DPW DKI Jakarta dan Depok

Mahal Pengakuan Ala Abu Jahal

0 302

 

MAHAL PENGAKUAN  ALA ABU JAHAL

(Majelis Tadarus Sirah Part 102)

Oleh: Ustadz Murtadha Ibawi

Ada yang menolak Islam kerena tidak bisa ‘move on’ dari kesyirikan. Semula menyembah banyak berhala, tiba-tiba diajak mengesakan satu tuhan saja.

Ada yang menolak Islam karena tidak percaya adanya alam akhirat, kehidupan sesudah mati. “Mati ya mati, masa’ habis mati bisa hidup lagi?”

Ada yang menolak kebenaran Al Qur’an. “Itu mah bukan wahyu. Itu cuma sya’ir-sya’ir bersajak”, “Itu cuma jampi-jampi sihir”, “Itu cuma plagiat dari ajaran agama lain”, “Itu cuma kumpulan dongeng orang-orang terdahulu”,  dan seterusnya.

Ada juga yang mengingkari status kenabian dan risalah yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. “Nabi kok sama-sama manusia? Harusnya Malaikat dong.”, dan seterusnya.

 

Bagaimana dengan Abu Jahal? Dia adalah ikon penentang dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Apa motifnya?

Rupanya ada sisi lain dari Abu Jahal. Mari kita simak penuturan Al Mughirah bin Syu’bah soal Abu Jahal.

Siapa itu Al Mughirah bin Syu’bah?

Dia bukan orang Makkah, tidak berdarah Quraisy tentunya. Dia berasala dari luar Makkah, Tha’if. Dari Bani Tsaqif. Dia adalah keponakan Urwah bin Mas’ud, pembesar Tha’if.

Tha’if adalah kota penyangga Makkah. Banyak orang Makkah berinvestasi di Tha’if. Jadi, banyak tokoh-tokoh Makkah yang punya relasi di Tha’if. Pun sebaliknya.

Kelak Al Mughirah baru masuk Islam sekitar tahun ke-6 H. 6 tahun setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pindah ke Madinah. Sebelum peristiwa Perjanjian Hudaibiyah.

Namun dia punya kenangan tersendiri saat kali pertama bertemu Sang Nabi.

Belasan tahun silam bersama ‘Fir’aunnya Ummat Ini’, Abu Jahal.

Pertama kali aku berjumpa dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah ketika hari itu aku berjalan di salah satu sudut kota Makkah bersama Abu Jahal,” kenangnya.

Kami berpapasan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendekati Abu Jahal sambil berkata, ‘Wahai Abul Hakam (panggilan asli Abu Jahal), marilah bergabung bersama Allah dan Rasul-Nya. Aku mengajakmu kepada agama Allah.”

Subhaanallah..

Ajakan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam kepada Abu Jahal lugas, tegas, transparan, dan to the point.

Apa jawaban Abu Jahal?

“Wahai Muhammad! Engkau masih belum berhenti mencela tihan-tuhan kami? Engkau ingin kami menjadi saksi bahwa engkau telah menyampaikan ajaranmu itu, begitu kan? Baiklah! Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan. Demi Allah..! Seandainya kami mengakui bahwa apa yang engkau sampaikan itu adalah kebenaran, tentu kami menjadi pengikutmu.”

Di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Jahal menyangkal kebenaran risalah Islam. Tapi apa betul seperti itu?

Tidak.

Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beranjak, barulah Abu Jahal berkata apa adanya kepada sahabatnya yang dari luar kota itu, Al Mughirah bin Syu’bah.

 

“Demi Allah!,” Abu Jahal bersumpah di hadapan Al Mughirah, “..aku tahu.., benar-benar tahu.. Apa yang dia sampaikan itu adalah kebenaran.”

Akan tetapi..,” lanjutnya, “Bani Qushay bisa membanggakan ‘Kami punya hak istimewa ‘hijabah’ (kepengurusan Ka’bah), kami hanya bisa bilang, iya!”

“Mereka membanggakan lagi, ‘Kami punya hak istimewa mengurus Darun Nadwah’. Kami juga hanya bisa bilang, iya!”

“Mereka membanggakan lagi, ‘Kami yang memegang panji-panji peperangan Quraisy, lagi-lagi kami juga hanya bisa bilang, iya!”

“Mereka bilang, ‘Kami yang memiliki hak ‘siqayah’ (pengelolaan air minum jama’ah haji). Kami bilang, iya!”

.

“Pada akhirnya mereka memberi makan jama’ah haji dan kamipun sama-sama memberi makan..”

Sekarang, setelah kami bisa menyaingi kedudukan mereka lalu mereka bilang, ‘Dari keluarga kami diutus seorang nabi..’ Demi Allah.. Tidak..!! Aku tidak akan mau mengakuinya!”

Itu pengakuan jujurnya di hadapan Al Mughirah bin Syu’bah.

Apa maksudnya dia bawa-bawa nama Qushay? Itu rupanya. Qushay adalah kakek keenam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sepupu Makhzum, kakek moyang Abu Jahal.

Sejak lama memang, Bani Makhzum ingin menyaingi keluarga besar anak keturunan Qushay. Ada Bani Abdi Manaf, Bani Abdid Dar, Bani Abdi Syams yang kesemuanya memiliki hak-hak istimewa seputar pengelolaan Ka’bah dan jama’ah haji.

Bagi mereka, ini adalah harga diri. Ini soal prestise.

Bukan dia tidak mampu melihat kebenaran. Rupanya dia hanya ‘mahal pengakuan’.

Karena kesombongan dan kedengkian, Iblis menolak sujud kepada Adam. Karena kesombongan dan kedengkian pula, orang-oang Yahudi di Madinah menolak masuk Islam. Dan Abu Jahal pun tak jauh beda, kesombongan dan kedengkian menutupi akal sehatnya.

Itulah sebabnya kaum muslimin tidak lagi memanggilnya dengan julukan Abul Hakam. Al Hakam itu identik dengan al hikmah, ilmu, kecerdasann dan kearifan. Kaum muslimin menyebut dengan kebalikannya, “Abu Jahal” yang artinya ‘Bapak Kebodohan’.

Allahumma arinal haqqa haqqan, warzuqnattibaa’ah..

Yaa Allah, tunjukkanlah kepada kami, kebenaran adalah kebenaran. Lalu karuniakanlah kepada kami taufiq untuk bisa mengikuti kebenaran itu. Amin.

Referensi:

  • Ar Rahiqul Makhtum

– Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Fii Makah

  • As Sirah An Nabawiyyah Ash Shallabi
  • Al Ghuraba’ Al Awwalun

  • dll

Penulis : Murtadha Ibawi (Pendiri Majelis Tadarus Sirah)

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: