DPW DKI Jakarta dan Depok

Qawaid Quraniyyah [01]: Bertutur Katalah yang Baik Kepada Manusia

Qawaid Quraniyyah [01]: Bertutur Katalah yang Baik Kepada Manusia
0 728

Qawaid Quraniyah

Qawaa’id Qur’aniyyah adalah hukum-hukum universal (menyeluruh-red) yang bersifat pasti yang diambil dari nash – nash Al Qur’an. Sedangkan Qaidah adalah prinsip yang diatasnya berdiri beberapa masalah dan cabang – cabangnya yang berarti mencakup beberapa tema.

Sisi kemukjizatan Al Qur’an bak lautan tak bertepi,termasuk sisi kemukjizatan yang terkandung dalam Al Qur’an adalah makna agung dibalik kalimat-kalimatnya yang tersimpan petunjuk – petunjuk ilmiah,  keimanan dan pendidikan yang membentuk suatu rumusan kaidah – kaidah dalam al Qur’an.

Ciri utama keistimewaan kaidah -kaidah Al Qur’an adalah cakupannya yang menyeluruh dan maknanya yang luas yang tidak hanya menyoroti suatu tema tertentu saja, tetapi mencakup semua tema dalam kehidupan manusia.   Qawaidul Qur’aniyyah merupakan kumpulan tema – tema alQur’an mengenai kehidupan.

Bertutur Kata Yang Baik 

Qawaid Quraniyyah
Qawaid Quraniyyah [01]: Bertutur Katalah yang Baik Kepada Manusia

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا (البقرة:٨٣

“Dan bertutur katalah yang baik kepada manusia” (QS.al Baqarah :83)

Manusia adalah mahluk sosial yang tak bisa lepas dari interaksi dengan sesamanya. Interaksi yang intens dalam kehidupan sehari-hari beimplikasi pada seringnya bergaul dengan banyak orang yang memilki sifat, dan pemahaman yang beragam. Sehingga nyaris tak tak dapat dihindari mendengar perkataan yang baik atau selainnya, melihat sesuatu yang memancing reaksi perasaan, dan sebagainya. Oleh  karena itu kaidah ini merupakan rambu-rambu dalam bertutur kata dan interaksi verbal.

Kaidah ini disebutkan berulang kali dalam banyak ayat  al-Qur’an, baik secara tersurat maupun tersirat. Memberi rambu – rambu interaksi dengan sesama yaitu menggunakan ungkapan – ungkapan yang baik.

Dalam kehidupan sehari – hari kita akan selalu berinteraksi dengan berbagai kalangan. Baik dengan sesama muslim maupun   dengan non muslim, dengan yang lebih tua maupun yang lebih muda atau sebaya, dengan orang – orang yang baik ataupun yang jahat, dengan orang – orang terdekat (suami, isteri, orang tua dan anak – anak) dan juga dengan orang – orang yang yang berada dalam tanggungan kita (pembantu,  karyawan dsb). Dalam  interaksi ini kita membutuhkan “tutur kata yang baik”.

Menurut para ulama,  tutur kata yang baik mencakup cara penyampaiannya yang baik dan kontennya yang baik pula.

Penyampaian yang baik harus dengan halus dan beradab,  bukan dengan suara keras dan membentak – bentak.

Sedangkan konten yang baik haruslah berisi hal – hal yang positif. Karena tutur kata yang baik harus positif,  dan setiap tutur kata yang positif harus disampaikan dengan cara yang baik.

Kita akan menemukan beberapa ayat yang merupakan penerapan praktis kaidah (bertutur kata yang baik) ini, diantaranya:

1.Cara berinteraksi dengan kedua orang tua tidak boleh membentak – bentak tapi harus bertutur kata yang santun kepada mereka.

وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

“Dan janganlah engkau membentak keduanya,  dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik (QS.al Isra’ :23)

2.Bersikap santun dengan peminta – minta dan orang yang membutuhkan ;

وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ

Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya (QS.Adh Dhuha:10)

Menurut sebagian ulama ayat ini berlaku umum yang mencakup orang yng meminta berupa uang atau ilmu,  jangnlah mengusirnya tetapi berilah sedikit saja atau tolaklah dengan tutur kata yang baik.

  1. Kepada orang jahil

Sebagaimana pujian Allah terhadap “Ibad Ar-Rahman (hamba – hamba yang baik)

وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

“Dan apabila orang – orang bodoh menyapa mereka (dengan kata – kata yang menghina)mereka mengucapkan salam (kata – kata keselamatan) .(QS.al-Furqan:63)

Menurut Ibnu Jarir at Thabari, ” jika orang – orang yang tidak mengenal Allah itu menyapa para hamba Allah yang baik dengan kata – kata yang tidak disukai,  maka mereka menjawabnya dengan perkataan yang mulia dan tutur kata yang baik.

Mereka bertutur kata yang baik bukan karena lemah atau kalah, melainkan mereka dalam posisi kuat dan menang. Mereka tidak mau membuang – buang waktu dan energi dengan hal – hal yang tidak patut,  karena orang – orang mulia seperti mereka hanya menyibukkan dirinya pada hal – hal yang mulia dan lebih penting.

Namun sayang,  fenomena yang terjadi didalam kehidupan umat al Quran sendiri adalah tidak efektifnya kaidah ini.

  • Kaidah ini meluap begitu saja saat berinteraksi dengan orang tua.
  • Tidak berlakunya kaidah ini diantara pasangan suami isteri
  • Mandegnya kaidah ini saat bersama anak – anak.
  • Hilangnya kaidah ini saat bersama pembantu dan karyawan.

Justru banyak misionaris yang menggunakan kaidah ini  untuk menarik simpati orang – orang miskin agar memeluk agama mereka. Bukankah  umat Islam  yang lebih berhak mengamalkan kaidah ini untuk menarik seluruh manusia  kepada agama yang diridhai Allah?

Surat al Isra’ memperingatkan kita akan suatu bahaya karena tidak mempraktekan kaidah ini dalam keseharian kita. Allah berfirman:

ۚ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُم

“….sungguh setan itu (selalu) menimbulkan perselisihan diantara mereka….”(QS. al Isra’:53)

Jadi orang yang diuji mendengar omongan yang menyakitkannya maka dia harus berusaha sabar menerimanya,  mengimbangi tindakan bodoh dengan kebijaksanaan,  dan membalas perkataan yang menyakitkan dengan tutur kata yang menyejukkan.

Sumber :  “50 Kaidah Kehidupan dalam Al-Qur’an” karya DR.Umar Bin Abdullah Al-Muqbil *

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: