DPW DKI Jakarta dan Depok

Istri Tidak Shalat dan Selalu Membantah

0 149

Istri Tidak Shalat dan Selalu Membantah

Pertanyaan;

Istriku selalu menyelisihiku dalam banyak hal seperti pendidikan anak, hubungan dengan kerabat, dan urusan rumah tangga lainnya. Apa yang harus saya lakukan? Saya juga sudah menyuruhnya untuk shalat membaca Al-Qur’an. Tetapi dia tidak nurut, mohon do’anya agar dia mendapat hidayah (petunjuk)

Jawaban:

Pertama,

Rumah tangga yang bahagia adalah rumah tangga yang dibangun di atas prinsip tafahum (saling memahami) dan saling mencintai, yang kemudian disempurnakan dengan saling mengasihi dan menyayangi (Mawaddah wa Rahmah) antara suami dan istri. Semua ini tidak akan terwujud dengan sempurna melainkan jika masing-masing menunaikan kewajibannya. Diantaranya kewajiban suami memberikan nafkah istri dan anak-anaknya, kewajiban istri untuk taat pada suami.

Jika istri mau merebut wewenang kepemimpinan rumah tangga (qawwamah) dari suami, atau melakukan tindakan nusyuz dan menolak untuk taat pada suami, maka sesungguhnya istri seperti ini telah merintuhkan bangunan rumah tangga dengan tangannya dan mengabaikan anak-anaknya dengan perbuatan buruknya tersebut.

Para istri hendaknya menyadari dan memahami bahwa ketaatan pada suaminya merupakan kewajiban syar’i. Dan para suami menempatkan kewenangan mereka sebagai pemimpin rumah tangga (qawwam) secara baik dalam membimbing, membina, dan membahagiakan istri dan keluarganya. Allah Ta’ala berfirman;

( الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِم ) النساء/34

Para istri juga hendaknya merenungkan hadits-hadit Nabi berikut;

 

  1. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

’Andaikan saya boleh menyuruh seseorang sujud kepada orang lain, niscaya akan saya perintahkan wanita sujud kepada suaminya”. (HR.Tirmidzi, No. 1159 dan dishahihkan oleh Syekh Al-Albani)

  1. Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

 ( ثَلَاثَةٌ لَا تُجَاوِزُ صَلَاتُهُمْ آذَانَهُمُ : الْعَبْدُ الْآبِقُ حَتَّى يَرْجِعَ ، وَامْرَأَةٌ بَاَتْ وَزَوْجُهَا عَلَيْهَا سَاخِطٌ ، وَإِمَامُ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ )

Ada tiga orang yang shalatnya tidak  . . . .(1) Budak (hamba sahayaz) yang melarikan diri dari tuannya hingga dia kembali, (2) Istri yang tidur malam dalam keadaan suaminya murka padanya, dan (3) Pemimpin kaum yang dibenci oleh kaumnya (rakyatnya)”. (HR. Tirmidzi)

  1. Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

( لَا تُؤْذِي امْرَأَةٌ زَوْجَهَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا قَالَتْ زَوْجَتُهُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ لَا تُؤْذِيهِ قَاتَلَكِ اللَّهُ فَإِنَّمَا هُوَ عِنْدَكَ دَخِيلٌ يُوشِكُ أَنْ يُفَارِقَكِ إِلَيْنَا ) . رواه الترمذي ( 1174 ) ، وصححه الألباني في ” صحيح الترمذي “

”Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya di dunia, melainkan istrinya dari kalangan bidadari surga mengatakan, ‘janganlah engkau menyakitinya semoga Allah membinasakanmu, dia hanya sementara bersamamu, dia akan segera meninggalkanmu dan datang kepadaku”. (HR.Tirmidzi. No.1174 dishahihkan oleh Syekh Al-Albani).

  1. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu mengatakan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam brsabda;

 ( لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ وَلَا تَأْذَنَ فِي بَيْتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ

 ‘’Tidak halal bagi seorang istri berpuasa (sunnah) sementara suaminya ada (di rumah) tanpa seidzin (suami) nya dan tidak boleh mengidzinkan orang lain masuk ke rumahnya tanpa seidzin suaminya”. (HR. Bukhari, No.4899 dan Muslim, No. 1026)

Syaikh Al-Albani rahimahullah mengomentasri hadits ini dengan mengatakan;

Jika seorang istri wajib mentaati suami dalam urusan menyalurkan syahwatnya, maka dalam urusan yang lebih penting dan lebih urgent tentu lebih wajib untuk taat pada suaminya, seperti dalam masalah pendidikan anak, pembinaan keluarga dan perbaikan rumah tangga dan hak-hak wajib lainnya”.

Selanjutnya Syekh Al-Albani mebgutip perkataan Ibn Hajar dalam Fathul Bari;

Hadits ini menunjukan bahwa hak suami atas istri lebih utama dari ibadah kebaikan yang sifatnya tathawwu’ (tambahan/sunnah), karena hak suami hukumnya wajib, sedangkan menunaikan yang wajib lebih didahulukan dari tathawwu’ (sunnah/tambahan)”. (Adab Zafaf, hlm. 210)

Kedua,

Suami hendaknya mencaritahu sebab-sebab pembangkangan (nusyuz) istrinya. Dengan mengenali dan mengetahui sebab-sebabnya akan memudahkan menemukan solusi untuk memperbaikinya, agar masing-masing aman dan selamat dari murka Allah. Kadang diantara faktor yang kadang menyebabkan istri berbuat nusyuz adalah suami sendiri. Misalnya maksiat atau kedurhakaan suami kepada Allah. Sebagian orang saleh zaman dahulu (Salafus Shaleh) ada yang mengatakan;

Kadang saya menemukan dampak dari kemaksiatanku pada hewan tunggangan (kendaraan) ku dan istriku”. Dampak tersebut berupa buruknya akhalaq istri dan keenggananan untuk menantaati suami. Artinya sikap buruk istri pada suami merupakan reaksi dan balasan dari akhlaq buruk suami kepada istrinya.

Diantara sebab lain adalah campurtangan keluarga, kerabat, tetangga atau teman-teman istri yang turut andil bersama Iblis dalam memisahkan pasangan suami-istri.

Jika sebabnya adalah dari istri seperti lemah iman, maka suami harus membantu mengingatkan untuk selalu ingat Allah. Suami hendaknya membantu istri dalam merawat dan menguatkan imannya. Suami juga hendaknya mengajari istri bagaimana seharusnya seorang istri menunaikan kewajiban terhada suaminya.

Jika istri belum berubah maka suami boleh memukul degan pukulan yang mendidik tanpa menyakiti. Jika belum berubah juga, maka pisah ranjang. Jika suami telah berusaha menempuh tahapan-tahapan untuk memperbaiki namun itsri tidak juga mengalami perubahan, maka tidak mengapa menceraikannya dengan talak satu. Kadang hal itu membuat istri sadar sehingga mau berubah dan kembali (rujuk) pada suaminya.

Dasar hukum tahapan-tahapan perbaikan masalah hubungan suami istri dan problem rumah tangga adalah firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 34;

( وَاللاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلاً إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيّاً كَبِيراً ) النساء/34

Artinya, “

Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”. (Qs. An-Nisa:34).

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah mengatakan,

“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya”, yakni istri yang tidak taat pada suaminya atau durhaka kepada suami dengan perkataan dan perbuatan, maka suami hendaknya mendidiknya secara perlahan-lahan”.

maka nasehatilah mereka”, yakni jelaskan kepada mereka hukum-hukum Allah tentang kewajiban itsri untuk taat pada suami serta larangan durhaka kepadanya, diserati dengan motivasi untuk melakukan ketaatan dan peringatan dari perbuatan maksiat. Jika dia berhenti (dari sikal nusyuznya) maka inilah yang diharapkan . Jika tidak maka suami dapat memboikotnya di tempat tidur dengan tidak menidurinya dan tidak menggaulinya. Jika belum berubah juga maka suami boleh memukul dengan pukulan yang tidak melukai. Jika maksud dan tujuan telah tercapai dengan salah satu dari langkah-langkah perbaikan ini dan istri telah taat pada suami”, maka

“janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya”, maksudnya jika yang kalian inginkan telah tercapai maka lupakanlah apa yang telah terjadi sebelumnya, janganlah mencela, dan janganlah menyebut-nyebut aib yang telah lalu,karena hal itu dapat menyebabkan keburukan yang baru”. (Tafsir As-Sa’di, hlm. 142).

Yang pasti seorang suami adalah orang paling tahu tentang istrinya, jika dia mengetahui sebab nusyuznya istrinya berupa sesuatu yang dapat diperbaiki, maka hendaknya dia berusaha memperbaikinya. Jika tidak berhasil maka hendaknya melibatkan kelurga masing-masing sebagai mediator.  Sebab kadang pihak luar (keluarga/kerabat) lebih berpengaruh dari nasehat suami sendiri.

Ketiga,

Jika istri tidak  mengerjakan shalat, maka suami wajib untuk memulai penyelesaian problem rumah tangga dengan masalah sahalat. Karena shalat merupakan identitas uatama seorang Muslim (ah) sekaligus pembeda antara Muslim dengan orang kafir dan musyrik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

 ( إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ ) . رواه مسلم ( 116

Pembeda seorang Muslim dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat”. (HR. Muslim, No.116).

Dalam hadits riwayat Tirmidzi beliau bersabda;

( إِنَّ الْعَهْدَ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلَاةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ (

Perjanjian antara kami dengan mereka (orang kafir) adalah Shalat, siapa yang meninggalkan shalat dengan sengaja maka ia telah kafir” (HR. Tirmidzi, No.2621, Nasai No. 463, dan Ibnu Majah, No.1079 serta dishahihkan oleh Syekh Al-Albani).

Oleh karena itu anda hendaknya mendidik dan membimbingnya untuk mengerjakan shalat dengan menggunakan berbagai metode dan pendekatan. Anda harus mengingatkannya bahwa meninggalkan shalat dapat menyebabkan kekufuran. Jika dia nurut, maka alhamdulillah. Namun jika dia tidak patuh (tidak mau shalat) maka tidak solusi lain untuk menyelasaikan masalah nusyuznya. Semoga Allah memberikan hidayah kepadanya untuk mengerjakan shalat serta membimbing hatinya kepada kebaikan dan mengurunianya syukur nikmat. [sym]

Sumber: https://islamqa.info/ar/98624

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: