DPW DKI Jakarta dan Depok

Perdana Bersama WIZ, Pemuda Pangandaran Sukses Gelar Silaturrahim Muslimah

0 363

 

(PANGANDARAN) Wahdahjakarta.com – Bertepatan dengan perayaan kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-75, Pemuda Hijrah dan Forum Pemuda Masjid Al Ishlah Cikembulan, Pangandaran melakukan Silaturrahim Muslimah Hijrah pertama pada Selasa (18/8). Silaturrahim yang bertemakan “Muslimah Mensyukuri Kemerdekaan” didukung oleh WIZ berjalan lancar yang dirangkaikan dengan tausyiah yang dibawakan oleh asatidz asli Pangandaran yaitu KH Zainal Muttaqin dan Ustadz Irwan Kadar, Lc.

Acara yang dihadiri lebih dari 50 an muslimah Pangandaran ini diadakan di Restoran Baralak Cikembulan. Acara dimulai dengan pemaparan materi dari KH Zainal Muttaqin, seorang dai kondang di Pangandaran. Ia menyampaikan pentingnya arti hijrah dari kebodohan menuju kepintaran dan dari sesuatu yang biasa-biasa saja menjadi luar biasa.

Pada sesi kedua tausyiah diisi oleh Ustadz Irwan Kadar Lc yang merupakan alumni Universitas Islam Madinah juga seorang dai asli Pangandaran. Ia menyampaikan tentang bagaimana ikhtiar dalam mensyukuri kemerdekaan dengan melakukan perubahan di setiap zaman melalui ilmu dan juga saling ta’awun antar para muslimah dan kaum muslimin.

Peserta yang mengikuti acara ini sangat antusias mendengarkan dan menyimak materi dari pukul 09:00 – menjelang dhuhur. Untuk merangsang kedekatan emosional di antara peserta dan menambah semangat mereka, panitia menyiapkan game yang di pandu oleh Ummu Santi S.Si yang merupakan penanggungjawab pengembangan SDM di lembaga Muslimah Wahdah Jakarta.

Menurut Yudi Wahyudi, mawakili WIZ melihat kegiatan ini sangat bagus diadakan di momen yang bersejarah bagi bangsa Indonsesia untuk mengingatkan kembali muslimah khususnya pemudinya yang merupakan ibu bagi anak-anak mereka tentang makna kemerdekaan yang sebenarnya dan cara mengisinya.

Peserta yang mengikuti acara ini cukup beragam, dari usia 20 an sampe usia 50 an. Walaupun berbeda usia tetapi gelora semangat mereka dalam mengikuti acara ini sama. Tidak heran para peserta banyak yang bertanya secara lisan maupun tulisan yang disediakan oleh panitia.

Pada sesi akhir, panitia menyediakan bingkisan untuk peserta berupa buku yang mana kedepannya akan menjadi acuan untuk kajian selanjutnya yaitu berupa buku penerjemah Al Qur’an dan panduan belajar Al Qur’an secara mudah dengan metode Dirosa.

“Kami cukup antusias mengikuti acara ini akan tetapi kedepan barangkali perlu sedikit diberikan motivasi yang lebih banyak karena yang muda – muda terkadang canggung ketika disatukan atau digabungkan dengan ibu-ibu”, tutur salah seorang peserta. [yd/rsp]
**

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: