DPW DKI Jakarta dan Depok

Puasa Enam Hari di Bulan Syawal Seperti Puasa Setahun

0 458

 

 

Syawal merupakan bulan berkah. Ia juga merupakan bulan ketaatan dan ibadah, karena merupakan  permulaan bulan haji. Pada bulan ini terdapat sunnah puasa enam hari, qadha i’tikaf dan puasa.

Disyaritkan puasa enam hari di bulan Syawal setelah bulan Ramadhan. Pahala puasa Ramadhan ditambah puasa syawal sama dengan puasa setahun. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam;

من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر

“Siapa yang puasa Ramadhan kemudian mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun penuh”. (HR. Muslim).

Dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapa yang berpuasa Ramadhan, maka puasa sebulan sama dengan sepuluh bulan, dan puasa enam bulan di bulan Syawal sama dengan puasa dua bulan, sehingga sempurna setahun, karena “Siapa yang berbuat baik maka baginya sepuluh kali lipat [Qs. Al-An’am: 160”. (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan Ibnu Khuzaimah).

Para Ulama Hanabilah dan Syafi’iyah mengatakan, puasa enam hari di bulan Syawal  setelah puasa Ramadhan setara dengan puasa wajib selama setahun.

Diantara faedah dan manfaat puasa syawal adalah sebagai penambal dan pelengkap kekuarangan pada puasa Ramadhan. Sebagaimana fungsi puasa sunnah sebagai penambal dan pelengkap kekurangan pada shalat wajib.

Qadha Dulu Baru Puasa Syawal

Sebaiknya dan lebih afdhal jika seseorang menyelesaikan kewajiban qadha hutang puasa tersebih dahulu baru melaksnakan puasa enam hari di bulan Syawal. Agar ia terlepas dari beban dan tangguang jawab yang wajib, yakni menyelesaikan dan menyempurnakan puasa Ramadhan.

Hal ini sejalan dengan teks hadits Nabi, “Kemudian mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal”, yang menunjukan bahwa harus menyempurnakan puasa Ramadhan terlebih dahulu. Kemudian melakukan puasa enam hari Syawal setelahnya.

“Karena tidak terpenuhi  maskud mengikuti puasa Ramadhan dengan puasa Syawal melainkan menyempurnakan puasa Ramadhan terlebih dahulu”. (Fatwa Lajnah Daimah, 10/392)

Boleh Tidak Berurutan

Boleh melaksanakan puasa Syawal tanpa berurutan, sesuai kondisi dan kemampuan seseorang.  Jika diakhirkan di pertengahan bulan Syawal atau di pekan terakhir tidak mengapa. Khususnya bagi mereka yang mendapat kunjungan banyak tamu dari kerabat, handai tolan, dan kolega di pekan-pekan pertama Syawal. –sym- []

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: