DPW DKI Jakarta dan Depok

Minum Air Rebusan, Sebagian Pengungsi Diserang Diare dan Batuk-Batuk

0 122

Minum Air Rebusan, sebagian pengungsi diserang diare dan batuk

Untuk sumber air  warga mengandalkan aliran air yang berasal dari gunung. Baik untuk mandi, masak hingga minum. Sebagian pengungsi diserang diare dan batuk-batuk.

(DONGGALA) wahdahjakarta.com – Gempa bumi disusul tsunami yang melanda  Palu, Donggala, Sigi dan sekitarnya, menyebabkan puluhan ribu warga kehilangan tempat tinggal. Mereka  memilih tinggal di tenda-tenda pengungsian.

Diantara mereka ada yang mencari dataran tinggi untuk menghindari gempa dan tsunami susulan. Mereka tinggal di perbukitan dengan membawa kebutuhan seadanya.

Salah satunya adalah warga Desa Sipi, Kecamatan Sirenja, Kabupaten Donggala. Mayoritas warga di desa ini menyelamatkan diri dan mendirikan tenda-tenda pengungsian di perbukitan.

Ketika Relawan LAZIS Wahdah melakukan penyisiran, untuk mencapai Camp pengungsian tersebut, relawan harus menempuh jalan sempit yang penuh dengan bebatuan dan semak belukar sejauh 3 kilometer.

Camp pengungsian warga di desa ini terletak di atas bukit, dikelilingi oleh hutan belantara. Kata warga setempat, untuk menghindari terjangan tsunami.

Mayoritas warga telah kehilangan rumahnya, ungkap Juliadi. Bahkan ketika gempa terjadi, karena melihat air laut yang mulai pasang, warga kemudian beramai-ramai berlari jauh ke dalam hutan hingga yakin keadaan telah aman.

“Kami sudah tujuh hari pak kesulitan mendapatkan bantuan, ada beberapa warga yang kami utus ke pusat pembagian bantuan, namun yang didapat hanya sedikit. Satu kepala keluarga hanya mendapatkan satu bungkus mie instan, dan satu kilogram beras,” ungkap Juliadi (33) yang mengungsi dan tinggal di tenda bersama seluruh anggota keluarganya, Ahad (7/10/2018)

Bahkan, tutur dia, sudah dua hari banyak warga yang kelaparan, karena akses menuju desa yang terputus beberapa hari.

“Saat awal gempa terjadi, kami masih memiliki uang, namun memasuki hari ke empat, uang kami habis dan terpaksa menjual dan menggadaikan barang-barang berharga yang kami miliki,” ujarnya.

Bahkan, Juliadi bersama istri harus menggadaikan cincin pernikahannya untuk membeli bahan makanan.

“Harta terakhir yang saya miliki adalah cincin itu pak, kalau kedepannya bagus rejeki, baru saya tebus,” pungkas bapak tiga anak ini.

Untuk sumber air, lanjutnya, warga mengandalkan aliran air yang berasal dari gunung. Baik untuk mandi, masak hingga minum. Sebagian pengungungsi diserang diare dan batuk-batuk.

Air ini berasal dari bukit di atas sana pak, disana ada perkampungan, sehingga pembuangan mereka suatu saat bisa ikut terbawa. Ini sudah banyak warga yang batuk-batuk dan diare,” ujarnya.

Jalur transportasi darat menuju desa ini terputus selama enam hari karena longsoran bukit yang menutupi badan jalan, namun dua hari terakhir telah berhasil dibuka karena kebutuhan warga yang sudah sangat darurat karena tidak masuknya logistik.

Warga setempat berharap, logistik yang disalurkan oleh LAZIS  Wahdah menjadi magnet untuk bantuan selanjutnya, termasuk yang  menjadi harapan warga  adalah pendirian hunian sementara yang memiliki kakus dan dapur umum. ()

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: