DPW DKI Jakarta dan Depok

Kiat Praktis Mengukur Keberhasilan Puasa

Parameter Keberhasilan Puasa
0 112

Setiap tahun kaum Muslim wajib berpuasa di bulan Ramadhan. Tua-muda, pria dan wanita. Memang ada pengecualian, tapi itu sedikit. Tidak main-main, selama satu bulan penuh: 29 atau 30 hari bulan Hijriyah. Seiring dengan jumlah kaum Muslim yang semakin signifikan di dunia, ibadah shiyam ini menjadi fenomena global tahunan.

Idealnya, dengan melakukan ibadah shiyam itu, kaum Muslim dapat meraih derajat takwa. Sehingga kehidupan mereka berubah dari baik menjadi lebih baik. Pasalnya, takwa merupakan derajat manusia paling tinggi dalam Islam.

Oleh karena itu, selalu relevan mempertanyakan secara kritis: sejauh mana kaum Muslim sudah menghayati ibadah shiyam yang dia lakukan? Untuk mengukurnya, kita tentu butuh parameter dengan indikator yang jelas. Dengan itu kita bisa mengevaluasi, sebagai satu pendekatan, sejauhmana shiyam telah benar-benar kita amalkan. Sehingga puasa ini tidak sekadar rutinitas yang kita lakukan setiap tahun.

Alhamdulillah, ternyata ada sebuah parameter shiyam yang bisa kita simpulkan dari hadits Nabi. Hadits tersebut sebenarnya bercerita tentang wasiat Nabi Yahya bin Zakariya Alaihimas salam. Menariknya, dalam wasiat tersebut, Nabi Yahya mengangkat perumpamaan tentang orang yang berpuasa itu. Perumpamaan tersebut mendeskripsikan keadaan orang yang berpuasa. Dari hadits itu, Ibnul Qayyim mengurai aspek yang kasat mata dari orang yang puasa sehingga dapat menjadi indikator yang terukur. Untuk lebih jelasnya, kita simak saja langsung hadits tersebut.

*****

Wasiat Nabi Yahya bin Zakariya Alaihimas salam itu disebutkan dalam satu hadits yang cukup panjang. Hal yang terkait dengan puasa hanya satu bagian kecil di dalamnya. Berikut ini redaksinya secara lengkap.

إنَّ اللَّهَ أمرَ يحيى بنَ زَكَريَّا بخمسِ كلماتٍ أن يعملَ بِها ، ويأمرَ بني إسرائيل أن يعمَلوا بِها ، وإنَّهُ كادَ أن يُبْطِئَ بِها فقال عيسى: إنَّ اللهَ أمَرَك بخَمسِ كلماتٍ؛ لِتَعمَلَ بها وتَأمُرَ بَني إسرائيلَ أن يَعمَلوا بها، فإمَّا أن تَأمُرَهم، وإمَّا أنْ آمُرَهم، فقال يحيى: أخشى إن سبَقتَني بها أن يُخسَفَ بي أو أُعذَّبَ، فجمَع النَّاسَ في بيتِ المقدِسِ، فامتَلَأ المسجدُ وقعَدوا على الشُّرُفِ، فقال: “إنَّ اللهَ أمَرني بخَمسِ كلماتٍ أن أَعمَلَ بِهنَّ، وآمرُكم أن تَعمَلوا بهنَّ: أوَّلُهنَّ أن تَعبُدوا اللهَ ولا تُشرِكوا به شيئًا، وإنَّ مَثلَ مَن أشرَك باللهِ كمثَلِ رجلٍ اشترى عبدًا مِن خالصِ مالِه بذهَبٍ أو ورِقٍ، فقال: هذه داري وهذا عمَلي، فاعمَلْ وأدِّ إليَّ، فكان يعمَلُ ويُؤدِّي إلى غيرِ سيِّدِه، فأيُّكم يَرضى أن يكونَ عبدُه كذلك؟! وإنَّ الله أمركم بالصَّلاة، فإذا صَلَّيتُم فلا تَلتَفِتوا؛ فإنَّ اللهَ يَنصُبُ وجهَه لوجهِ عبدِه في صلاتِه ما لم يَلتفِتْ، وآمرُكم بالصِّيامِ؛ فإنَّ مَثلَ ذلك كمثَلِ رجلٍ في عِصابةٍ معَه صُرَّةٌ فيها مِسكٌ، فكلَّهم يَعجَبُ أو يُعجِبُه ريحُها، وإنَّ ريحَ الصَّائمِ أطيبُ عندَ اللهِ مِن ريحِ المسكِ، وآمرُكم بالصَّدقةِ؛ فإنَّ مثَلَ ذلك كمثَلِ رجلٍ أسَره العدوُّ، فأوثَقوا يدَه إلى عنُقِه، وقدَّموه لِيَضرِبوا عُنقَه، فقال: أنا أَفْديه منكم بالقليلِ والكثيرِ، ففدَى نفسَه منهم، وآمُركم أن تَذكُروا اللهَ؛ فإنَّ مَثلَ ذلك كمَثلِ رجلٍ خرَج العدوُّ في أثَرِه سِراعًا حتَّى إذا أتى على حِصنٍ حَصينٍ، فأحرَز نفسَه منهم، كذلك العبدُ لا يُحرِزُ نفسَه مِن الشَّيطانِ إلَّا بذِكْرِ اللهِ”. قال النَّبيُّ صلَّى اللهُ علَيه وسلَّم: وأَنا آمرُكُم بخَمسٍ اللَّهُ أمرَني بِهِنَّ، السَّمعُ والطَّاعةُ والجِهادُ والهجرةُ والجمَاعةُ، فإنَّهُ مَن فارقَ الجماعةَ قيدَ شبرٍ فقد خلَعَ رِبقةَ الإسلامِ من عُنقِهِ إلَّا أن يراجِعَ، ومن ادَّعى دَعوى الجاهليَّةِ فإنَّهُ من جُثى جَهَنَّم، فقالَ رجلٌ: يا رسولَ اللَّهِ وإن صلَّى وصامَ؟ فقالَ: وإن صلَّى وصامَ، فادعوا بدَعوى اللَّهِ الَّذي سمَّاكمُ المسلِمينَ المؤمنينَ، عبادَ اللَّهِ

Pada web dorar.net disebutkan bahwa hadits ini riwayat dari Sahabat al-Harits bin al-Harits al-Asy’ari Radhiyallahu ahnu dan dinilai shahih oleh al-Albani (Shahih at-Tirmidzi, 2863).

Selanjutnya, dengan sedikit penyempurnaan, terjemah hadits ini tercantum dalam carihadis.com sbb:

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah memerintahkan lima kalimat kepada Yahya bin Zakariya Alaihimas salam agar diamalkan dan memerintahkan Bani Israil supaya mengamalkannya. Sesungguhnya ia hampir saja memperlambatnya.

Isa Alaihis salam berkata, ‘Sesungguhnya Allah memerintahkan lima kalimat padamu agar kamu amalkan dan agar Bani Israil kamu perintahkan untuk mengamalkannya. Perintahlah mereka atau aku yang memerintah mereka.’

Yahya menjawab, ‘Aku khawatir bila kamu mendahuluiku menyampaikannya, aku akan dibenamkan atau disiksa.’

Yahya kemudian mengumpulkan manusia di Baitul Maqdis. Masjid penuh sesak hingga ke teras. Yahya berkata, ‘Sesungguhnya Allah memerintahkanku lima kalimat agar aku amalkan dan aku perintahkan kalian untuk mengamalkannya.

Pertama, sembahlah Allah dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Sesungguhnya perumpamaan orang yang menyekutukan Allah sama seperti seseorang membeli budak dengan uang emas atau perak. Lalu ia berkata, ini rumahku dan ini pekerjaanku. Bekerjalah dan tunaikan untukku! Tapi budak itu malah bekerja dan menunaikan untuk orang lain. Siapa di antara kalian yang mau budaknya seperti itu!?

Sesungguhnya Allah memerintahkan shalat pada kalian. Bila kalian shalat, maka janganlah menoleh! Karena Allah menghadapkankan Wajah-Nya ke wajah hamba-Nya saat shalat, selama ia tidak menoleh.

Aku memerintahkan kalian puasa. Dan perumpamaannya seperti seseorang berada di tengah-tengah sekelompok orang. Ia membawa kantong berisi minyak kesturi. Maka semua orang kagum atau tertarik pada semerbak baunya. Sesungguhnya bau (mulut) orang yang berpuasa lebih harum bagi Allah melebihi minyak kesturi.

Aku juga memerintahkan kalian bersedekah. Perumpamaannya seperti seseorang yang ditawan musuh. Mereka membelenggu tangannya ke leher, mereka lalu memajukannya untuk ditebas lehernya. Kemudian ia berkata, ‘Aku menebusnya dari kalian dengan yang sedikit dan yang banyak.’ Lalu tawanan tersebut menebus dirinya dari mereka.

Aku memerintahkan kalian untuk mengingat Allah. Sesungguhnya perumpamaannya seperti seseorang yang dikejar musuh dengan cepat. Hingga ketika tiba di benteng yang kokoh, ia menjaga dirinya dari mereka. Demikian halnya hamba. Ia tidak menjaga diri dari setan kecuali dengan mengingat Allah.’

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dan aku memerintahkan lima hal pada kalian yang diperintahkan Allah padaku, yaitu: mendengar, taat, jihad, hijrah dan jama’ah; sebab barangsiapa meninggalkan jama’ah barang sejengkal, maka ia telah melepas tali Islam dari lehernya, kecuali jika ia kembali. Dan barangsiapa menyerukan seruan jahiliyah, maka ia termasuk bangkai neraka jahanam.”

Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, meski ia shalat dan puasa?” Beliau menjawab, “Meski ia shalat dan puasa. Oleh karena itu, serukanlah seruan Allah yang menyebut kalian sebagai kaum Muslim, Mu`min dan hamba-hamba Allah.”

*****

Ada banyak hal yang hadits tersebut singgung. Namun, bagian yang secara spesifik terkait dengan puasa adalah redaksi berikut:

“Aku memerintahkan kalian puasa. Dan perumpamaannya seperti seseorang berada di tengah-tengah sekelompok orang. Ia membawa kantong berisi minyak kesturi. Maka semua orang kagum atau tertarik pada semerbak baunya. Sesungguhnya bau (mulut) orang yang berpuasa lebih harum bagi Allah melebihi minyak kesturi.”

Di situ, orang puasa diumpamakan seperti orang yang berbaur dengan sekelompok manusia. Segera bisa dipahami bahwa orang yang berpuasa tetap bergaul dalam kehidupan sosial dan masyarakatnya. Dia tidak dituntut untuk uzlah dalam arti memisahkan diri secara total dari komunitasnya. Dia ada dan bersama dengan manusia lainnya.

Yang menarik, bahwa ternyata orang yang berpuasa itu kemudian digambarkan sebagai orang yang membawa minyak kesturi dalam sebuah kantong. Artinya, meski sedang puasa tapi puasanya itu sesungguhnya tidak terendus oleh manusia di sekelilingnya. Sebagaimana minyak kesturi yang terbungkus dalam kantong. Tidak terlihat.

Apa yang kemudian menarik bagi manusia sekelilingnya? Bahkan membuat mereka kagum dan tertarik. Semerbak harum minyak kesturi yang tercium aromanya, walau material fisiknya tidak kelihatan.

Inilah perumpamaan orang puasa berikutnya. Orang banyak tidak tahu pasti tentang puasanya. Tapi dampak serta “semerbak” ibadah shiyam itu dapat mereka rasakan. Berupa perbuatan baik dan akhlak yang mulia. Digambarkan, manusia banyak itu bahkan sampai kagum pada indahnya akhlak dan perilaku orang yang puasa tadi.

Imam Ibnul Qayyim menulis,

“Nabi Alaihis salam mengumpamakan (orang puasa) itu seperti orang dengan kantong berisi minyak kesturi. Minyak kesturi itu tertutup dari pandangan manusia karena ada di dalam pakaian. Sebagaimana lazimnya orang yang membawa kesturi. Begitu pula orang yang puasa. Puasanya tertutup dari pandangan manusia dan tidak mereka ketahui.

“Orang yang puasa adalah yang anggota tubuhnya terkendali untuk tidak melakukan dosa. Lisannya terjaga perkataan dusta, ungkapan jorok, dan pemutarbalikan fakta. Perutnya terjaga dari makanan dan minuman, serta kemaluannya dari berhubungan badan.

“Bila dia berucap, dia tidak berkata-kata yang bisa menodai kesucian puasanya. Bila dia bertindak, dia tidak melakukan perbuatan yang merusak nilai puasanya. Sehingga semua perkataan dan perbuatannya bermanfaat dan baik.

“Perumpamaannya seperti semerbak wangi yang, manusia di sekitar orang yang membawa kesturi, bisa cium baunya. Begitu pula manusia yang berinteraksi dengan orang yang puasa. Dia mendapatkan manfaat dan tidak akan khawatir terhadap pemalsuan, dusta, maksiat, serta opresi.” (Al-Wabilus Shayyib, 57)

*****

Nah, kembali kepada pertanyaan di bagian awal: sejauh mana kaum Muslim sudah menghayati ibadah shiyam yang dia lakukan? Bagaimana kita mengukurnya? Salah satunya, berdasarkan petunjuk hadits di atas, bisa kita lihat dari tindakan dan perbuatan orangnya. Bila tindakan dan perbuatannya mencerminkan keindahan akhlak, insya Allah puasa orang tersebut sudah segaris dengan visi Islam tentang puasa. Apalagi bila ada nilai manfaat yang jelas dirasakan manusia di sekitarnya.

Sebaliknya, bila tindakan dan perbuatan orang yang “puasa” itu mencerminkan “polusi” akhlak bahkan dekadensi moral, maka puasanya bisa sangat dipertanyakan. Jadi, coba kita masing-masing “lihat ke cermin.” Wallahu a’lam

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: