DPW DKI Jakarta dan Depok

Peramal Masa Depan?

0 279

PERAMAL MASA DEPAN?

(Majelis Tadarus Sirah Part 101)

Oleh: Ustadz Murtadha Ibawi

Bukan hanya ‘wahdaniyyah’ (keesaan) Allah saja yang mereka ingkari. Mereka juga tidak percaya akan adanya hari akhirat. Tidak masuk di akal mereka, orang mati bisa hidup kembali.

Bagi mereka, kehidupan ya di dunia ini saja. Setelah mati ya sudah. Tidak ada pertanggung jawaban. Mau pendosa mau alim ulama, tidak ada urusan. Mati ya mati, selesai.

“Mereka mengatakan, ‘Hidup itu hanyalah kehidupan kita di dunia ini saja. Kita tidak mungkin akan dibangkitkan kembali” (QS. Al An’am: 29)

Orang sudah mati. Tulangnya sudah hancur, sudah jadi tanah. Mana mungkin bisa hidup lagi?

Imam Ibnu Katsir menyebutkan kisah ketika di suatu hari Al ‘Ash bin Wa’il, pemuka Quraisy, mendatangi Nabi shallallau ‘alaihi wasallam. Riwayat yang lain menyebutkan yang datang adalah Ubay bin Khalaf. Keduanya sama-sama pemuka Quraisy.

Dalam genggamannya ada tulang-tulang kering, sudah hancur. Lalu dihamburkannya di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Tercerai berai.

“Wahai Muhammad! Engkau yang mengatakan bahwa Allah akan menghidupkan lagi tulang-tulang seperti ini?”

“Betul. Allah akan mematikanmu, lalu kelak akan membangkitkanmu kembali. Kemudian engkau akan digiring ke neraka.”

Seketika turunlah wahyu..

“Tidakkah manusia memperhatikan bahwa Kami telah menciptakannya dari setitik mani? Tiba-tiba dia menjelma menjadi penentang yang nyata!” (QS. Yasin: 77)

“Dia membuat perumpamaan bagi Kami, dan dia lupakan penciptaan dirinya? Orang itu berkata, ‘Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang yang telah hancur?’ (QS. Yasin: 78)

“Katakanlah (wahai Muhammad), ‘Yang akan menghidupkannya adalah Dzat yang telah menciptakan kamu pertama kali dulu. Dia Maha Mengetahui terhadap semua makhluq” (QS. Yasin: 79)

Kalau Allah sudah pernah menciptakan dari yang tidak ada menjadi ada, mengapa tidak bisa mengulanginya lagi? Dari tidak ada menjadi ada, itu saja mudah bagi Allah. Bagaimana kalau sekedar mengulangi?

Bagi mereka, keyakinan tentang adanya kehidupan setelah kematian adalah kebodohan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan orang-orang beriman menjadi sasaran bully.

“Dan orang-orang kafir itu berkata, ‘Maukah kami tunjukkan kepada kalian seorang laki-laki yang mengabarkan bahwa jika badan kalian telah hancur lebur, kalian akan dibangkitkan menjadi makhluk yang baru lagi?” (QS. Al An’am: 7)

Itu hinaan-hinaan mereka.

Mereka beranggapan, setelah mati tidak ada kehidupan lagi. Tidak ada pertanggung jawaban.

Maka tidak heran, orang-orang seperti akan dengan entengnya merampok kekayaan negeri. Tidak segan korupsi. Menipu rakyat. Menghalalkan berbagai cara untuk meraih apa yang jadi ambisi.

Padahal tidak seperti itu. Masing-masing akan dimintai pertanggung jawaban.

Bumi beserta isinya ini sudah Allah tundukkan bagi manusia. Semua akan dimintai pertanggungjawaban.

Di jalan mana ia manfaatkan? Jalan taqwa atau jalan dosa?

Tidak adil jika setelah mati, orang baik disamakan tempatnya dengan orang jahat. Adil itu, masing-masing dimintai pertanggung jawaban, lalu diberikan balasan.

“Maka apakah patut, Kami samakan kedudukan orang-orang muslim dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Mengapa kalian berbuat demikian? Bagaimana bisa kalian menimbang keputusan (zhalim) semacam itu?” (QS. Al Qalam: 35-37)

Lebih tidak masuk di akal mereka, jika yang bicara soal hari akhirat itu adalah orang yang belum pernah kesana.

“Belum pernah mati kok bisa cerita? Memangnya anda bisa meramal masa depan?

Seperti itulah kira-kira jalan fikiran mereka. Dari dulu hingga kini dan nanti, orang-orang seperti ini akan terus ada.

Referensi:

  • As Sirah An Nabawiyah Ash Shallabi
  • dll

Penulis : Murtadha Ibawi (Pendiri Majelis Tadarus Sirah dan pengajar Sekolah Sirah Jakarta)

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: