DPW DKI Jakarta dan Depok

Menggenggam Harapan Meraih Kejayaan (Khutbah Idul Adha 1437 H)

0 225
Menggenggam harapan meraih kejayaan
Menggenggam harapan meraih kejayaan

Menggenggam Harapan Meraih Kejayaan

(Khutbah Idul Adha 1437 H)

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍفِي النَّارِ

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa Ilaaha illallah wallaahu Akbar, Allahu Akbar walillaahil hamd …

Kaum Muslimin a’azzakumullah, semoga Allah memuliakan kita semua.

Hari ini, saat kita menjejakkan kaki di sini, di atas sepenggal bumi Allah, bertakbir membesarkan Allah dengan penuh suka cita, maka di tanah haram sana saudara-saudara kita yang sedang melaksanakan ibadah haji pun sedang menyempurnakan prosesi ibadah hajinya dan di setiap negeri kaum muslimin terdengar takbir yang bertalu-talu, walau itu dari tenda pengungsian di Palestina, atau dari reruntuhan gedung yang runtuh dihantam bom di Syria, atau bahkan dari jeruji-jeruji besi penjara rezim tirani di Myanmar, takbir masih menggema, dan akan terus menggema biiznillah. Karena kita adalah umat pemenang, bukan umat pecundang.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa Ilaaha illallah wallaahu Akbar, Allahu Akbar walillaahil hamd…

 

Kaum muslimin rahimakumullah,

 

Perjalanan  waktu demikian cepat, silih berganti generasi demi generasi menghuni bumi milik Allah ini. Peristiwa demi peristiwa menghiasi jalannya sejarah manusia, ada tangis dan tawa, ada suka dan duka, bahkan di tengah terik mentari atau dinginnya malam ada darah dan air mata.

وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَىٰ . وَأَنَّهُ هُوَ أَمَاتَ وَأَحْيَا

 

“..dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis,dan bahwasanya Dialah yang mematikan dan menghidupkan.” (QS. An Najm : 43-44)

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa Ilaaha illallah wallaahu Akbar, Allahu Akbar walillaahil hamd …

Diantara peristiwa penting sejak adanya manusia, adalah apa yang kita peringati hari ini. Peristiwa yang hanya  terjadi pada satu keluarga di bumi  namun ternyata sangat bermakna dalam pandangan Allah Ta’ala Sang Penguasa langit dan bumi. Itulah peristiwa Ibrahim Alaihissalam, beserta anaknya Ismail Alaihissalam dan Istrinya Hajar Alaihassalam. Peristiwa yang agung, yang karenanya Allah perintahkan kita berkumpul hari ini, tentu dengan segala hikmah dan pelajaran yang dapat kita petik di dalamnya .

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa Ilaaha illallah wallaahu Akbar, Allahu Akbar walillaahil hamd …

 

Ummatal Islam, a’aanakumullah…

 

Mari sejenak menengok negeri yang kaya raya ini, yang lautnya membentang hingga tiga benua, gunung-gunungnya yang tinggi menjulang, sawah ladang seluas mata memandang, semua ada di negeri ini, masyaAllah.Namun keindahan dan kekayaan alam karunia Allah ini menjadi terabaikan dengan kegaduhan politik dan kesibukan para elit menduduki pusat-pusat kekuasaan. Jika semua hanya sibuk berebut kekuasaan dan pengaruh maka ujung-ujungnya pasti rakyatlah yang dirugikan dan dikorbankan.

 

Kekuasaan sejatinya adalah titipan Allah untuk mengawal dan mengatur manusia menjadi hamba Allah yang taat, hingga dengan izin-Nya terwujud masyarakat yang aman, sejahtera lahir dan batin. Inilah kekuasaan yang berbasis TAUHID, bahwa negara harus berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa. Allah Subhanahu wata’ala.Mari tadabburi Firman Allah:

فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ. الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآَمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ

 

“….Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar danp mengamankan mereka dari ketakutan.” (QS. Al-Quraisy: 3-4)

 

Perintah bertauhid dan hanya menyembah kepada Allah adalah pembuka segala kebaikan, kesejahteraan dan keamanan yang hakiki.

 

Hal ini juga menjadi konsekwensi untuk memberikan loyalitas kepada orang-orang yang beriman dan bertauhid, termasuk dalam masalah kepemimpinan dan kekuasaan.

وَلِلّٰـهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِۦ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلٰكِنَّ الْمُنٰفِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ

 

“Dan  Izzah / kejayaan itu hanyalah bagi Allah dan Rasul-Nya serta  orang-orang yang beriman, tetapi orang-orang munafik tidak mengetahui. “(QS Al-Munafiqun : 8)

 

Umat Islam adalah pewaris sejati negeri ini , jangan sampai tergadaikan pada tangan- tangan yang tidak pernah menengadah berdoa dan mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala .

 

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَتُرِيدُونَ أَن تَجْعَلُوا لِلَّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا مُّبِينًا

 

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?” (QS An-Nisa : 144)

 

Allah Ta’ala mengingatkan:

 

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ

“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). (QS. Al-Maidah : 55)

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa Ilaaha illallah wallaahu Akbar, Allahu Akbar walillaahil hamd ….

Ummmatal Islam, hafizhakumullah….

Kita cinta negeri kita, kita cinta tanah tumpah darah kita, karena ia adalah karunia Allah, olehnya itu cinta kita padanya adalah karena Allah dan hanya untuk Allah. Cinta inilah yang membuat kita akan bertekad menjaganya, memeliharanya, dan mengisi kemerdekaannya dengan iman dan keamanan, dengan kerja keras dan pengkhidmatan. Kemerdekaan negeri ini diraih dan direbut dengan mengorbankan sedemikian banyak darah para syuhada yang meneriakkan takbir yang hingga kini  takbir itu masih terus menggema dalam relung jiwa muslim Indonesia. Alangkah hambarnya nilai  kemerdekaan itu jika  kita hanya memaknainya dengan pesta dan  hura-hura, bahkan dengan sebagian perkara yang menjurus pada pelanggaran ajaran Allah yang telah mengaruniakan kemerdekaan tersebut.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa Ilaaha illallah wallaahu Akbar, Allahu Akbar walillaahil hamd …

 

Kaum muslimin rahimakumullah ….

 

Setelah iman kepada Allah, maka persaudaraan karena Allah adalah merupakan salah satu bukti iman itu. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” [HR. Muslim]

 

Persaudaraan dan ukhuwah ini sangat mutlak untuk dijaga dan dipupuk, karena itulah sumber kekuatan umat untuk membawa rahmat bagi semesta. Rusak dan pecahnya ukhuwah akan menghancurkan umat dari dalam, Firman Allah :

 

وَأَطِيعُوا الله وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّالله مَعَ الصَّابِرِينَ

“Dan taatlah kalian pada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kalian saling berselisih yang menyebabkan kalian jadi gentar dan hilanglah kekuatan kalian. Dan bersabarlah kalian, karena sesungguhnya Allah bersama dengan orang-orang yang sabar.” (QS. Al Anfal : 46)

Menjaga ukhuwah dan persaudaraan adalah berarti menjaga akhlak dan perilaku serta tutur kata, akhlak yang baik akan berbuah persaudaraan yang manis, sebaliknya akhlak yang buruk akan berbuah pahit berupa kebencian, pertikaian dan perpecahan, wallahul Musta’an.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa Ilaaha illallah wallaahu Akbar, Allahu Akbar walillaahil hamd …

 

Kaum Muslimin yang disayangi Allah…

Mencetak manusia beraqidah dan berakhlak mulia ternyata harus dimulai dari keluarga, dimulai dari unit terkecil dari masyarakat kita. Tanpa mengabaikan peran ibu yang sangat sentral, dalam kesempatan ini kami ingin ingatkan kepada para ayah akan tanggung jawabnya dalam membina dan mendidik anak-anaknya, jadilah seperti Ibrahim Alaihissalam, sang ayah teladan, yang membina anak-anaknya dengan tauhid dan berpegang teguh pada Islam. Allah mengabadikan wasiat indah sang ayah agung ini di dalam al-Qur’an,

‎وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلاَ تَمُوتُنَّ إَلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.” (QS. Al-Baqarah : 132).

 

Wahai para ayah…!!!

 

Inilah sebaik-baik wasiat yang kita wariskan pada anak-anak kita. Kita boleh berbangga dengan putra-putri kita yang berhasil mencatatkan namanya di sekolah-sekolah unggulan, di jurusan-jurusan favorit. Namun, sebelum itu semua, ada baiknya kita memeriksa tingkat perhatian dan pengamalan putra-putri kita terhadap agama yang mulia ini. Sebagaimana Nabi Ibrahim memperhatikan keimanan anak-anaknya. Apalah arti pendidikan yang demikian tinggi, jika hanya melahirkan manusia yang enggan merendahkan diri  bersujud pada Sang Ilahi.

 

Wahai para ayah….!!!

 

Kita begitu sedih dengan berita di media tentang seorang anak bersama dengan ayahnya menganiaya gurunya di sekolah. Mari kita mengambil teladan pada Nabi Ibrahim yang membangun budaya dialog dengan anak-anaknya, dengan cara yang begitu bijak dan jauh dari sifat arogansi.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

 

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. As-Shaffat : 102).

 

Kasih sayang ini akan berbuah sikap welas asih dan empati pada anak dan keluarga kita, sebaliknya sikap kasar dan arogan juga akan membentuk mereka  menjadi kasar dan arogan pula. Perhatikan Ibrahim Alaihissalam ketika menyampaikan perintah Allah kepada anaknya dalam nuansa dialog : ” … Bagaimana pendapatmu? “Sekalipun itu perintah Allah yang tidak boleh  ditentang, namun cara menyampaikan yang lembut justru membuat sang anak menjadi yakin dan kuat melaksanakan perintah Allah itu.

 

Wahai para ayah, para Aba… para bapak… yang terhormat…

 

Hadirlah dalam jiwa anak-anak kita, bersamai mereka dalam iman dan perjuangan. Ada isyarat lembut dalam Firman Allah:

 

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ

 

Diantara  penafsiran ulama sebagaimana disebutkan Ibnul Jauzy –rahimahullah– dalam kitab Zaadul Masiir, bahwa Ismail Alaihissalam telah sanggup bersama dengan ayahnya Ibrahim Alaihissalam untuk beribadah, padahal kita tahu bahwa Ibrahim Alaihissalam meninggalkan anak dan istrinya demikian jauh, namun ada kata Ma’ahu yang artinya Ismail Alaihissalam bersama dengannya yaitu Ibrahim Alaihissalam walau jarak demikian jauh, medan yang sulit, suasana psikologis antara istri pertama dan kedua, namun hal itu tidak menghalangi Ibrahim Alaihissalam untuk membersamai anaknya Ismail Alaihissalam hingga tumbuh menjadi seorang pemuda shaleh yang sabar dan tangguh.

 

Wahai para ayah …..!!!

 

Jika demikian, apa yang menghalangi anda untuk hadir dalam jiwa para anandamu?, membersamai mereka dalam ibadah dan perjuangan. Alangkah indahnya munajat Ibrahim Alaihissalam dan Ismail Alaihissalam ketika mereka selesai membangun ka’bah .

 

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَآ أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.Wahai Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah : 127-128)

 

Kebersamaan yang indah di dunia dan berbuah lebih indah di Surga.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa Ilaaha illallah wallaahu Akbar, Allahu Akbar walillaahil hamd …

 

Para pemuda Islam yang kami banggakan… hafizhakumullah…

Jadikan dirimu bagaikan Ismail Alaihissalam, Ismailkan dirimu. Tumbuhlah dalam ketaatan dan perjuangan menegakkan kebenaran. Narkoba, pornografi dan sederet perbuatan dosa dan kenakalan hanya akan meletihkan jiwamu dan membinasakan jasadmu. Lihatlah Ismail Alaihissalam yang masih demikian belia namun demikian taat pada Tuhannya, demikian berbakti kepada orangtuanya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa Ilaaha illallah wallaahu Akbar, Allahu Akbar walillaahil hamd …

 

Wahai para bunda, para muslimah tangguh yang kami muliakan…

 

Cukuplah Hajar menjadi cermin yang demikian indah mempesona, ketegarannya dalam iman dan tawakkal, usahanya yang tidak mengenal lelah di tanah tandus tiada berpenghuni, kesetiannya pada suami walau harus rela ditinggal pergi, ketekunannya mendidik anak yang kemudian terpilih menjadi nabi.

 

Subhanallah… Sekali lagi, bercerminlah pada wanita mulia nan kuat ini.

 

Merekalah manusia – manusia terpilih, terabadikan oleh Ilahi, kenangan indah perjuangan mereka hingga kitapun hari ini berkumpul di sini, mengenang mereka agar bara iman mereka turut menghangatkan jiwa kita untuk berjuang dan berkorban demi Iman dan Islam.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa Ilaaha illallah wallaahu Akbar, Allahu Akbar walillaahil hamd…

 

Sebelum mengakhiri khutbah ini, berikut panduan singkat pelaksanaan ibadah kurban.

 

Hewan yang dapat diqurbankan adalah domba yang genap berusia enam bulan, atau kambing yang genap berusia setahun dan sapi yang genap berusia dua tahun, perhitungan hijriyah. Tidak cacat atau berpenyakit yang bisa berpengaruh pada dagingnya, jumlah maupun rasanya, misalnya: mata picak, atau kaki pincang dan penyakit pada kulit, kuku atau mulut. Seekor domba atau kambing hanya mencukupi untuk kurban satu orang saja, sedangkan seekor sapi boleh berserikat untuk tujuh orang, kecuali berserikat pahala maka boleh pada semua jenis tanpa batas. Sebaiknya pemilik kurban yang menyembelih sendiri hewan qurbannya, tetapi bisa diwakilkan kepada penjagal, dengan syarat seorang muslim yang menjaga shalatnya, dan mengetahui hukum-hukum menyembelih, juga upahnya tidak boleh dari salah satu bagian hewan qurban itu sendiri, seperti kulit atau dagingnya, meskipun penjagal atau pengulit bisa mendapat bagian dari hewan qurban sebagai sedekah atau hadiah. Waktu penyembelihan hewan qurban, yaitu seusai pelaksanaan shalat Idul Adha hingga tiga hari tasyriq setelahnya. Hewan qurban yang telah disembelih dapat dibagi menjadi tiga bagian, sepertiga buat pemiliknya, sepertiga buat hadiah dan sepertiga buat sedekah kepada fakir miskin. Pahala dari hewan qurban bergantung kepada niat yang ikhlas orang yang berqurban, oleh karena itu mari menjaga keikhlasan ketika melakukan ibadah mulia ini.

 

Selanjutnya mari kita tundukkan jiwa raga seraya berdoa dan bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala…

الحمد لله رب العلمين والصلاة والسلام على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

 

Ya Allah, Rabb Yang Maha Pengampun, ampuni dan maafkan segenap dosa kami, yang nampak maupun tersembunyi, jika Engkau tak maafkan kami, kepada siapa kami akan memohon maaf dan ampunan.

 

Wahai Rabb yang Maha Penyayang, sayangi kami dan seluruh hamba-Mu yang beriman, dimanapun mereka berada Ya Allah…

 

Basuhlah air mata kesedihan mereka yang masih berteduh di tenda- tenda pengungsian dengan kasih-Mu yang tiada berbatas. Tolong mereka dari segala kezaliman Ya Rabbana, kuatkan azam mereka, beri mereka gembira di hari ini dan seterusnya ya Rabbana.

 

Ya Allah karuniakan kami keimanan yang sejati, keamanan yang hakiki dan kesejahteraan yang Engkau berkati.

 

Ya Allah berkati keluarga dan anak- anak kami dengan keshalehan dan ketaqwaan, satukan kami di dunia dalam ketaatan pada-Mu dan akhirat dalam Jannah-Mu yang kekal abadi.

 

Wahai Rabb Maha Kuat dan Perkasa, berkati negeri kami dengan pemimpin yang beriman pada-Mu, yang bertaqwa dan berakhlak mulia, serta penuh santun menyayangi kami kerena-Mu Ya Allah.

 

Ya Allah ampuni dan sayangi orangtua kami yang tercinta, izinkan kami berbakti pada mereka saat bersama di dunia ataupun jika mereka telah tiada, ridhakan hati mereka buat kami, agar kamipun menuai keridhaan-Mu.

 

Ya Allah kuatkan azam kami agar terus bersama menegakkan agama-Mu dan menyebarkan risalah-Mu. Satukan jiwa kami dalam cinta pada-Mu dan padukan langkah kami dalam membela syari’at-Mu.

 

Jadikan istri-istri kami bidadari di dunia ini bagi kami dengan keshalehan dan kecantikan jiwanya agar kami dapat membersamai mereka dalam ketaatan pada-Mu, jadikan kami suami yang terbaik bagi mereka dunia dan akhirat.

 

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلِّ اللّهم وَسَلِّمْ على نبينا محمد وعلي آله و صحبه أجمعين

 


 

Sumber: Khutbah Idul Adha 1437 H Wahdah Islamiyah

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: