DPW DKI Jakarta dan Depok

Panduan Praktis I’tikaf #1#

I'tikaf
0 174
I’tikaf

Secara  harfiah #itikaf bermakna melazimi dan menekuni sesuatu tempat. Secara syar’i #itikaf adalah melazimi Masjid dan berdiam di dalamnya dengan niat ibadah & Taqarrub kepada Allah

Orang yang melazimi masjid dan berdiam di dlamnya dengan niat ibadah disebut ‘akif atau mu’takif, artinya orang yang beri’tikaf.

Hakikat i’tikaf adalah mengikat hati kepada Allah Ta’ala, berkhalwat denganNya serta memutus segala keterkaitan dengan selain Allah dan memutuskan hubungan dengan kesibukan yang melalaikan dari ibadah kepada Allah.

Jadi ketika beri’tikaf seorang mu’takif mengurung diri di masjid dalam rangka melakukan ketaatan kepada Allah dan berdzikir padaNya. Ia mengisolir diri dari segala kesibukan yang melalaikan dan memalingkan dari Allah. Ia memusatkan hati, jiwa, dan raganya dalam ketatan dan taqarrub kepada Allah.

Kedududukan I’tikaf

I’tikaf disyariatkan sebagaiaman ditunjukan oleh dalil Al-Qur’an, Sunnah, dan Ijma.

Allah Ta’ala berfirman;

وعهدنا إلى إبراهيم وإسماعيل أن طهرا بيتي للطائفين والعاكفين والركع السجود

Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku ‘dan yang sujud“. (Qs. Al-Baqarah: 125).

Dalam ayat lain Allah juga berfirman;

وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

(tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid.  (Qs. Al-Baqarah:187).

Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu a’nha berkata;

أن النبيَّ صلى الله عليه وسلم كان يعتكفُ العشرَ الأواخر من رمضان حتى توفاه الله، ثم اعتكف أزواجه من بعده؛ متفق عليه

“bahwa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan sampai beliau diwafatkan oleh Allah, kemudian istri-istrinya beri’tikaf sepeninggal beliau”. (Mutafaq ‘alaihi).

Beliau pernah meninggalkan i’tikaf di sepuluh terakhir Ramadhan, namun beliau mengqadhnya pada sepuluh hari di bulan Syawal.

Para Ulama juga sepakat (ijma’) tentang disyariatkan dan dianjurkannya i’tikaf.

I’tikaf Sebagai Penanda Iman

Beri’tikaf di masjid merupakan tanda iman. Sebab ia termasuk bagian dari memakmurkan masjid yang merupakan sifat orang beriman yang disebutkan oleh Allah dalam Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman;

إنما يعمر مساجد الله من آمن بالله واليوم الآخر

“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian”. (Qs. At-taubah: 18)

Di ayat ini Allah menegaskan dan mempersaksikan keimanan orang-orang yang memakmusrkan masjid. Memakmurkan masjid ada dua, secara fisik yakni membangun bangunan  fisik masjid dan secara maknawi yakni memakmurkan masjid dengan ibadah di dalamnya, seperti shalat, i’tikaf, tilawatul qur’an, dzikir, ta’lim, dan sebagainya.

Hukum I’tikaf

Pada asalnya hukum i’tikaf adalah sunnah, tidak wajib, dan tidak menjadi wajib melainkan jika dinadzarkan. Jika seseorang bernadzar akan beri’tikaf maka i’tikaf menjadi wajib orang tersebut sesuai waktu dan tempat dalam nadzarnya.

Umar bin Khathab bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang nadzarnya untuk beri’tikaf di Masjidil Haram. “Aku pernah bernadzar untuk beri’tikaf semalam di Masjidil Haram”, kata Umar. Lalu Nabi mengatakan kepadanya;

فَأوْفِ نَذْرِكَ

Tunaikanlah nadzarmu”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Waktu I’tikaf

Waktu i’tikaf tidak terikat dengan waktu khusus. Tetapi dianjurkan di setiap waktu, baik di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan. Tetapi di bulan Ramadhan lebih ditekankan. Dan lebih ditekankan lagi pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, berdasarkan praktik dari Nabio shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dimana beliau ber’tikaf dalam rangka mencari malam Lailatul qadar.

Namun saat ini i’tikaf di sepuluh malam terakhir Ramadhan menjadi sunnah yang asing. Padahal ia merupakan salah satu amalan yang tidak pernah ditinggalkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mari hidupkan sunnah i’tikaf sebagai salah satu wujud cinta kita kepada sunnah Rasul yang mulia.  –sym- []

Bersambung insya Allah.

 

 

 

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: