DPW DKI Jakarta dan Depok

Meraih Kemuliaan dengan Sifat Jujur

0 191

Islam sangat menganjurkan umatnya untuk menghiasi diri dengan akhlaqul karimah, dan sangat mewanti-wanti dari akhlaq yang tercela. Rasulullah –shallahu alaihi wasallam– bersabda;

إِنَّ الرَّجُلَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ الْخُلُقِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ

Sesungguhnya seseorang dapat mencapai derajat [hamba] yang banyak berpuasa dan shalat dengan akhlaq yang mulia.[HR. Ahmad].

Bahkan dalam Islam akhlaqul karimah merupakan salah satu cermin dari kesempurnaan iman, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

Orang yang paling sempurna imannya adalah yang paling mulia akhlaqnya.[HR. Abu Dawud].

Hadits diatas menunjukkan bahwa akhlaq yang mulia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari iman, barang siapa yang berkomitmen dengan akhlaq yang mulia dalam berinteraksi maka hal tersebut menunjukan kesempurnaan imannya, dan barang siapa yang berinterkasi dengan akhlaq yang buruk, maka hal tersebut menunjukkan kelemahan imannya.

Keutamaan Akhlaq Jujur

Diantara akhlaq mulia yang sangat dianjurkan oleh Islam adalah ash-shidqu, yang dimaksud dengan kalimat ini adalah sifat jujur, makna lainnya adalah menyampaikan sesuatu sesuai dengan realita dan kenyataan tanpa ada penambahan dan pengurangan, atau antonim [lawan kata] dari alkadzib atau sifat dusta.

Puncak Akhlaq Mulia

Kejujuran merupakan puncak akhlaq yang mulia, dan tidaklah seseorang berhias dengannya kecuali dia akan beruntung di dunia dan di akhirat, dan sifat ini merupakan jalan yang dititi oleh orang-orang sholeh dari kalangan para Nabi dan Rasul, Allah berfirman:

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقاً نَبِيّاً

Ceritakanlah (wahai Muhammad) kisah Ibrahim dalam kitab (alqur’an) sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat membenarkan dan juga seorang nabi.[Maryam 41].

Sifat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

Jujur merupakan salah satu sifat utama Nabi Muhammad –shallallhu alaihi wa sallam– yang sangat menonjol sehingga masyhurlah dari beliau julukan al-Amin [yang dipercaya], Abdullah bin Mas’ud mengatakan:

حدثنا رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو الصادق المصدوق

“Rasulullah mengatakan kepada kami –sedangkan beliau adalah orang yang jujur dan dipercaya-.[HR. Bukhari&Muslim].

Allah Menyuruh Untuk Jujur

Diantara keutamaan lain dari sifat ini adalah Allah memerintahkan memerintahkan kepada sifat ini. Allah Ta’ala berfirman:

يا أيها الذين أمنوا أتقوا الله وكونوا مع الصادقين

“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah, hendaknya kamu bersama orang-orang yang benar [jujur]. [Qs. At-Taubah 119].

Jujur Mmbawa Kepada Kebaikan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقاً وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّاباً

Sesungguhnya sifat jujur membawa kepada kebaikan, dan kebaikan memasukkan ke surga, dan sesungguhnya sesorang berusaha untuk bersifat jujur sampai menjadi orang yang jujur, sesungguhnya sifat dusta membawa kepada perbuatan keji, dan perbuatan keji memasukkan [seseorang] ke neraka, dan seseorang berusaha untuk berdusta sampai menjadi pendusta.[HR. Bukhari&Muslim].

Hadits ini menunjukkan keutamaan dan kemuliaan sifat jujur, bahwa sifat ini merupakan salah satu amalan yang dapat membawa seseorang melaksanakan kebaikan-kebaikan dengan mudah, dan ini sesuai dengan ucapan sebagian ulama kita:

جزاء الحسنة حسنات التي بعدها وجزاء السيئة سيئات التي بعدها

Ganjaran bagi [pelaku] kebaikan adalah [mudahnya baginya] melaksanakan kebaikan setelahnya, dan ganjaran bagi [pelaku] keburukan adalah [mudahnya bagi] melaksanakan keburukan setelahnya.[syarh kitabut tauhid karya Abdullah alghaniman].

Rumah di Surga Bagi Orang Jujur

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjanjikan rumah di tengah surga bagi orang yang jujur dan menjauhi dusta. Beliau bersabda:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِى رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِى وَسَطِ الْجَجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِى أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُق

Saya menjamin rumah di dalam surge bagi yang meninggalkan debat meskipun [dia] dalam keadaan benar, dan [menjamin] rumah di tengah surga bagi yang meninggalkan sifat dusta meskipun dalam keadaan bergurau, dan [menjamin] rumah di surga yang tertinggi bagi yang memperbaiki akhlaqnya.[HR. Abu Dawud].

Jujur Membawa Kepada Keberuntungan

Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan:

أربع من كن فيه فقد ربح‏:‏ الصدق والحياء وحسن الخلق والشكر‏

“Empat sifat bila berkumpul pada seseorang maka dia akan beruntung: sifat jujur, sifat malu, [berhias dengan] akhlaq yang mulia, dan sifat syukur.

Penulis : Ustad. Lukman Hakim, Lc, MA
Artikel : wahdah.or.id

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: