DPW DKI Jakarta dan Depok

Kalian Tergesa-gesa

0 251

Kalian Tergesa-gesa (Majelis Majelis Tadarus  Sirah Part 98)

Dia tidak berdarah Quraisy. Dia hanya budak di rumah Ummu Ammar sebagai pandai besi. Sehari-hari ia tak lepas dari logam, bara api, debu arang, dan palu godam.

Kita tahu, untuk membuat kerajinan dari logam, pedang, pisau dan sejenisnya, besi-besi itu harus dibakar. Sampai menganga, warnanya sama dengan bara yang membakarnya.

Ummu Anmar sang majikan, naik pitam ketika melihat budaknya masuk Islam. Bagaimana bisa ia lancang mengikuti agama Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam? Memang dia pikir siapa dirinya?

Khabbab disiksa. Bukan hanya pukulan tangan-tangan kosong. Besi-besi panas itu pun ikut mendarat di kulitnya.

Hari itu, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Al Bukhari, di bawah naungan bayang-bayang Ka’bah Khabbab bertanya kepada Sang Nabi ‘alaihis shalaatu was salam.

Beliau duduk beralaskan burdah.

“Wahai Rasulullah.., tidakkah engkau memohonkan pertolongan untuk kami? Tidakkah engkau berdo’a untuk kami?”

Khabbab dan para shahabat tahu bahwa do’a Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu maqbul. Beliau adalah imamul anbiya’, imamnya para Nabi. Nabi Nuh pernah berdo’a. Nabi Ibrahim pernah meminta. Pun Nabi Musa, Nabi Isa, dan para anbiya’ yang lain.

Bagaimana pula jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang berdo’a?

Tak disangka. Wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merah.

Sungguh.. Pernah ada, dahulu orang sebelum kalian. Badannya dipendam sebatas leher. Kepalanya digergaji hingga terbelah. Ada yang disisir hingga lepas kulitnya. Namun semua itu tak membuat mereka berpaling..” jelas sang Rasul.

“..kalian ini tergesa-gesa..”, lanjutnya.

“..demi Allah, agama ini akan paripurna. Akan tiba saatnya, orang berjalan dari Shan’a hingga Hadhramaut namun tidak ada yang ia takuti kecuali Allah saja, atau sekedar serigala yang bisa memangsa gembalaannya..”, jelasnya lagi.

“..tapi sungguh kalian ini tergesa-gesa..”,tegasnya.

Khabbab bertanya tentang datangnya pertolongan. Bukankah Khabbab berhak bertanya tentang itu? Bukankah ia sendiri pernah mengalami beratnya aniaya itu?

Betul. Namun rupanya Rasullah shallallahu ‘alaihi wasallam ingin mengajarkan mengajarkan satu kaidah. Bahwa ujian di jalan perjuangan adalah sunnatullah. Ujian di jalan perjuangan adalah keniscayaan. Bahkan orang-orang terdahulu ada yang lebih berat dari itu, sebagaimana sabda Nabi.

Sunnatullah pula sebagaimana kata Dr. Raghib As Sirjani:

Kemenangan itu ada syarat-syaratnya. Sebagaimana keruntuhan itu ada sebabnya.

Sudahkah kita mempersiapkan diri?

Sudahkah kita memantaskan diri?

Sudahkah kita penuhi syarat-syarat turunnya pertolongan itu?

 

Malulah kita..

Jika belum apa-apa..

Belum mempersiapkan apa-apa..

Lalu meminta, “Ya Allah turunkanlah pertolongan-Mu”

 

Mari..

Jangan berhenti ‘ngaji’

Kita persiapkan diri dan generasi. []

 

Murtadha Ibawi

Majelis Tadarus Sirah

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: