DPW DKI Jakarta dan Depok

Kapankah Malam Lailatul Qadar ?

0 204

Bulan  Ramadhan  adalah bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang mulia (lailatul qadar) malam diturun-kannya Al-Qur’an. Allah Subhaanahu Wa Ta’ala mengabar-kan bahwa ia lebih mulia dari seribu bulan dari segi keutamaan,  kemuliaan-nya dan banyaknya pahala. Pada malam itu turun para Malaikat atas idzin Allah membawa keselamatan sampai terbit fajar.

Kapankah Lailatul Qadar itu?

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan dalam Fathul Bari 42-50 pendapat dalam penentuan malam lailatul qadar, dan yang paling rajih adalah bahwa dia pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah mengabarkan hal itu. Beliau bersabda:

تحروا ليلة القدر في الوتر من العشر الأواخر من رمضان”

Carilah malam lailatul qadar pada tanggal-tanggal ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan” (HR. Bukhari dan Muslim)

Malam tanggal ganjil yang dimaksud adalah tanggal 21,22,23,25, 27, dan 29. Sebagaimana dalam hadits yang lain beliau bersabda:

 “Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam yang terakhir pada malam 21, 23, 25 dan 27.” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Al-Albani).

Maka barangsiapa yang menghi-dupkan sepuluh malam terakhir khu-susnya malam-malam ganjil dari bulan Ramadhan dengan amalan-amalan ibadah niscaya akan menda-patkan lailatul qadar dan mendapatkan apa yang dijanjikan oleh Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berupa ampunan dan pahala.

Adapun  hikmah dari disembunyi-kannya waktu tepatnya lailatul qadar agar supaya kaum muslimin memper-banyak ibadah di keseluruhan malam bulan Ramadhan, terutama pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, karena lailatul qadar berpindah-pindah setiap tahunnya.

Pada tahun tertentu lailatul qadar terjadi pada malam ke.27, sebagaimana pada tahun lain terjadi pada malam ke.21. Pernah juga terjadi pada malam ke.23 dan pada tahun yang lain terjadi pada malam ke.25.

Malam ke.21

Di masa Nabi lailatul qadar pernah terjadi pada tanggal 21 Ramadhan. Sebagaimana diterangkan dalam hadits riwayat Muslim dari sahabat Abu Sa’id Al-khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

“إِنِّي أُرِيتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ وَإِنِّي نَسِيتُهَا أَوْ أُنْسِيتُهَا فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ كُلِّ وِتْرٍ وَإِنِّي أُرِيتُ أَنِّي أَسْجُدُ فِي مَاءٍ وَطِينٍ”.

“Sungguh telah diperlihatkan padaku Lailatul Qadar, kemudian aku lupa atau dibuat lupa. Olehnya, carilah Lailatul Qadar di sepuluh hari terakhir, pada setiap malam ganjilnya. Pada saat itu aku merasa bersujud di air dan lumpur.”

Abu Sa’id berkata: “Hujan turun pada malam ke-21, hingga air mengalir mengaliri tempat shalat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Seusai shalat aku menyaksikan wajah beliau kotor terkena lumpur. (HR. Bukhari dan Muslim).

Malam ke.23

Pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lailatul qadar pernah terjadi pada malam ke.23. sebagaimana ditunjukan oleh hadits Abdullah bin Unais yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

“Aku bermimpi melihat Lailatul qadar, kemudian aku dibuat melupakannya, kemudian aku bermimpi bahwa esok paginya aku bersujud di tanah lumpur yang berair”. (HR. Muslim).

Abdullah bin Unais berkata, “ Kemudian kami mendapati hujan pada malam ke.23, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat bersama kami, dan sayapun terkena air hujan. Sungguh bekas air dan tanah menempel pada wajah dan hidung Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam”.

Lailatul Qadar pada malam ke.23 juga ditunjukan oleh riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Beliau berkata;

“Kami mengingat-ingat bersama malam Lailatul qadar di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau bersabda;

Siapa diantara kalian yang ingat ketika rembulan muncul seperti  belahan mangkok besar?”

Sebagian ulama menafsirkan, rembulan muncul dengan bentuk seperti belahan mangkok besar pada malam ke.23 Ramadhan. Sebagian lagi mengatakan setelah malam 23.

Malam Ke.25

Ada pula riwayat yang menunjukan, lailatul qadar terjadi pada malam ke.25. sebagaimana ditunjukan oleh hadits Ubadah bin Shamit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar memberitahukan kepada mereka tentang lailatul qadar, kemudian ada dua orang yang berdebat, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

خرجت لأخبركم بليلة القدر فتلاحى فلان وفلان فرفعت وعسى أن يكون خيرا لكم فالتمسوها في التاسعة والسابعة والخامسة

“Aku keluar untuk mengkhabarkan kepada kalian tentang malam Lailatul Qadar, tapi ada Fulan dan Fulan berdebat hingga diangkat (tidak bisa lagi diketahui), mungkin ini lebih baik bagi kalian, carilah dia (lailatul qadar) pada malam kesembilan, keujuh,  dan kelima)” (HR. Bukhari).

Kemungkinan yang dimaksud dengan malam kesembilan (at-tasi’ah) sembilan malam terakhir dari sepuluh malam terakhir Ramadhan yaitu malam ke.29, atau kemungkinan yang dimaksud sembilan malam yang tersisa yaitu malam ke.21 atau ke.22 tergantung jumlah hari bulan Ramadhan tahun itu sempurna (30 hari) atau kurang (29 hari). Adapun kelima (al-khamisah) adalah malam ke.25.

Dalam riwayat lain berbunyi;

” التمسوها في التسع والسبع والخمس “

Carilah ia pada malam sembilan, tujuh, dan lima”.

Maksudnya pada malam ke.29, ke.27, dan ke.25. (Fathul Bari, 316)

Malam Ke.27

Pendapat yang masyhur, lailatul qadar pada malam ke.27. Ini meruapakan pendapat para sahabat, tabi’in, dan mayoritas umat Islam. Pendapat ini didukung oleh beberapa dalil, diantaranya;

Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiallahu Anhuma, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda mengenai Lailatul Qadar:

لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ

 “Ia terjadi pada malam ke-27“. (HR. Abu Daud).

Dari Ubay bin Ka’ab Radhiallahu Anhu ia berkata tentang Lailatul Qadar:

“وَاللَّهِ إِنِّى لأَعْلَمُهَا هِىَ اللَّيْلَةُ الَّتِى أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِقِيَامِهَا هِىَ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ

Demi Allah, sungguh aku mengetahui malam tersebut. Ia adalah malam yang Allah perintahkan kami menghidupkannya dengan shalat malam, yaitu malam ke-27.” (Riwayat Muslim).

Dalam riwayat Imam Ahmad dari Abdullah bin Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

“Barangsipa yang bersungguh-sungguh mencarinya (lailatul qadar), hendaknya ia mencarinya pada malam 27”. (HR. Ahmad).

Dalam riwayat Muslim masih dari Ibnu Umar, beberapa orang bermimpi melihat malam Lailatul qadar pada malam 27. Kemudian Nabi bersabda;

أرى رؤياكم قد تواطأت في السبع الأواخر فمن كان متحريها فليتحرها في السبع الأواخر

Aku melihat, mimpi kalian dalam tujuh hari terakhir bertepatan, maka barangsiapa yang mencarinya (lailatul qadar) hendaknya ia mencarinya pada tujuh malam yang terakhir”. (HR. Muslim).

Malam Ke.29

 

Pendapat berikutnya, lailatul qadar terdapat pada malam 29. Pertama, malam 29 termasuk malam ganjil sehingga peluangnya sama dengan malam-malam ganjil lainnya. Selain itu terdapat hadits lain yang mengisyaratkan, lailatul qadar pada malam ke.29. seperti hadits Ubadah bin Shamit, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

” لَيْلَةُ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْبَوَاقِي , مَنْ قَامَهُنَّ ابْتِغَاءَ حِسْبَتِهِنَّ فَإِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ , وَهِيَ لَيْلَةُ وِتْرٍ تِسْعٌ أَوْ سَبْعٌ أَوْ خَمْسٌ أَوْ ثَلاثٌ أَوْ آخِرُ لَيْلَةٍ ” .

“Lailatul qadar terdapat pada sepuluh hari yang tersisa, siapa yang melakukan qiyam dengan mencarinya secara sungguh-sungguh maka sesungguhnya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Lailatul qadar itu pada malam ganjil; sembilan, tujuh, atau lima, atau tiga, atau malam terakhir”.

Yang dimaksud dengan akhir lailah (malam terakhir) adalah malam 29.

Dalam hadits Ibnu Khuaimah dari Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salakm bersabda;

Bersungguh-sungguhlah mencari lailatul qadar pada malam terakhir”

Kesimpulan

Malam, lailatul qadar terdapat pada sepuluh malam terakhir ramadhan. Tepatnya pada malam-malam ganjil. Jika seorang muslim mencari malam lailatul Qadar carilah pada malam ganjil sepuluh hari terakhir : 21, 23,25,27 dan 29. Kalau lemah dan tidak mampu mencari pada sepuluh hari terakhir, maka carilah pada malam ganjil tujuh hari terakhir yaitu 25,27 dan 29. Wallahu ‘alam. –sym- []

 

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: