DPW DKI Jakarta dan Depok

Kongres Hizbusy Syaithan

0 385

‘KONGRES’ HIZBUSY SYAITHAN
(Majelis Tadarus Sirah Part 105)
Oleh: Ustadz Murtadha Ibawi

Al Walid bin Al Mughirah Al Makhzumi. Sang ‘Raihanah Quraisy’ orang-orang menjulukinya. Bak kembang yang semerbak harumnya. Dialah ayahanda Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu. Sang ‘Pedang Allah’.
.
Kaya raya. Dialah salah satu penyandang dana terbesar dalam proyek renovasi Ka’bah beberapa tahun silam. Sangat dihormati karena ketokohannya. Sangat didengar pendapat-pendapatnya. Kemana-mana anak-anaknya selalu menyertai, konon belasan jumlahnya.
.
Keluarga itu tidak disibukkan dengan hiruk pikuk perniagaan. Cukup para pekerja dan budak-budaknya yang mengurusnya.

Imam Ath Thabari meriwayatkan, Al Walid bin Mughirah pernah berkesempatan mendengarkan langsung ayat-ayat Al Qur’an dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Indah mempesona, mendalam maknanya, selaksa hikmah dikandungnya. Dia terkagum-kagum.
.
Para elit Quraisy gelisah ketika mendengar berita bahwa Al Walid bin Mughirah telah terpengaruh agama Muhammad ‘alaihis shalatu was salam.
.
“Kalau sampai Al Walid masuk agama itu, habislah Quraisy.. Semua orang akan mengikutinya”.
Itu kesimpulan mereka.
.
Abu Jahal angkat bicara, “Serahkan padaku. Biar aku yang menyelesaikan”.
Abu Jahal sama-sama tokoh. Sama-sama disegani. Dan satu lagi, Abu Jahal adalah keponakan Al Walid bin Mughirah.
.
Abu Jahal tahu bagaimana cara ‘menyadarkan’ pamannya itu. Dia punya cara sendiri. Dia tahu harus masuk dari ‘pintu’ mana.

Abu Jahal menghadap kepada sang paman.
“Wahai paman.. para tetua Quraisy sedang mengumpulkan harta bendanya. Mereka sepakat akan menyerahkannya kepadamu”.
.
“Untukku? Ada apa wahai Abu Jahal? Bukankah mereka tahu, aku ini orang terkayanya Quraisy?”
.
Rupanya benar dugaan Abu Jahal. Al Walid tersinggung. Dia tidak terima jika dianggap layak menerima dana hasil patungan mereka itu. Ini penghinaan baginya.
.
“Kalau begitu wahai paman, buatlah klarifikasi di hadapan mereka. Yakinkan mereka, bahwa paman juga mengingkari ajaran Muhammad_’alaihis shalatu was salam_ itu.”

Di depan forum paling terhormat itu Al Walid membuka pembicaraan. Musim haji hampir tiba. Mereka harus satu bahasa dalam menjelaskan apa dan siapa itu Muhammad_’alaihis shalatu was salam.
.
Di musim haji, berbagai kabilah dari segala penjuru jazirah Arab akan ‘tumplek bleg’ di Makkah. Kalau sampai mereka tidak satu suara, orang-orang dari luar itu bisa-bisa justru malah tidak percaya.

“Wahai Al Walid Abu Abdi Syams, silahkan engkau memulai dulu. Kami akan ikuti pendapatmu.”
.
“Silahkan tuan-tuan dulu, aku ingin mendengarnya..”
.
“Bagaimana kalau kita sebut dia sebagai dukun?” usul salah satu dari mereka.
.
“Dukun? Demi Allah! Dia bukan dukun. Kita tahu bagaimana para dukun itu. Kita sama-sama tahu bagaimana para dukun komat-kamit dengan jampi-jampinya,” sanggah Al Walid.
.
“Bagaimana kalau kita sebut gila?”
.
“Tidak mungkin! Kita tahu bagaimana orang-orang gila menceracau,”
.
“Penyair?”
.
“Tidak..” kata Al Walid menyanggah sekali lagi, “..kita semua kenal jenis-jenis sya’ir. Mau yang rajaz, mau yang hazaj, qaridh, maqbudh, mabsuth, semuanya bukan..!!”
.
“Bagaimana kalau kita sebut tukang sihir?”, usul mereka kemudian”
.
“Yang dia bacakan itu juga bukan sihir. Kita tahu apa dan bagaimana tukang-tukang sihir itu. Kita sama-sama pernah melihat tiupan dan buhul-buhul mereka. Bukan.. ini bukan sihir..”
.
“Kalau begitu, kita mau sebut apa lagi wahai Abul Walid?” mereka setengah putus asa.

Al Walid bin Mughirah dan mereka semua berfikir keras. Mau disebut apa lagi? Al Walid terpaksa jujur mengakui.
.
“Demi Allah..! Dalam ucapannya itu ada rasa manis.. Akarnya kokoh, di atas ranting dan dahannya ada buah-buah yang ranum.. Semua yang kalian tuduhkan itu benar-benar kesalahan.”
.
Setelah berfikir panjang, dia renungkan, lalu dia tinjau-tinjau ulang, akhirnya Al Walid terpaksa memutuskan.
.
Ia terpaksa mengambil keputusan yang menyebabkan kisah tentangnya diabadikan dalam Al Qur’an. Ia diabadikan sebagai pelajaran abadi. Ia mengabadi sebagaimana Fir’aun, Qarun, Haman, dan Abu Lahab.
.
“Kalaupun kita terpaksa memberi sebutan, mungkin sebutan tukang sihir lah yang paling mendekati. Karena ia membawa satu ajaran yang mengakibatkan seorang anak terpisah dari ayahnya. Seorang saudara terpisah dengan saudaranya yang lain. Seorang suami terpisahkan dengan istrinya. Seseorang terpisah dari sanak keluarganya..”

Allah abadikan dalam Al Qur’an detik-detik itu. Detik-detik muktamar angkara murka. Lengkap dan detail. Sampai raut muka dan isi hatinya, Allah kabarkan kepada kita dalam Surat Al Muddatstsir ayat 11 dan ayat-ayat berikutnya.
.
“Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendiri.”
.
“Dan Aku telah memberi harta benda yang banyak baginya.”
.
“..dan anak-anak yang selalu menyertainya,”
.
“..dan telah Aku lapangkan baginya (rizki dan kekuasaan) selapang-lapangnya,”
.
“..kemudian ia berharap sekali supaya Aku menambahnya..”
.
“Sekali-kali tidak! Kerena sesungguhnya ia telah menentang ayat-ayat Kami (Al Qur’an)”
.
“Aku akan membebaninya dengan pendakian yang memeyahkan”
.
“Sesungguhnya dia telah memikirkan, lalu memutuskan..”
.
“Celakalah ia, bagaimana ia bisa memutuskan?”
.
“Kemudian celakalah ia, bagaimana ia bisa memutuskan..?”
.
“Kemudian ia meninjau ulang (keputusannya itu)..”
.
“..lalu ia bermasam muka dan bersungut-sungut..”
.
“..kemudian ia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri”
.
“Lalu ia katakan, ‘..(Al Qur’an) ini tidak lain adalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang terdahulu),”
.
“..ini tidak lain hanyalah perkataan manusia..”
.
“Aku akan memasukkannya ke dalam neraka Saqar..”
.
(QS. Al Muddatstsir: 11-26)

Para elit Quraisy itu terlanjur menikmati kenyamanan sistem jahiliyah warisan nenek moyang. Mereka merasa terusik dengan hadirnya seorang pembaharu, yang membongkar total kejahiliyahan sampai ke akar-akarnya.
.
Mereka tak peduli. Biarpun kebenaran ada di depan mata, mereka tak kan mengakui.
.
Ketika ahlul haq ‘kurang tidur’ dalam memikirkan perkembangan dakwah, mereka pun sama. Ahlul bathil juga tak pernah tidur untuk menghadang laju dakwah. Mereka tanpa henti berusaha memadamkan cahaya Islam.
.
Pun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau juga tak berhenti. Tak mundur walau sejengkal. Sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang. Rawe-rawe rantas, malang-malang putung.

Mereka tidak mengira, justru keputusan itu membawa angin segar. Nama Rasulullah shalallahu alaihi wasallam semakin ‘viral’ di kalangan jama’ah haji.
.
Nama itu mereka bawa pulang. Menjadi cerita dari mulut ke mulut. Bangsa Arab semakin penasaran.
.
Sebagian menyimpan nama itu dalam ingatan. Sebagian lain datang ke Makkah menjemput cahaya kebenaran.
.
.
Referensi:
– Lubabut Tafsir, ringkasan Tafsir Ibnu Katsir
– Fii Zhilalil Qu’an
– Ar Rahiqul Makhtum
– Tahdzib Sirah Ibnu Hisyam
– As Sirah An Nabwiyyah Ash Shallabi
– Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Fii Makkah
.
.
✍🏼
Murtadha Ibawi
Majelis Tadarus Sirah

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: