MERAIH KEUTAMAAN AKHLAK YANG MULIA (Part 2)

0 148

MERAIH KEUTAMAAN AKHLAK YANG MULIA (Part 2)

Keeman, semakin mulia akhlak seorang mukmin maka semakin besar pula kecintaan Rasulullah saw. kepadanya, Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّ أَقْرَبَكُمْ مِنِّيْ مَجْلِسًا أُحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقًا الْمُوْطِؤُوْنَ أَكْنَافًا الَّذِيْنَ يَأْلِفُوْنَ وَيُؤْلَفُوْنَ
“sesungguhnya orang yang paling dekat tempat duduknya denganku dari kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya, yang rendah diri, yang mudah bergaul dan diajak bergaul.” (HR. At-Thabrani dan dihasankan Al-Albani).

Selain kunci yang memudahkan untuk bergaul dengan orang lain atau diajak bergaul adalah sikap tawadhu’, kerendahan hati dan tidak angkuh terhadap orang lain. Utbah bin Amir pernah bercerita, suatu ketika seseorang datang menemui Rasulullah saw. Namun, saat Rasulullah saw. Mengajaknya bicara, orang tersebut malah gemetaran karena saking canggungnya berbicara dengan Rasulullah saw. Melihat itu, Rasulullah saw. menenangkannya seraya bersabda:
هَوِّنْ عَلَيْكَ، فَإنِيْ لَسْتُ بِمَلِكٍ، إنَّمَا أنَا ابْن امْرَأَةٍ تَأْكُلُ الْقَدِيْددَ
“Tenang saja! Aku bukanlah seorang raja, aku hanyalah anak dari seorang wanita biasa yang makan daging yang sudah dikeringkan” (HR. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Al-Albani).

Demikian seorang mukmin sejati, kehadirannya selalu dinanti, ketidakhadirannya selalu disayangkan dan disesali. Jangan sampai kita menjadi layaknya seburuk-buruk manusia, yang kehadirannya selalu disesali dan ketidakhadirannya hystru disenangi. Rasulullah saw. Bersabda:

إِنَّ شَرَّ النَّاسِ مَنْزِلَةً عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ وَدَعَهُ أَوْ تَرَكَهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ فُحْشِهِ
“sesungguhnya manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang dihindari oleh manusia karena takut kejelekannya.” (HR Muslim).

Ketujuh, Akhlak mulia akan membuahkan banyak pahala, lantaran kemudahan melakukannya, serta cakupannya yang sangat luas. Rasulullah saw. bersabda:

إنَّكُمْ لَا تَسَعُونَ النَّاسَ بِأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ لِيَسَعْهُمْ مِنْكُمْ بَسْطُ الْوَجْهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ
“Sesungguhnya kalian tidak bisa menarik hati manusia dengan harta kalian. Akan tetapi kalian bisa menarik hati mereka dengan wajah berseri dan akhlak yang mulia” (HR. Al Hakim dalam mustadroknya. Al Hakim mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Harta seseorang terbatas, sementara jumlah manusia sangatlah banyak, terrlebih lagi sifat kikir sudah terpatri pada naluri manusia, sehingga sulit untuk meliputi seluruh hati manusia dengan harta. Sedangkan akhlak mulia seperti senyum, sapaan yang baik dan lain sebagainya, ia sangat mudah untuk diaplikasikan dan sangat luas cakupannya, sehingga pahala yang diraihnyapun semakin banyak.

Kedelapan, akhlak mulia akan membuahkan pahala yang banyak, karena ia terkait dengan hubungan interaktif dengan sesama manusia.
Biasanya mayoritas waktu setiap manusiahabis untuk berinteraksi dengan sesama makhluk. Kesehariannya dipenuhi dengan muamalah kepada sesama makhluk, mulai dari keluarga terkedat, guru ataupun murid, rekan kerja, para pedagang ataupun pembeli dan yang lain sebagainya. Apabila seseorang mampu menanamkan akhlak mulia pada dirinya, sehingga itu tercermin dalam muamalahnya, maka seakan ia menghabiskan kesehariannya untuk mendulang pahala. (Fatawa Al-Sa’diyyah).

Kesembilan, Rasulullah saw. Sering berdoa meminta akhlak yang mulia. Rasulullah saw. Pernah berdoa:

اللَّهُمَّ أَحْسَنْتَ خَلْقِي فَأَحْسِنْ خُلُقِي
“Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memperindah rupaku maka perindahlah pula akhlakku.” (HR. Ahmad, Nasai dan Al-Baihaqi, dinilai shahih oleh Al-Albani)

Sebagian orang menyangkan bahwa doa ini adalah doa khusus bercermin, padahal doa ini merupakan doa yang umum, doa ini bisa dipanjatkan kapan saja, tidak hanya saat bercermin.

Rasulullah saw. Juga berdoa:
اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلاَقِ وَالأَعْمَالِ وَالأَهْوَاءِ
“Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari akhlaq, amal dan hawa nafsu yang mungkar.” (HR. Tirmidzi no. 3591, dishahihkan oleh Al-Albani)

Inilah keutamaan berakhlak dan berbudi pakerti yang baik, semoga kita termasuk di dalamnya, Allahumma aamiin…..

 

Oleh: Mursyidin Tamif, S.H.

(Dai Wahdah Islamiyah jakarta)

Leave A Reply

Your email address will not be published.