DPW DKI Jakarta dan Depok

Insiden Jeroan Unta

0 330

 

INSIDEN JEROAN UNTA
(Majelis Tadarus Sirah Part 111)

(Oleh: Ustadz Murtadha Ibawi)

Dulu sewaktu masih berdakwah secara sembunyi-sembunyi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam harus ke lembah-lembah untuk shalat. Untuk sekedar berdiri dan sujud menghadap Rabb-nya.
.
Adapun setelah turun perintah menampakkan dakwah secara terang-terangan, beliau tidak lagi menyusuri celah-celah lembah Makkah. Beliau shalat di jantung Makkah, di depan Ka’bah.
.
Khusyu’. Di hadapan beliau adalah Ka’bah al musyarrafah. Sedangkan nun jauh di sana, pada arah yang sama beliau juga menghadap ke Baitul Maqdis. Keningnya sujud merendah ke bumi, namun hatinya membumbung bermunajat kepada Dzat yang Maha Tinggi.

Ka’bah bukan tempat sepi. Justru di sudut-sudut Baitullah itulah tokoh-tokoh Quraisy berkumpul. Kadang mereka bermajelis di Hijir Isma’il, salah satu sudut Ka’bah yang paling dimuliakan.
.
Mungkin, menampakkan diri di tempat paling mulia seperti itu adalah cara mereka menjaga wibawa. Agar semua orang tahu: “Ini majelis terhormat, hanya untuk orang-orang terhormat”.
.
Baitullah adalah tempat paling suci, yang seharusnya hati menjadi khudhu’ dan khusyu’ saat berada di dalamnya. Namun tidak bagi mereka. Justru mereka menampakkan kesombongan dan kepongahan.
.
Sedikitpun tidak ada rasa takut pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk shalat disitu. Meskipun harus melintas di hadapan Abu Jahal dan kroni-kroninya. Meskipun dicemooh, direndahkan, ditertawakan.
.
Awalnya ‘kekerasan verbal’, lama kelamaan meningkat. Mereka semakin lancang dari hari ke hari. Mereka semakin berani menyakiti diri baginda Nabi.

Para shahabat hanya terdiam. Selain jumlah mereka sedikit, mereka hanya ‘orang-orang biasa’. Di masa itu pula mereka diperintahkan untuk menahan diri. Belum boleh, belum saatnya konfrontasi.
.
Imam Bukhari meriwayatkan dari shahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu yang berkisah tentang hari-hari itu. Anak gembala yang jelak menjadi guru besar umat itu hanya bisa termangu.
.
Abu Jahal, manusia yang paling sok berkuasa berkata kepada rekan-rekannya, “Siapa di antara kalian yang bisa membawakan jeroan unta Bani Fulan, lalu menimpuknya ke punggung Muhammad saat dia sedang sujud?”
.
Bangkitlah ‘Uqbah bin Abi Mu’ith, orang yang pernah beriman lalu murtad hanya karena tak ingin dikucilkan sahabat karibnya. Ia beranjak ke rumah Si Fulan mengambil jeroan yang tadi disebut Abu Jahal.
.
Mungkin ada kepuasan tersendiri bagi ‘Uqbah. Ia bangga barangkali, bisa mendapatkan pengakuan dari para elit itu. Mungkin ia puas dianggap paling berani.
.
Sejurus kemudian ia kembali. Betul, ia bawa jeroan unta. Ditunggunya hingga kepala Sayyidina Muhammad_’alaihis shalatu was salam menempel ke tanah, sujud. Ditumpahkannya jeroan unta hasil sembelihan hari kemarin itu ke pundak baginda Nabi.
.
Tak terkira anyirnya. Tak terbayang aroma busuknya. Tapi Nabi tidak bergeming. Beliau tetap lanjutkan munajat dalam sujud panjangnya.

“Aku hanya bisa termangu tanpa bisa berbuat apa-apa..” kata Ibnu Mas’ud. “Aku ingin sekali membersihkannya dari punggung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tapi apalah daya. Sekiranya aku ini memiliki keluarga besar yang bisa melindungiku, pasti aku melakukannya..”
Masa itu, ia hanya dipandang sebelah mata sebagai anak gembala.
.
“Mereka terbahak-bahak, sampai badan mereka terguncang-guncang miring kanan-kiri. Sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih terus bersujud..” kenangnya.
.
Beliau tak jua angkat kepala. Panjang nian. Khusyu’ benar..

Tak tahan melihat kejadian itu, entah oleh siapa, dijemputlah putri tercinta baginda nabi. Sayyidah Fathimahradhiallahu ‘anha, gadis kecil itu mendatangi ayahanda. Dibersihkannya pundak dan punggung Nabi.
.
Setelah mengangkat kepala, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdo’a, “Ya Allah! Binasakanlah para pemuka Quraisy ini..”
.
“Mereka semua tahu, tempat itu adalah tempat mustajab untuk berdo’a,” lanjut Ibnu Mas’ud bertutur. “Kemudian dalam doanya tersebut, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam menyebutkan nama mereka satu persatu: ‘Ya Allah! binasakanlah Abu Jahal bin Hisyam, ‘Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Al Walid bin ‘Utbah, Umayyah bin Khalaf, ‘Uqbah bin Abi Mu’aith, dan ‘Umarah bin Walid.”
.
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya!” tutur Ibnu Mas’ud sambil bersumpah, “..sungguh aku melihat orang-orang yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu terbunuh di Perang Badar lalu dicampakkan ke dalam sumur Badar..”

Subhaanallah..
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diintimidasi dan disakiti. Itu semua demi siapa? Siapa lagi kalau bukan demi kita, umatnya?
.
Semoga Allah jadikan kita termasuk hamba-hamba yang bisa bersyukur. Atas nikmatnya karunia iman dan Islam.
.
Ajaran mulia ini bisa sampai kepada kita setelah melewati cucuran keringat, darah, dan air mata.
.
.
Disarikan dari:
– Ar Rahiqul Makhtum
– Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Fii Makkah
– Al Ghuraba’ Al Awwalun
.
.
✍🏼
Murtadha Ibawi
Majelis Tadarus Sirah

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: