DPW DKI Jakarta dan Depok

Lailatul Qadar dan Tercelanya Debat Kusir

0 229

Lailatul Qadar

Lailatul Qadar dan Tercelanya Debat Kusir

“Jika debat kusir yang sebenarnya dilakukan untuk mencari kebenaran bisa dianggap tercela serta mengangkat kebaikan dan keberkahan, maka bagaimana dengan debat kusir untuk kesombongan, fitnah, ghibah, kesia-siaan, dan kemaksiatan? Sudah tentu semua ini lebih utama lagi untuk mengangkat kebaikan dan berkah tersebut di antara mereka”. 

Seperti diketahui, waktu persis kapan turunnya Lailatul Qadar itu merupakan rahasia ilahi. Tidak ada yang mengetahui kecuali Allah. Tentu saja hal ini mengandung hikmah yang agung. Di antaranya, agar Kita tetap berjaga-jaga akannya selama sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Barangkali ada yang bertanya terkait judul di atas. Apa korelasi antara Lailatul Qadar dengan debat kusir? Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam “Shahih”nya terdapat keterangan tentang hal ini.

عن عُبَادَة بْنُ الصَّامِتِ: خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيُخْبِرَنَا بِلَيْلَةِ القَدْرِ فَتَلاَحَى رَجُلاَنِ مِنَ المُسْلِمِينَ فَقَالَ: “خَرَجْتُ لِأُخْبِرَكُمْ بِلَيْلَةِ القَدْرِ، فَتَلاَحَى فُلاَنٌ وَفُلاَنٌ، فَرُفِعَتْ وَعَسَى أَنْ يَكُونَ خَيْرًا لَكُمْ، فَالْتَمِسُوهَا فِي السَّبْعِ وَالتِّسْعِ وَالخَمْسِ

Dari Ubadah bin Shamit Radhiallahu Anhu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam keluar untuk mengabarkan tentang malam Lailatul Qadar. Akan tetapi, beliau lantas bertemu dua orang dari kaum Muslimin sedang berdebat, maka beliau pun bersabda:

Sungguh aku keluar untuk mengabarkan kalian tentang (waktu) malam Lailatul Qadar, tapi ada dua orang berdebat hingga akhirnya (pengetahuan) itu diangkat. Semoga ini lebih baik bagi kalian, carilah ia pada malam dua puluh tujuh, dua puluh sembilan, dan dua puluh lima”. (HR. Bukhari).

Dari keterangan ini nampak bahwa pada mulanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam diberitahu oleh Allah ilmu tentang kapan terjadinya Lailatul Qadar itu. Akan tetapi, dikarenakan ada dua orang yang berdebat di dalam Masjid, maka ilmu itu pun kembali diangkat oleh Allah Ta’ala.

Para ulama mengatakan, dalam hadits ini Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengutamakan penyebutan dua puluh tujuh, kemudian dua puluh sembilan, lalu dua puluh lima, sebagai isyarat bahwa kemungkinan besar terjadinya malam Lailatul Qadar itu ada pada malam kedua puluh tujuh.

Terkait riwayat ini, Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani –rahimahullah– berkata:

قَالَ الْقَاضِي عِيَاضٌ: “فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الْمُخَاصَمَةَ مَذْمُومَةٌ وَأَنَّهَا سَبَبٌ فِي الْعُقُوبَةِ الْمَعْنَوِيَّةِ أَيِ الْحِرْمَانِ وَفِيهِ أَنَّ الْمَكَانَ الَّذِي يَحْضُرُهُ الشَّيْطَانُ تُرْفَعُ مِنْهُ الْبَرَكَةُ وَالْخَيْرُ”

Al-Qadhi ‘Iyadh berkata: Dalam hadits ini terkandung dalil bahwa debat kusir itu tercela. Dan bahwasanya ia merupakan sebab bagi hukuman yang sifatnya maknawiyah, yakni pengharaman (dari kebaikan). Demikian pula, padanya terdapat dalil bahwa tempat yang dihadiri setan di dalamnya diangkat darinya keberkahan dan kebaikan”. (Lihat Fath Al-Bari, 1/113, Al-Maktabah Asy-Syamilah).

Nah, jika debat kusir yang sebenarnya dilakukan untuk mencari kebenaran bisa dianggap tercela serta mengangkat kebaikan dan keberkahan, maka bagaimana dengan debat kusir untuk kesombongan, fitnah, ghibah, kesia-siaan, dan kemaksiatan? Sudah tentu semua ini lebih utama lagi untuk mengangkat kebaikan dan berkah tersebut di antara mereka. Wallahu A’lam.

Sumber: Hikmah Ramadhan Ustadz Rapung Samuddin

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: