadian.

“Namun, siapa yang berani..?”
Pertanyaan itu mengemuka.
Semua tahu apa yang akan menimpanya jika berani-berani memperdengarkan Al Qur’an di hadapan elit Quraisy itu.

“Aku..,” jawab Ibnu Mas’ud.

“Jangan! Kami mengkhawatirkanmu. Kita cari selain engkau. Agar jika terjadi apa-apa, ada keluarga besarnya yang siap membela,” salah seorang shahabat menyela.

“Biarkanlah aku saja. Ada Allah yang akan menjagaku..” ia bersikeras.

Betul. Keesokan harinya ia masuk ke Baitullah, saat mentari dhuha mulai meninggi. Dia berdiri di Maqam Ibrahim, bekas pijakan nabi Ibrahim yang waktu itu tak berjarak dari Ka’bah.

“Bismillahirrahmanirrahiim..”
Dengan menyebut nama Allah, Ar Rahman, Ar Rahim”

“Ar Rahmaan..”
Yang Maha Pengasih.

“Allamal Qur’aan..”
Yang telah mengajarkan Al Qur’an.

“Khalaqal insaan..”
Dia menciptakan manusia.

“Allamahul bayaan..”
Mengajarnya pandai bicara.

“Asy syamsu wal qamaru bihusbaan..”
Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan.

“Wan najmu wasy syajaru yasjudaan..”
Bintang gemintang dan pepohonan kedua-duanya tunduk kepada-Nya.

Tilawahnya melantun merdu. Khusyu’ penuh ta’zhim. Ayat demi ayat di Surat Ar Rahman yang dibacanya.

Para pemuka Quraisy yang sedang duduk-duduk di Hijir itu terhenyak. Telinga mereka menikmati merdunya. Akal mereka bertafakkur di buatnya. Tentang Sang Pencipta, alam raya, dan manusia. Begitu barangkali. Namun, hati yang di dalam dada itu yang buta.

Ar Rahman? Ar Rahim? Siapa itu Ar Rahman dan Ar Rahim?

Selama ini mereka tahu, yang Maha Menciptakan adalah Allah. Lalu yang mereka kenal adalah Lata, Uzza, dan Manat. Siapa ini Ar Rahman dan Ar Rahim?

Al Qur’an? Al insaan? Matahari dan bulan? Bintang dan pepohonan? Langit?

“Apa yang dibaca Ibnu Ummi Abdin itu..?!”
Pertanyaan itu menyadarkan mereka.

“Itu yang diajarkan Muhammad..!” yang lain menimpali.

Serempak. Mereka semua mendekat. Bogem mentah, pukulan dan tendangan mendarat di tubuhnya. Wajahnya babak belur.
Namun Abdullah bin Mas’ud tidak berhenti. Ia terus bertilawah. Biarlah sampai batas yang Allah izinkan ia mampu baca.

Ibnu Mas’ud kembali menemui para shahabat.

“Inilah yang kami khawatirkan..,” salah satu shahabat menyesalkan tindakannya itu.

“Sekarang aku tahu, musuh-musuh Allah itu tidak ada apa-apanya..,” suaranya pelan tapi penuh keyakinan. Ia semakin yakin dan berani. “Besok, kalau kalian mau, aku akan melakukannya lagi..”

“Tidak.. tidak.., cukup wahai Ibnu Mas’ud. Itu sudah cukup. Engkau telah membuat mereka mendengarkan apa yang mereka tidak sukai..” cegah mereka.

Subhanallah..
Kalimat ‘laa ilaaha illallah’ mampu menyulap Ibnu Mas’ud. Kalimat ini mampu memompa izzah, keyakinan, dan keberanian dalam jiwanya. Kelemahan fisik bukan penghalang.

Keberaniannya ini membuatnya menyandang predikat “Orang Pertama yang Men-jahar-kan Al Qur’an”.

Referensi:
– As Sirah An Nabawiyyah Ash Shallabi
– At Tarbiyyah Al Qiyadiyyah

✍🏼
Murtadha Ibawi
Majelis Tadarus Sirah

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: