DPW DKI Jakarta dan Depok

Maimon Herawati Berbagi Cerita Suka Duka Halau Iklan Seronok Blackpink Shopee

Maimon menunjukkan sejumlah nomor tak jelas yang menerornya
0 145
Maimon menunjukkan sejumlah nomor tak jelas yang menerornya

(Bandung) wahdahjakarta.com– Maimon Herawati berbagi cerita suka duka menghalau iklan seronok melalui petisi “Hentikan Iklan Blackpink Shopee.

Pasca petisi “Hentikan Iklan Blackpink Shopee” di situs change.org, ibu rumah tangga yang juga pegiat kemanusiaan ini mengalami teror dari para haters.

Dalam waktu singkat, dosen jurnalistik Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung itu menjadi sasaran serangan haters. Pun di media sosial, akunnya dipenuhi ribuan komentar hujatan.

Padahal, penggalangan petisi yang mampu membuat Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat itu bersikap hanyalah sebagai bentuk kegelisahan dari seorang Maimon yang mewakili orangtua lainnya yang masih punya kepedulian dengan generasi muda.

Kala berbincang dengan Aghniya dari INA News Agency, sebuah kantor berita yang diinisiasi Jurnalis Islam Bersatu (JITU), layar ponsel Maimon Herawati yang tergeletak di meja sering kali menyala. Nomor-nomor tak jelas masih kerap bermunculan, meninggalkan jejak panggilan tak terjawad (missed call) di aplikasi percakapan WhatsApp miliknya yang diikuti dengan pesan-pesan kasar, bahkan kalimat tak senonoh yang tak ada habisnya.

“Banyak yang menelepon, kemudian kirim pesan aneh-aneh. Ada juga yang langsung mau video call. Yang pesannya tak senonoh biasanya langsung saya block and report. Belum lagi ada ancaman haters in your area. Dari sore hingga malam, ramai terus,” ujar Maimon seraya memperlihatkan layar telepon selulernya.

Tak hanya itu, Teh Imun, sapaan akrabnya, juga sempat dimasukkan ke dalam grup-grup aneh. Seperti grup yang berisi konten telanjang dan pornografi. Cepat-cepat ia pun keluar dari grup itu.

Menurutnya, lahirnya petisi tersebut karena dianggap telah terekspos konten yang tak pantas di layar kaca televisi. Bahkan, Teh Imun mengaku heran dan bertanya-tanya, kenapa iklan dengan baju minim dan goyangan itu bisa luput dari pengawasan. Ironisnya, sampai bisa diselipkan di antara tayangan film kartun.

“Kan klaimnya sudah lolos sensor. Iya betul, tapi untuk siapa dulu konten iklannya? Ini untuk 13 tahun ke atas. Jadi, bukan untuk balita,” tutur Teh Imun, sembari menambahkan, itu semua dilakukan untuk menjaga buah hatinya dari konten yang tak mendidik.

Maimon merasa perlu melakukan sesuatu. Apalagi ketika tahu bahwa banyak pula warganet yang resah dengan iklan ini. Rupanya, banyak di antara mereka adalah orangtua yang satu visi dengan Maimon.

Risiko Perjuangan

Ketika akhirnya petisi ini viral, ia pun dibanjiri serangan dari para haters. Ia mengaku cukup terganggu.

“Bohong kalau saya katakan tidak terpengaruh. Terganggu? Iya. Kalau takut, ada Allah Yang Maha Kuat. Saya kembalikan kepada Allah,” ucap Maimon, yang dikenal sebagai aktivis Muslimah yang gencar menyuarakan penderitaan warga Palestina.

Kendati demikian, ia mengatakan, yang justru lebih banyak tertekan adalah orang-orang di sekelilingnya. Saat berita mencuat, mahasiswa didikannya di kampus memeluk Maimon untuk menguatkan. Begitu pun dengan anak-anaknya. Melihat hujatan yang begitu ramai, mereka meminta Maimon mematikan kolom komentar di Instagram.

“Anak pertama saya, saat beritanya meledak, menatap saya dengan sayang sekali. Mereka meminta komentar dimatikan semua. Tapi besoknya setelah di-off, Instagram-nya hilang. Ada yang menghapus,” tuturnya.

Dalam menghadapi masalah ini, Maimon justru tak patah arang karena cacian. Sebab, ia tahu persis, yang ia hadapi adalah anak-anak kecil.

“Kalau saya melihat kalimat-kalimat mereka, saya jadi menyadari; segininya penyakit yang harus kita obati,” jelas Maimon.

“Kalau semakin aneh, saya makin berpikir, orangtuanya siapa, ya? Kehidupannya seperti apa, ya? Kalau dia sudah jadi ibu, anak-anaknya bagaimana? Kalau dia adalah ibu. Kalau dia adalah ayah, apakah dia tega melihat anak perempuannya dilihat laki-laki lain? Jika dia tega, dan kemudian merasa petisi ini salah, apakah segitunya masyarakat kita saat ini?” terang Maimon.

Maimon pun berpikir keras untuk membentuk dakwah seperti apa yang bisa membuat orang-orang merasakan bersama nikmatnya hidup dalam Islam.

Bagai Kehilangan Kaki

Menghadapi tantangan itu, seraya berdzikir, Maimon terus memohon petunjuk kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia meneteskan air mata. Ternyata begini perjuangan yang harus ia lalui. Facebook di-suspend, Instagram hilang, hingga ribuan komentar tak pantas masuk.

“Terutama Facebook, karena dari sanalah biasanya saya melakukan aktivitas ke-Palestina-an,” katanya.

Maimon pun termenung. Ia sangat menyadari begitulah cara Allah Ta’ala untuk mengajarkan bahwa dalam sebuah perjuangan pasti ada kehilangan. Ketika kehilangan itu kemudian mengurangi kontribusi terhadap perjuangan, Maimon seakan dibuat untuk lebih memaknai hikmah dari perjuangan itu.

“Karena kan melakukannya karena Allah. Kalau Allah mengambil sesuatu dari kita, kemudian bagaimana kita memaknainya? Yang saya sesalkan, terhambatnya program-program kampanye ke-Palestinaan,” akunya.

Baginya, kehilangan akun Facebook barangkali tidak bisa disamakan dengan kehilangan kaki para pejuang pembela Masjidil Al Aqsha Palestina. Terlalu jauh jika disamakan. Namun, ketika Facebook yang menjadi senjata utama Maimon dalam pergerakan ke-Palestinaan sampai saat ini belum bisa diakses, ia merasa ada persamaan.

“Layaknya kehilangan itulah kira-kira, seperti dipotong kakinya. Tetapi saya akan terus berjuang meski melalui cara yang tak disukai sebagian orang,” tegas Maimon.

Laporan : Aghniya/INA News Agency/JITU

Editor     : Irfan

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: