DPW DKI Jakarta dan Depok

Penjelasan Singkat Hadits Puasa [03]: Menetapkan Awal Mulai Puasa dengan Ru’yatul Hilal

Ilustrasi Hilal
0 126
Ilustrasi Hilal

Penjelasan Singkat Hadits Puasa [03]: Menetapkan Awal Mulai Puasa dengan Ru’yatul Hilal

Kitab Shiyam Bulughul Maram Min Adillatil Ahkam
Hadits ke-3 dan ke-4 [618]

 620 وعنْ ابنِ عُمُر – رضي الله عنهما – قال: سمعتُ رسولَ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – يقول: “إذا رأيتموهُ فصُوموا وإذا رأَيتموهُ فأَفِطروا، فإن غُمَّ عليكمْ فاقْدرُوا لـه” متّفقٌ عليه

ولمسلمٌ: “فإن أُغْمِيَ عليكم فاقُدُرُوا لـه ثلاثين” وللبخاري ” فأَكْملوا العِدة ثلاثين”.

621- ولهُ في حديث أَبي هُريرةَ – رضي الله عنه -: “فأَكْمِلُوا عِدّةَ شعْبان ثلاثين”.

 

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Jika kalian telah melihatnya (hilal) maka berpuasalah, dan jika kalian telah melihatnya (hilal syawal) maka beridul fitrilah, dan jika kalian terhalangi awan maka perkirakanlah” (Muttafaq ‘alaihi)

Dalam riwayat Imam Muslim berbunyi, “Jika kalian terhalangi awan maka perkiraanlah bulan (berjalan;sya’ban atau Ramadhan) tiga puluh hari”.

Dalam riwayat Bukhari berbunyi, “Sempurnakanlah tiga puluh hari”.

Dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, “Sempurnakanlah bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari”

Pelajaran Hadits:

Hadits ini merupakan dalil tentang wajibnya menetapkan awal masuknya bulan Ramadhan dan idul fitri (syawal) dengan terlihatnya hilal. Jika hilal 1 Ramadan tidak terlihat maka bulan Sya’ban dicukupkan tiga puluh hari, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sempurnakanlah bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari”.

 

Hadits ke-5[622]

 622- وَعَنْ ابْن عُمَرَ – رضي الله عنهما – قال: “تراءَى النّاسُ الهِلالَ فأَخبَرتُ النّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – أَنِّي رأَيْتُهُ فصامَ وأَمَرَ النّاس بصيامِهِ” رواهُ أبو داود، وصَحَّحَهُ الحَاكِمُ وابْنُ حِبَّانَ

 

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Orang-orang melihat hilal (1 Ramadan), maka aku sampaikan kepada nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa aku melihatnya (hilal), maka Beliau berpuasa dan menyuruh orang-orang untuk berpuasa”. (HR. Abu Daud, dishahihkan oleh Hakim dan Ibnu Hibban”.

Hadits ini meruapakan dalil bahwa kesaksian satu orang yang terpercaya yang melihat hilal dapat diterima dan sah sebagai dasar menetapkan masukanya 1 Ramadan. Hadits ini juga menjadi dalil absahnya beramal dengan khabar ahad (informasi yang disampaikan oleh satu orang) yang kredibel (‘adil) dalam masalah puasa.

Hadits ke-6 [623]

 وعن ابنِ عَبّاسٍ – رضي الله عنهما – أَنَّ أَعرابياً جاءَ إلى النبيِّ – صلى الله عليه وسلم – فقال: إنِّي رَأَيْتُ الهِلال، فقال: “أَتشهدُ أَنْ لا إله إلا الله؟” قال: نعم، قال: “أَتَشْهَدُ أنَّ محمداً رسول الله؟” قال: نعمْ، قال: “فَأَذِّنْ في النَّاس يا بلالُ أَنْ يَصُوموا غداً” رواهُ الخمسةُ وصحَّحَهُ ابن خزيمةَ وابن حِبَّانَ ورجَّح النسائي إرساله.

 

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, seorang Arab Badui datang kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengatakan, “Sungguh saya melihat hilal”. Nabi beratnya kepadanya, “Apakah kamu bersayahadat La Ilaha Illallah”? “Iya”, jawabnya. “Apakah kamu bersyahadat Muhammad Rasulullah?”, lanjut Nabi.  “Iya”, jawabnya lagi. Lalu Nabi berkata kepada Bilal, “Wahai Bilal, Umumkan kepada manusia untuk berpuasa besok”. (Diriwayatkan oleh lima perawi hadits dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban, Imam Nasai menguatkan bahwa hadits ini mursal).

Hadits ini juga merupakan dalil diterimanya hadits ahad dalam urusan puasa.

[sym]

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: