DPW DKI Jakarta dan Depok

SAJAK WANITA TUA

0 388

SAJAK WANITA TUA

(Tanggapan Puisi  Sukmawati)

Tiba-tiba saja,
Seorang wanita tua bersajak.
Sajaknya adalah sajak terburuk di dunia.
Sajak seorang manusia uzur
yang tidak lama lagi terbujur di liang kubur.

Sungguh tragis engkau, wahai ibu tua…
Memproklamasikan kebodohanmu di mata dunia.
Ironisnya,
engkau bangga dengan kebodohanmu.
Bangga tidak kenal Syariat Allah.
Apa ada kebanggaan
yang lebih bodoh dari itu?

Aku menangis prihatin untukmu, wahai ibu tua…
Dengan nafasmu yang tinggal sepotong-sepotong,
Dengan mulutmu yang bergetar dimakan usia,
Dengan kebanggaan masa lalumu yang tlah lama terkubur:
Kau berusaha memadamkan Cahaya Sang Mahabesar…
Seolah kau pernah berhasil
memadamkan sinar mentari-Nya.

Sungguh kasihan engkau, wahai ibu tua…
Pandangan matamu semakin kabur
Tapi kau masih belum mengerti juga:
bagaimana kau seharusnya menutup umur.
Di saat mana kau harusnya banyak bersujud,
Kau malah menantang pongah perintah Sang Penciptamu.

Miskin, sungguh miskin engkau, wahai ibu tua…
Apakah kondemu akan selamatkan engkau,
dari dera siksa kubur dan himpitan tak terkira?
Apakah kau masih bisa melagukan kidungmu,
saat Malaikat Maut berdiri di sisi pembaringanmu?

Kasihan sungguh kasihan wanita tua itu…
Ayahnya mengawali negeri ini dengan Rahmat Allah,
tapi hari ini,
dengan konde dan kidungnya ia menantang Allah.

Semoga Allah masih kasihan padamu, wahai ibu tua…
masih memberimu detik terakhir
untuk bertaubat penuh sungguh.

Semoga Allah masih kasihan padaku dan keturunanku:
agar tak jadi Si Pandir-Pongah
yang tak sadar diri bahwa ia hamba yang lemah dan payah.
Amin.

Akhukum,
Muhammad Ihsan Zainuddin
t.me/mihsanzainuddin

Tinggalkan komentar Anda dengan kata-kata yang sopan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: