DPW DKI Jakarta dan Depok

Jangan Sepelekan Teguran Allah (Kesaksian dan Nasehat Korban Selamat Gempa Palu)

2 214

Jangan Sepelekan Teguran Allah (Kesaksian dan Nasehat Korban Selamat Gempa Palu)

Tolong, tolong jangan sepelekan teguran Allah. Jangan  anggap lelucon sebuah gempa. Dan  tolong doakan kami semoga selalu dalam lindungan-Nya. (Nurhaerani, dari bawah tenda darurat).

 

Hari itu, Jumat, 28 september 2018.

Pukul 18.02. Saya, suami dan anak-anak lagi kumpul untuk menikmati sepiring mie goreng, sambil bercerita dengan seru seperti biasanya. Lalu  akan dilanjut shalat Magrib berjamaah. Tapi, anak-anak yang tidak ikut makan malah saya kumpulkan lebih dekat dengan saya dan suami. Entah firasat apa.

Baru saja sendok kami naikkan, suara gemuruh serta getaran yang dahsyat membuyarkan keceriaan kami. Berganti teriakan kalimat tauhid dan takbir serta istighfar. Entah kekuatan darimana, kedua anakku ku kumpulkan dalam dekapan dengan doa agar kami baik-baik saja.

Suamipun merangkul kami bertiga, membuat benteng di atas kami seperti model tempurung. Anak-anak diam saja, mereka tidak menangis. Kulihat tembok sedikit runtuh, bau semen dan pasir yang menyengat dan berdebu. Lampu mulai padam lalu menyala lagi. Kulihat lemari tinggi besar yang kutakuti, jatuh kearah berlawanan dari kami. Jarak kami hanya 50cm dengan lemari itu.

 

Allahu Akbar… Sungguh pertolongan Allah, lemari tidak menimpa kami.

Setelah getarannya sedikit reda, kugendong anak keduaku dan berteriak ke suami untuk menggendong anak pertama kami. Pecahan piring dan gelaspun aku injak tanpa pikir panjang. Alhamdulillah, tak segores luka yang ada. Pintu kayu pertama yang kami lewati kandas karena pasir. Kupaksa buka… kemudian pintu besi kedua yang terhalang pipa pun mulai menyusahkan. Kudorong  dengan semua tenaga yang aku punya saat itu. Dibantu suami, pintu terbuka.

Kami memilih lari ke garasi. Sampai disana, getaran kembali terasa hingga membuat kami pusing. Kaki mulai goyah. Satu lagi pintu pagar garasi yang harus kami terobos. Entah  firasat apa juga, tanganku lincah mengambil kunci mobil kemudian berlari keluar. Gempa tetap mengguncang kota Palu dengan getaran yang dahsyat beberapa kali.

Kau tahu teman? Apa yang kami takutkan? Bukan kehilangan harta benda, tapi kehilangan keluarga dan tetangga.

Kau tau teman? Bagaimana trauma kami? Suara kendaraan dan getaran kendaraan berat saat lewat, membuat kami seketika bangun dari tidur. Bahkan jantung berdegup pun terasa seperti getaran gempa.

Dan sekarang pun kami tidak bisa bedakan gempa atau hanya perasaan kami. Berlebihan? Tidak… kami trauma…

Kau tahu teman? Istighfar, kalimat tauhid dan takbir tidak lepas dari mulut kami disertai tangisan.

Kau tahu teman? Kami yang selamat ini lantas tidak seketika bahagia karena disaat gelap mulai menyelimuti, lampu mulai padam, banyak orang berlari dengan darah di kepala dan badan mereka.

Apa yang membuat kami lari. Kau ingin tahu??? Trauma tsunami… dan memang benar, sebagian daerah pesisir teluk habisss rata oleh air. Tak usah kau tanyakan korbannya… ratusan orang meninggal dunia, ratusan orang terpisah dan kehilangan keluarganya..

Dalam tidurmu yang nyenyak pada malam Sabtu tanggal 28 september itu, kami tidak merasakannya. Terikan orang orang menyebut nama keluarganya yang hilang, getaran demi getaran yang terus kami rasakan. kami tidur beralaskan kardus dan selimut seadanya di pinggir jalan – di bawah langit, anak anak yang gelisah, terikan org minta bantuan, itu cukup membuat tidur kami tidak nyenyak. Kabar dari mereka yg selamat dari timbunan runtuhan rumah menjadi bahagia kami meski tidak saling kenal. Kematian mereka di pesisir teluk Palu dan runtuhan banguan menjadi sedih kami..

Sirine ambulans yang lalu lalang membawa korban menjadi tontonan kekhawatiran kami.

Dan… ketika rumah menjadi tempat ternyaman bagi orang orang, maka tidak buatku. Itu  malah menjadikan aku trauma saat memasukinya pasca gempa. Melihat dimana posisi kami duduk berempat, di situ pula terlihat lemari yang jatuh, batu dan pasir dari rumah, dan gelas piring berhamburan. Sisa makanan yang hendak kami santap masih ada di situ. Melihat  pintu pintu yang menghambat lari kami, melihat seisi rumah yang porak poranda, semua itu menjadi trauma buatku.

Tolong, tolong jangan sepelekan teguran Allah. Jangan  anggap lelucon sebuah gempa. Dan  tolong doakan kami semoga selalu dalam lindungan-Nya.

(Nurhaerani,Palu, 1 oktober 2018. Dari bawah Tenda darurat).

2 Comments
  1. isnain says

    saya tdk dapat berkomentar banyak..kecuali hanya hrus memperbanyak istigfar dan doa….. laa haula walaa kuwwata illa billah……kuatkan dan sabarkan saudara saudariku yg tercinta yaa Allah…. amiin

    1. wahdahjakarta says

      Aamiin

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: