DPW DKI Jakarta dan Depok

Mendulang Hikmah dari Do’a Malam Lailatul Qadar

0 401

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “

“يا رسول الله، أرأيت إن علمت أي ليلة القدر، ما أقول فيها؟ قال: قولي: اللهم إنك عفو تحب العفو، فاعف عني”. الترمذي وقال: حسن صحيح

“Wahai Rasulullah, bagaimana saran engkau jika aku mengetahui (mendapatkan) Lailatul Qadar, apa yang aku ucapkan padanya?” Beliau menjawab: “Ucapkanlah, “Wahai Allah, sesungguhnya Engkau maha Pemaaf, menyukai permohonan maaf, maka maafkanlah daku“. (HR. At-Tirmidzi, Hasan Shahih).

Kesungguhan ‘Aisyah dalam Meraih Kebaikan

Hadits ini menunjukkan kesungguhan Ummul Mu’minin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam meraih kebaikan dan mempelajari ilmu yang bermanfaat.

Beliau adalah putri dari manusia terbaik setelah Nabi, istri Nabi, wanita paling cerdas, ia belajar langsung kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia juga dikenal paling banyak meriwayatkan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Meskipun demikian beliau sangat antusias bertanya kepada Rasul tentang do’a khusus yang patut diucapkan pada malam Lailatul qadar.

Hal ini menjadi pelajaran bagi seluruh ummat, bagaimanapun kedudukan seseorang dan capaian ilmu yang telah diraihnya, ia tetap butuh  mengetahui hal-hal yang sepatutnya diraih dengan serius dan sungguh-sungguh.

Dan yang paling spesifik dalam hal ini adalah ilmu nafi’ yang menyucikan hati dan rohani serta membuahkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Allah Ta’ala telah memuji orang yang memiliki sifat seperti ini dalam firman-Nya;

« فَبَشِّرْ عِبَادِ (17) الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ » [سورة الزمر  : 17 ، 18

“Berilah kabar gembira kepada para hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan, lalu mengikuti yang terbaik dari perkataan tersebut”. (Qs. Az-Zumar:17-18).

Yakni mendahulukan yang lebih afdhal dan memperhatikan yang lebih sempurna. Mereka berusaha melakukan yang terbaik dari yang baik. Mereka mengedepankan yang lebih utama.

Hikmah dari Do’a Khusus Minta Maaf Pada Malam Lailatul Qadar

Meminta maaf kepada Allah pada setiap waktu dan keadaan merupakan sesuatu yang dianjurkan, sebagaimana ditunjukan oleh dalil-dalil yang banyak. Sampai-sampai Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu meminta lebih dari sekali kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk diajarkan suatu do’a yang akan beliau baca dalam do’anya.  Maka Rasu mengatakan kepadanya;:

«  سَلِ اللهَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ »

“Mintalah al-‘afw (maaf) dan al-‘afiyah (keselamatan)

Lalu apa hikmah mengkhususkan minta maaf (ampunan) dalam do’a  malam Lailatul qadar?

Dijelaskan oleh Ibnu Rajab,

“Nabi menyuruh meminta maaf pada malam lailatul qadar setelah bersungguh-sungguh melakukan pada malam tersebut dan sepuluh malam terakhir Ramadhan, karena para ‘Arifin bersungguh-sungguh dalam beramal tetapi mereka tidak merasa telah melakukan amal shaleh, sehingga mereka kembali memohon maaf, seperti seorang pelaku dosa yang banyak lalai”. (Lathaiful Ma’arif, 206).

Seorang hamba senantiasa berjalan menuju Allah sembari terus memandang karunia dan nikmat Allah kepadanya  sementara pada saat yang sama ia melihat sendiri aib dirinya dan amalannya serta berbagai kekuarangan dan kelalaiannya. Namun dia tahu bahwa andaikan Tuhannya mengadzabnya dengan adzab yang pedih, maka itu adil baginya. Karena semua putusanNya adil terhadapnya. Dan bahwasanya semua kebaikan yang dia miliki dan lakukan semata-mata karunia dan anugerah Allah kepadanya. Sebagaimana dalam dzikir Sayyidul Istighfar;

“أبوء لك بنعمتك علي وأبوء بذنبي”

“Aku mengakui nikmatMu kepadaku dan aku mengakui pula dosaku (kepadaMu)”

Maka dia tidak menganggap dirinya (sempurna, melaikan) memandang dirinya banyak lalai dan dosa, dan ia tidak memandang Tuhannya melainkan telah memberikan banyak kebaikan (kepadanya)”. Syifa’ul “Alil, Ibn Qayyim, 115)

Adab Berdo’a

Berdo’a dengan lafal seperti dalam do’a lailatul qadar ini mengandung adab penting dalam berdo’a. Yaitu memuji Allah dengan pantas dan layak bagi Allah serta sesuai dengan permintaan yang berdo’a.

Allah telah membimbing kita untuk melakukan adab ini dalam berbagai ayatnya. Misalnya dalam surat Al-Fatihah yang terbagi dua bagian. Pertamana berisi pujian hamba kepada Rabbnya, kedua permintaan hamba kepada Rabbnya. Sebagaimana diterangkan dalam hadits qudsi yang masyhur.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seseorang yang berdo’a dalam shalatnya tanpa memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi, maka Nabi mengatakan, “Orang ini terburu-buru”.

Kemudian beliau memannggilnya dan mengatakan kepadanya atau kepada yang lain

“إذا صَلَّى أحَدُكُم فليَبْدأ بتَمْجيدِ رَبَّه والثَّناءِ عليه، ثم يُصَلَّي على النبيِّ ، ثم يدعو بعدُ بما شاءَ

“Jika salah seorang diantara kalian berdo’a hendaknya dia mulai dengan memuji Tuhannya, menyanjungnya, kemudian bershalawat kepada Nabi, lalu setelah itu ia berdo’a seseuai keinginanannya”.

Husnudzan Kepada Allah

Do’a ini mengajarakan adab husnudzan (bersangka baik) kepada Allah. Ketika seorang hati Mukmin dipenuhi prasangka baik kepada Allah, maka tidak akan kehilangan harapan kepada Allah.

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau maha pemaaf, mencintai maaf, karena itu, maafkanlah aku”.

Manusia Sangat Butuh Kepada Ampunan Allah

Aisyah radhiyallahu ‘anha sangat antusias bertanya kepada nabi tentang do’a malam lailatul qadar. Lalu Nabi menjawab dengan menyuruhnya memohon maaf (al-‘afw). Jika hal ini dijarkan oleh nabi kepada seorang shidiqah binti Shidiq, lalu bagaiman dengan kita?

Hal ini menunjukkan, kita saangat butuh kepada Allah. Kita butuh segalanya kepada Allah, namun yang paling kita butuhkan ampunan dan maaf atas dosa dan kesalahan kita.

 

 

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: